Kunjungan kenegaraan Raja Charles III daro Inggris ke Amerika Serikat pada akhir April 2026, diproyeksikan menjadi momentum penting untuk meredakan ketegangan diplomatik antara Inggris dan Amerika Serikat di tengah konflik geopolitik global.
Dalam agenda tersebut, Raja Charles bersama Ratu Camilla dijadwalkan melakukan pertemuan privat dan jamuan teh dengan Donald Trump Presiden AS di Washington.
Pertemuan ini menjadi bagian dari rangkaian kunjungan empat hari yang dimulai pada 27 April 2026.
Pihak Istana Buckingham menyatakan kunjungan ini tidak hanya bersifat seremonial dalam rangka memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika dari Inggris, tetapi juga memiliki dimensi strategis di tengah hubungan yang tengah memanas.
“Kunjungan ini mengakui tantangan yang dihadapi Inggris, Amerika Serikat, dan sekutu di seluruh dunia. Ini menjadi momen untuk menegaskan kembali dan memperbarui hubungan bilateral demi kepentingan nasional Inggris,” ujar juru bicara Istana Buckingham.
Selain pertemuan informal, agenda resmi mencakup penyambutan kenegaraan di Gedung Putih, jamuan makan malam kenegaraan, serta pertemuan bilateral antara kedua pemimpin. Trump juga akan didampingi Melania Trump.
Dalam kunjungan tersebut, Raja Charles juga dijadwalkan menyampaikan pidato di Kongres AS, menjadikannya raja Inggris kedua yang melakukan hal tersebut setelah Queen Elizabeth II pada 1991.
Dilansir dari Reuters, rangkaian kunjungan akan berlanjut ke New York, di mana pasangan kerajaan akan bertemu keluarga korban serangan Serangan 11 September 2001.
Setelah itu, mereka dijadwalkan mengunjungi Virginia sebelum melanjutkan perjalanan ke Bermuda, wilayah seberang laut Inggris.
Di balik kemegahan kunjungan kenegaraan, pemerintah Inggris berharap peran “soft power” monarki dapat membantu meredakan ketegangan antara Trump dan Keir Starmer Perdana Menteri Inggris.
Hubungan kedua negara memang tengah diuji sejak Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu.
Trump secara terbuka mengkritik Inggris dan Starmer karena dinilai tidak memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer tersebut.
Trump bahkan melontarkan komentar tajam dengan menyebut Starmer “bukan Winston Churchill” serta meremehkan kekuatan militer Inggris.
Di dalam negeri Inggris, kunjungan ini juga menuai kritik. Pemimpin Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, secara terbuka menolak kunjungan tersebut.
“Trump adalah sosok berbahaya dan korup, dan kita harus memperlakukannya demikian,” kata Davey di parlemen. Ia juga mengaku khawatir terhadap posisi Raja Charles dalam kunjungan tersebut.
Menanggapi hal itu, Starmer menegaskan pentingnya hubungan jangka panjang antara kedua negara, serta peran monarki dalam menjaga kesinambungan diplomasi.
“Monarki, melalui hubungan yang dibangunnya, mampu menjangkau lintas dekade dalam situasi seperti ini,” ujar Starmer. (saf/ipg)




