Jakarta, VIVA – Penelitian arkeologi terbaru kembali membuka tabir kehidupan manusia purba yang hidup puluhan ribu tahun lalu. Temuan ini bukan hanya mengungkap bagaimana mereka bertahan hidup, tetapi juga menyajikan sisi kelam tentang kematian yang tak selalu damai.
Di balik kehidupan sederhana, manusia purba ternyata hidup dalam tekanan besar dari lingkungan. Ancaman datang dari berbagai arah, mulai dari bencana alam hingga predator ganas yang bisa menyerang kapan saja.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah mengungkap temuan penting di kawasan Afar Rift, Ethiopia. Ribuan artefak batu, sisa hewan, hingga fosil manusia berusia sekitar 100.000 tahun berhasil ditemukan di lokasi ini.
Situs yang dikenal sebagai Halibee archaeological site menjadi sorotan karena menyimpan jejak aktivitas manusia purba secara terbuka, bukan di dalam gua seperti kebanyakan situs lainnya.
Para peneliti menjelaskan bahwa lokasi ini dulunya merupakan dataran banjir yang kaya sumber daya. “Selama hunian sementara yang berulang di lanskap yang kaya ini, manusia berbagi wilayah dengan berbagai jenis hewan,” tulis tim peneliti dalam studi tersebut, sebagaimana dikutip dari Science Alert, Rabu, 15 April 2026.
Temuan paling mencolok datang dari tiga individu manusia yang menunjukkan kondisi kematian yang sangat berbeda. Individu pertama ditemukan dalam kondisi relatif utuh. Para ilmuwan menduga jasadnya tertutup sedimen dengan cepat setelah meninggal.
“Kondisi tulangnya menunjukkan tubuh dikubur saat masih utuh, kemungkinan tidak lama setelah kematian,” ungkap peneliti.
Individu kedua hanya menyisakan fragmen kecil dan gigi yang menunjukkan tanda-tanda terbakar. Namun hingga kini, penyebab pastinya masih belum diketahui. “Tidak mungkin untuk memastikan apakah ini akibat aktivitas manusia atau kebakaran alami,” tulis tim dalam laporan tersebut.
Nasib paling tragis dialami individu ketiga. Tulangnya menunjukkan kerusakan parah akibat serangan hewan. Peneliti mencatat adanya kerusakan luas akibat gigitan karnivora, dengan bekas tekanan gigi dan patahan tulang.
Selain fosil manusia, para ilmuwan juga menemukan berbagai alat batu yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Mayoritas alat tersebut dibuat dari batu lokal seperti basalt.





