HARIAN FAJAR, DEPOK – Skandal yang menyeret anak anggota polisi hingga aktivis kampus kini mengguncang dunia pendidikan. Sebanyak 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) jadi pelaku pelecehan verbal di grup WhatsApp terhadap mahasiswi bocor ke publik.
Keterlibatan figur-figur yang selama ini dikenal sebagai pelopor antikanker kekerasan seksual di kampus membuat publik terperangah. Tidak hanya mempertaruhkan reputasi, para mahasiswa tersebut kini harus berhadapan dengan ancaman sanksi akademik terberat, yakni Drop Out (DO).
Sidang tuntutan keadilan dari civitas akademika dalam sidang terbuka memanas. Momen paling memilukan sekaligus memancing amarah terjadi ketika nama Muhammad Kevin Ardiansyah dipanggil ke depan forum.
Kevin bukanlah mahasiswa biasa. Ia dikenal vokal, aktif, dan memegang posisi strategis di organisasi angkatan. Ironisnya, ia justru dituding sebagai salah satu motor penggerak percakapan yang merendahkan perempuan tersebut.
Seorang mahasiswa dengan suara bergetar menumpahkan rasa kecewa yang mendalam tepat di hadapan Kevin.
“Maju lu, tatap mata gua! Gue selama ini selalu berkonsultasi ke lu terutama masalah Kekerasan Seksual (KS), tapi nyatanya lu pelaku KS!” teriak mahasiswa tersebut, disambut riuh massa yang memadati ruangan.
Latar belakang keluarga Kevin pun tak luput dari sorotan tajam. Status orang tuanya yang merupakan anggota kepolisian memicu kekhawatiran publik akan adanya intervensi hukum dalam penyelesaian kasus ini.
“Gue ingat lu pernah bilang orang tua lu polisi. Kalian (15 pelaku lainnya) sanggup tidak bertanggung jawab tanpa intervensi orang tua kalian?” cecar mahasiswa tersebut dengan nada menantang.
Dalih Hanya Bercanda
Selain Kevin, sosok Valencia juga menjadi sasaran kritik pedas. Dalam klarifikasinya di tengah kepungan massa, ia berdalih bahwa komentar mesum yang ia tulis hanyalah upaya memancing diskusi dan bumbu candaan semata.
“Tujuan dari ucapan yang saya sampaikan adalah hanya sekadar menimbulkan diskusi di grup. Dari saya sendiri tidak ada niatan apa-apa di luar untuk bercanda-bercanda saja,” aku Valencia sebagaimana dikutip dari rekaman video yang beredar, Selasa (14/4).
Alih-alih meredakan situasi, pengakuan tersebut justru dianggap sebagai bentuk normalisasi pelecehan. Valencia mengaku tak kunjung meminta maaf secara pribadi karena terhalang rasa cemas. “Terkait hal tersebut, kenapa saya belum minta maaf, karena saya masih ragu dan merasa takut untuk me-approach teman yang saya sebut tersebut,” tambahnya.
Sanksi Drop Out di Depan Mata
Pihak Dekanat FH UI bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) UI menegaskan bahwa proses investigasi akan berjalan tanpa pandu bulu. Tim khusus tengah bekerja memverifikasi bukti digital dan melakukan pemanggilan saksi-saksi kunci.
Kampus kuning menjamin perlindungan penuh bagi para korban dan memastikan integritas proses disiplin. Jika terbukti melakukan pelanggaran berat terkait kekerasan seksual verbal secara terencana, sanksi akademik yang menanti sangatlah fatal.
Langkah tegas mulai dari skorsing hingga pemberhentian tidak hormat atau Drop Out (DO) kini menjadi ancaman nyata bagi ke-16 mahasiswa tersebut. Publik kini menanti keberanian UI dalam menegakkan hukum di rumah mereka sendiri, demi menjaga muruah “Kampus Perjuangan” dari tindakan nir-etika. (*)





