Penulis: Putu Ratna
TVRINews, Bangli
Keberadaan ikan Red Devil sebagai spesies invasif di Danau Batur kian mengkhawatirkan. Populasinya yang terus meningkat dinilai mengancam kelestarian biota endemik serta keseimbangan ekosistem perairan di kawasan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) pun menggencarkan berbagai upaya pengendalian. Langkah ini dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk nelayan dan pembudidaya ikan di sekitar danau.
Salah satu strategi yang diterapkan adalah mengirim hasil tangkapan ikan red devil ke sentra pengolahan ikan di Pengambengan. Di lokasi tersebut, ikan red devil diolah menjadi bahan baku tepung ikan yang memiliki nilai ekonomis.
Kepala Dinas PKP Kabupaten Bangli, I Wayan Sarma, mengatakan bahwa sejak kerja sama pengiriman dimulai pada Februari 2026, hasil yang dicapai cukup signifikan.
“Sejak dimulainya kerja sama pada Februari lalu, hingga saat ini lebih dari 18 ton ikan red devil telah berhasil dikumpulkan dan dikirim untuk diolah,” kata I Wayan Sarma, Selasa, 14 April 2026.
Menurutnya, langkah ini tidak hanya bertujuan mengurangi populasi ikan invasif, tetapi juga mendorong partisipasi masyarakat untuk aktif menangkap ikan tersebut secara berkelanjutan.
Selain itu, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam pengendalian populasi ikan red devil yang berkembang pesat di Danau Batur. Para nelayan dan pembudidaya ikan merasakan langsung dampak negatif dari keberadaan spesies ini.
Salah satu pembudidaya ikan di Danau Batur, I Gede Sagita, mengungkapkan bahwa ikan red devil sangat merugikan karena memangsa ikan-ikan lokal.
“Ikan ini sangat merugikan karena memangsa anak ikan asli Danau Batur. Kami berharap program seperti ini bisa terus berlanjut,” katanya.
Sebagai informasi, ikan red devil (Amphilophus labiatus) merupakan spesies ikan air tawar yang dikenal agresif dan cepat berkembang biak. Spesies ini bukan berasal dari ekosistem Danau Batur, sehingga keberadaannya mengganggu rantai makanan alami dan mengancam populasi ikan endemik.
Danau Batur sendiri merupakan salah satu danau vulkanik terbesar di Bali yang memiliki peran penting, baik sebagai sumber air, kawasan perikanan, maupun penopang pariwisata di wilayah Kintamani. Kerusakan ekosistem danau akibat spesies invasif berpotensi menimbulkan dampak ekologis dan ekonomi dalam jangka panjang.
Untuk itu, Dinas PKP Bangli berkomitmen terus mengintensifkan koordinasi dengan berbagai pihak guna memastikan rantai pasok dan pemanfaatan ikan red devil berjalan optimal. Dengan adanya pasar pengolahan, diharapkan masyarakat semakin termotivasi untuk menangkap ikan tersebut.
Upaya berkelanjutan ini diharapkan mampu menekan populasi ikan red devil secara signifikan, sekaligus menjaga kelestarian biota endemik dan keseimbangan ekosistem di Danau Batur.
Editor: Redaktur TVRINews





