Lapak Beli Emas di Trotoar Senen: Buka 24 Jam, Jual Tanpa Ribet

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Lapak jual-beli emas itu berdiri sederhana di pinggir Jalan Senen dan Jalan Senen III, Jakarta Pusat, tepat di area trotoar yang rindang oleh pepohonan.

Tidak ada papan besar atau etalase mewah seperti toko perhiasan pada umumnya.

Yang tampak justru sebuah kotak kaca kecil mirip akuarium mini, berbingkai aluminium, diletakkan di atas meja lapak yang dilapisi koran-koran bekas.

Di sisi kaca kotak itu tertempel tulisan mencolok berwarna kuning-merah bertuliskan “BELI EMAS”, penanda jelas bahwa lapak tersebut menerima transaksi emas langsung di tempat.

Bagian bawah kotak dicat biru kehijauan, sementara bagian atasnya terbuka dengan pintu kaca kecil yang bisa dibuka-tutup untuk aktivitas transaksi.

Di atas meja, suasana terlihat penuh barang-barang kecil khas pedagang emas jalanan, plastik klip transparan berisi butiran logam, batu uji berwarna hitam yang dipakai menggosok emas, serta botol-botol kecil berisi cairan penguji.

Baca juga: Peron 6–8 Stasiun Bogor Ditutup, Ini Alternatif Transportasi ke Jakarta selain KRL

Dua botol cairan itu disimpan dalam balok kayu tua yang sudah kusam, dengan angka yang ditulis tangan, 1 dan 2, menandai jenis cairan berbeda.

Botolnya kecil, bening, dengan ujung runcing seperti pipet, sehingga cairan bisa diteteskan sedikit demi sedikit ke bekas gosokan di batu uji.

Salah satu barang yang paling menarik perhatian adalah plastik klip berisi butiran perak, bentuknya seperti potongan kecil silinder kasar, belum diolah menjadi perhiasan.

Butiran itu memenuhi bagian bawah plastik, menciptakan bunyi khas logam kecil jika digoyang.

Di balik tampilan sederhana itu, berlangsung transaksi emas yang nyaris tak pernah berhenti.

Lapak ini, bersama beberapa lapak serupa yang berjajar di sekitar kawasan Pasar Senen, menjadi jalan pintas bagi warga yang ingin mencairkan perhiasan tanpa banyak prosedur.

Di tengah maraknya investasi emas digital dan toko perhiasan modern, lapak emas pinggir jalan tetap bertahan. Bahkan, beberapa di antaranya beroperasi 24 jam.

“Kalau di toko, biasanya kalau nggak ada suratnya mereka nggak mau beli. Nah, kalau di sini, walaupun nggak ada surat, kita mau beli,” kata Limbong (45), pedagang emas yang sudah 10 tahun menjaga lapak saat ditemui Kompas.com, Selasa (14/4/2026).

Limbong bukan pemilik utama usaha itu. Ia menyebut dirinya hanya penjaga lapak.

Namun, pengalamannya satu dekade cukup untuk membaca perubahan peta perdagangan emas informal di Senen.

Ia bercerita, lapak-lapak emas jalanan sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Dulunya, deretan pedagang bisa mencapai 30 orang.

Mereka berjajar panjang hingga mendekati rumah sakit. Kini, jumlah itu menyusut drastis.

“Dulu di sini penuh, bisa sampai 30 orang yang berjajar sampai ke arah rumah sakit. Sekarang tinggal sekitar sembilan orang saja di area Senen ini,” ujar Limbong.

Baca juga: Peron 6-8 Stasiun Bogor Ditutup, Penumpang Harus Berbagi Jalur hingga Terjadi Desak-desakan

Lapak yang dijaga Limbong pun terlihat memiliki bentuk yang nyaris seragam dengan pedagang lainnya, kotak kaca kecil di atas meja, batu uji, cairan asam, serta timbangan digital.

Menurut Limbong, bentuk lapak yang seragam itu memang ciri khas pedagang emas Senen sejak dulu.

“Iya, ciri khasnya dari dulu begini. Bedanya, kalau dulu pakai lilin, sekarang sudah pakai lampu kalau malam,” kata dia.

Pengujian emas sederhana

Proses transaksi di lapak emas pinggir jalan tidak memerlukan ruangan khusus. Pembeli dan penjual berdiri atau duduk berhadapan di trotoar, diapit suara kendaraan dan teriakan pedagang lain.

Saat ada orang datang membawa perhiasan, Limbong langsung meminta barang itu untuk diuji. Ia menggosok sedikit bagian emas ke batu uji berwarna hitam. Setelah itu, cairan asam diteteskan.

“Kita tes dulu, kita uji kadarnya berapa. Digosok di batu, pakai air penguji. Ada air menguji emas atau bukan, dan air menguji kadar emas ada dua jenis, Acid 1 dan Acid 2,” kata Limbong.

Cairan itu dikenal sebagai asam nitrat (nitric acid). Limbong menjelaskan, reaksi warna dari cairan tersebut akan membantu pedagang menilai apakah barang itu emas asli atau hanya lapisan.

Jika sudah diketahui kadarnya, 18 karat, 22 karat, atau 24 karat, barulah transaksi masuk ke tahap tawar-menawar harga.

Di atas meja lapaknya, timbangan digital kecil menjadi alat yang tak kalah penting. Tanpa itu, harga tidak bisa dipastikan. 

“Sekali transaksi saya bisa ambil Rp 200.000 lebih lah,” kata dia.

Namun, Limbong menekankan bahwa keuntungan itu tidak selalu stabil. Ada hari ramai, ada hari sepi.

Baca juga: El Nino Godzilla Mengintai Jakarta: Bukan Sekadar Gerah, Ancaman Kesehatan Ini Mulai Terlihat

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }
Harga pasar, tapi bisa nawar

Berbeda dari asumsi bahwa lapak jalanan menentukan harga sesuka hati, Limbong mengklaim tetap mengikuti harga pasar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Pesimis, Sammy Simorangkir Haru Bakal Gelar Konser Tunggal 2 Dekade Berkarya
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Sejumlah PJU Polres Jeneponto Sertijab, Kapolres Tegaskan Jaga Integritas
• 1 jam laluterkini.id
thumb
Vincent Kompany Puji Terobosan Union Berlin Tunjuk Marie-Louise Eta sebagai Pelatih Perempuan Pertama Bundesliga
• 6 jam lalupantau.com
thumb
KPK Dapat Info Soal Beredarnya Cukai Palsu: Masih Kami Dalami
• 17 jam laludetik.com
thumb
Baru Juga Timnas Indonesia U-17 Hajar Timor Leste, Vietnam Sudah Girang Yakin Lolos Mulus dari Grup Maut
• 15 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.