REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rencana PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) menambah porsi saham beredar di publik (free float) belum akan terealisasi dalam waktu dekat. Meski ditargetkan naik menjadi 15 persen, peningkatan tersebut dipastikan tidak dilakukan tahun ini.
Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta mengatakan, perseroan tetap memiliki rencana menambah free float secara bertahap. Namun, langkah itu masih dalam tahap kajian dan bergantung pada keputusan pemegang saham.
Pasukan Elite Israel Terjebak di Ibu Kota Perlawanan, Komandannya Luka Parah
Komnas Perempuan: Candaan Seksis di Grup Privat Bukan Remeh, Itu Kekerasan Seksual
“Ada rencana ke arah sana. Paling tidak kita naikkan dulu bertahap, nanti ke 15 persen,” ujarnya ditemui usai Halal Bihalal Forum Group (FG) Ekonomi dan Keuangan Syariah PP-ISEI 2026 di BSI Tower Jakarta, Selasa (14/4/2026) sore.
Saat ini, porsi free float BSI tercatat sekitar 9,9 persen. Angka tersebut masih di bawah target baru yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni minimal 15 persen. Standar serupa juga menjadi acuan indeks global seperti MSCI.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Bagi investor ritel, peningkatan free float biasanya berdampak pada likuiditas saham. Semakin besar porsi saham di publik, semakin aktif pula transaksi di pasar. Kondisi ini membuat saham lebih mudah diperjualbelikan dan harga dinilai lebih mencerminkan kondisi pasar.
Bob menjelaskan, salah satu opsi yang tengah dikaji adalah melalui peran pemegang saham pengendali, yakni BPI Danantara. Namun, skema finalnya belum diputuskan.