Seminar Tanggap Bencana, Menbud Tekankan Solusi Nyata Lindungi Cagar Budaya

detik.com
3 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api menjadikannya sebagai negara dengan risiko bencana tertinggi kedua di dunia. Belum lama ini, sebanyak 43 cagar budaya mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera pada akhir November 2025.

Oleh karena itu, diperlukan upaya edukasi mengenai pentingnya pemahaman masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan budaya terkait kebencanaan. Dalam rangka perlindungan cagar budaya yang berkelanjutan, Kementerian Kebudayaan RI (Kemenbud) menyelenggarakan seminar dan pameran bertajuk 'Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan' di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya menegaskan mitigasi kebencanaan menjadi salah satu fokus utama saat ini. Hal ini mengingat Indonesia merupakan bagian dari ring of fire atau Cincin Api Pasifik.

Ia menyebut, selama ratusan bahkan ribuan tahun, berbagai bencana telah terjadi sebagai konsekuensi sekaligus potensi dari posisi geografis Indonesia tersebut.

Ancaman terhadap cagar budaya pun dinilai sangat nyata, sebagaimana terlihat dalam berbagai bencana sepanjang 2025. Fadli mengungkapkan, banyak cagar budaya terdampak, mulai dari kerusakan ringan hingga berat, baik pada bangunan, situs, maupun elemen lainnya.

"Bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga non-alam, termasuk faktor manusia. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran dan kecintaan terhadap budaya dan alam agar tercipta keselarasan dan dapat mengurangi dampak bencana," ungkap Fadli, dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Selain itu, Fadli juga menyoroti jumlah Cagar Budaya Nasional (CBN) yang tercatat di Kemenbud. Ia mendorong percepatan penetapan cagar budaya secara signifikan agar upaya perlindungan dapat segera dilakukan.

"Kita harus mempercepat agar perlindungan dapat segera dilakukan. Banyak aset budaya yang belum ditetapkan sebagai cagar budaya, padahal memiliki nilai yang sangat penting, termasuk istana, situs sejarah, dan lainnya. Selain sebagai warisan budaya, ini juga memiliki potensi besar sebagai objek wisata, ekonomi budaya, dan industri budaya," jelasnya.

Fadli turut menyampaikan harapannya agar kedepan sistem perlindungan semakin baik, sehingga ketika terjadi bencana masyarakat sudah mengetahui langkah-langkah yang harus diambil, termasuk dalam mitigasi terhadap cagar budaya yang terdampak.

"Melalui seminar dan diskusi seperti ini, diharapkan muncul gagasan dan solusi yang konkret, serta kolaborasi nyata dalam upaya pelindungan dan pemajuan kebudayaan," jelasnya.

Sementara itu, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, hadir mewakili Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan penguatan kapasitas kelembagaan menjadi kunci dalam implementasi mitigasi bencana di sektor kebudayaan.

"Upaya pelestarian tidak cukup hanya pada aspek pemeliharaan, tetapi harus diiringi dengan kesiapsiagaan lembaga budaya dalam menghadapi risiko bencana. Oleh karena itu, pendekatan berbasis Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan warisan budaya," ujar Syukur.

Ia juga menekankan penyelenggaraan seminar nasional dan pameran ini merupakan bagian dari strategi penguatan ekosistem kebudayaan. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari komunitas, lembaga, hingga para ahli lintas bidang.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Fitra Arda, Pamong Budaya Ahli Utama Kementerian Kebudayaan, yang membawakan materi bertajuk 'Cagar Budaya Tangguh Bencana'.

Selain itu, Soehatman Ramli, profesional di bidang keamanan lembaga dan lingkungan, memaparkan topik 'Manajemen Bencana dan Kelangsungan Cagar Budaya Berbasis ISO 22301'. Sementara itu, arsitek sekaligus arkeolog Albertus Kriswandhono menyampaikan paparan berjudul 'Bencana yang Tidak Ada di Berita: Rob, Amblesan, dan Kehilangan Memori sebagai Ancaman Nyata bagi Warisan Budaya'.

Kegiatan seminar dan pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dan Yayasan Perisai Budaya Nusantara (YPBN) sebagai bentuk kerja sama lintas sektor. Acara ini turut dihadiri Ketua YPBN Hasanuddin beserta sejumlah anggota, perwakilan Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan, Tim Ahli Cagar Budaya, mahasiswa, serta masyarakat pemerhati museum dan cagar budaya.

Penyelenggaraan seminar dan pameran ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga mendorong terbentuknya jejaring kerja yang lebih solid antarpemangku kepentingan. Melalui kegiatan ini, Kementerian Kebudayaan berharap dapat menjadikannya sebagai titik awal penguatan kolaborasi dalam membangun sistem perlindungan cagar budaya yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Lihat juga Video: Kapolri Lepas 45 Brigade Tanggap Bencana KSPSI ke Sumatera




(prf/ega)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Telkom Dorong Inovasi AI di Lingkungan Kampus, Hadirkan Sinergi Lintas Industri
• 22 jam lalukumparan.com
thumb
BTN Jakarta International Marathon 2026 Ditargetkan Dongkrak Perputaran Ekonomi Tembus Rp200 Miliar
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Menhaj Tegaskan Kenaikan Penerbangan Haji Pakai Keuangan Negara
• 17 jam laluidxchannel.com
thumb
Video: India Siaga Krisis Energi, Cadangan Minyaknya Tersisa 30 Hari
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Nadiem Makarim: Perhitungan Kerugian Negara Direkayasa!
• 23 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.