Ketum PGI Tanggapi Pernyataan Jusuf Kalla, Sebut Bukan Murni Agama Tapi Distorsi Makna

disway.id
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID -- Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Jacky Manuputty menanggapi pernyataan Wakil Presiden ke10 dan 12, Jusuf Kalla (JK) yang disampaikan dalam kuliah umum di Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026 lalu.

Ia menilai pernyataan JK tersebut tidak sepenuhnya bersalah.

Ia mengakui bahwa pada masa konflik, agama memang kerap tampil dalam wajah yang terdistorsi.

BACA JUGA:TEMPO Minta Maaf Soal Cover Surya Paloh, Nasdem Menyambut Baik

Bahkan, legitimasi keagamaan seperti doa, kidung rohani, hingga pemberkatan tokoh agama kerap mendahului aksi kekerasan.

"Kita tidak dapat menutup mata bahwa pada masa itu agama memang tampil dengan wajah yang terdistorsi. Sebagai orang yang mengalami langsung dinamika konflik tersebut, saya menyaksikan bagaimana legitimasi keagamaan, doa, kidung rohani, hingga pemberkatan tokoh agama sering menjadi prasyarat sebelum kombatan turun ke medan konflik," kata dia dalam keterangannya, Rabu, 15 April 2026.

"Kata Shalom yang bermakna damai bahkan sering dipekikkan sebagai penyemangat di komunitas Kristen sebelum menuju ke area pertemuan," sambungnya.

Ia pun menyebut konflik yang sebetulnya berakar pada ketidakadilan sosial dan politik dipersepsikan sebagai 'konflik agama', sehingga kekerasan memperoleh aura moral dan sakral.

Jacky menyampaikan pengalaman konflik Poso dan Ambon menjadi pembelajaran bagi bahwa agama dapat menjadi korban dari situasi sosial-politik yang memburuk.

BACA JUGA:Gendeng! Ada Polisi yang Kendalikan Pabrik Narkoba Pil Jin 1,8 Ton di Semarang: Berpangkat Bharaka

"Saya yakin Jusuf Kalla memahami kenyataan ini sebagai orang yang ikut berperan dalam penyelesaian konflik di Maluku dan Poso," imbuhnya.

Meski demikian, ia menyebut ada bagian dari pernyataan Jusuf Kalla yang perlu diluruskan, terutama ketika Wakil Presiden ke10 dan 12 ini menyamakan konsep “syahid” dalam Islam dengan Kristen sebagai legitimasi untuk saling membunuh.

"Dalam tradisi Kristen, tidak ada doktrin yang menyatakan bahwa membunuh orang lain dapat menghasilkan status kesyahidan. Istilah yang sering digunakan dalam komunitas Kristen adalah “martir”, yang berarti kesediaan untuk menderita dan mati demi mempertahankan iman, bukan mati saat melakukan serangan," jelasnya.

Ia mengakui bahwa dalam konflik Maluku, istilah “martir” sempat mengalami pergeseran makna.

Namun hal itu bukan ajaran resmi gereja, melainkan distorsi yang muncul akibat situasi konflik dan tekanan identitas kolektif.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinergi Pemerintah dan Pengusaha Perempuan Diperkuat, Wapres Gibran Dorong Optimalisasi Program UMKM
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Marak 'Rayap Besi' di JPO, Pramono: Pasang CCTV dan Tindak Tegas Pelaku
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Laba Jamkrindo Syariah Melonjak pada 2025, Aset dan Ekuitas Ikut Menguat
• 17 jam lalubisnis.com
thumb
TikTok Nonaktifkan 780 Ribu Akun Anak di Bawah 16 Tahun di Indonesia
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Menuju 500 Tahun Jakarta, JAKIM 2026 Targetkan 50 Ribu Pelari
• 22 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.