Sabtu (11/4/2026) pagi, Ines Handayani (53) berusaha mengingat kembali ketika anaknya yang pertama masih balita. Sejak usia dini, sang anak yang kini sudah berusia 28 tahun dan bekerja sebagai 3D modellers itu memiliki kebiasaan yang berbeda dibandingkan anak-anak lain seusianya.
Namun, itu tidak pernah benar-benar dianggapnya sebagai persoalan. Justru, itu dianggap sebagai keistimewaan yang dimiliki anaknya. Sejak kecil, anaknya punya perkembangan yang jauh di atas rata-rata. Ia berbicara lebih cepat, bertanya tanpa henti, dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Energinya pun seperti tidak pernah habis.
Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sering di luar dugaan. Ia bisa mempertanyakan hal-hal yang jarang dipikirkan anak seusianya. Ia bahkan pernah bertanya mengenai posisi Tuhan di antara galaksi.
Namun, di lain sisi, anaknya sangat mudah bosan dan berganti suasana perasaan. Ia juga mudah tantrum dan sangat kaku (rigid). Ia tidak mudah berubah rutinitas. Jika ada hal yang digemarinya, ia akan fokus pada hal itu dan dengan mudah memahaminya.
Anaknya juga mudah beralih minat dan impulsif. Ia juga mudah lupa urutan aktivitas sederhana. Bahkan, untuk rutinitas harian, seperti mandi, ia bisa melewatkannya. Kondisi itu terjadi sebagai pola yang berulang.
”Semua ciri itu awalnya saya pahami sebagai ciri khas anak dengan inteligensi tinggi. Kami tidak tahu bahwa di antara hal-hal lebih yang dia tunjukkan itu bersembunyi kondisi neurologis khusus yang baru kami ketahui sebagai ADHD,” kata Ines yang saat ini bermukim di Tangerang Selatan, Banten.
Awalnya, Ines memahami bahwa anaknya tersebut memiliki kondisi gifted atau cerdas istimewa. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, sejumlah tantangan mulai terasa. Prestasi akademik dari anaknya tidak mencerminkan kemampuan kognitifnya. Ia tampak biasa saja, bahkan cenderung di bawah potensinya.
Baru, setelah beberapa tahun berlalu, titik terang muncul. Anak Ines yang kedua didiagnosis ADHD saat berusia 18 tahun. Dari situlah, keluarga kembali membuka perjalanan kondisi anak pertamanya.
Dari berbagai pemeriksaan, akhirnya anak pertamanya didiagnosis ADHD pada usia 23 tahun. Meski terbilang terlambat, Ines merasa diagnosis tersebut telah membuka pemahaman baru akan kondisi anaknya.
”Kami baru paham bahwa ia (anak pertamanya) adalah anak dengan kondisi ganda atau twice exceptional dengan kondisi gifted komorbid. Ia memiliki keunggulan potensi inteligensi tinggi sekaligus memiliki ADHD,” tuturnya.
Dua kondisi yang berbeda tersebut bisa saling menutupi sekaligus saling menghambat. Potensi cerdas istimewa yang dimiliki tidak berkembang secara optimal karena kondisi ADHD. Begitu pula sebaliknya. Kondisi tersebut sangat kompleks sehingga tidak mudah dikenali tanpa pemahaman yang memadai.
Perjalanan Ines sebagai orangtua dengan anak yang didiagnosis ADHD di usia dewasa tidak mudah. Ines mengakui tantangan terbesar yang harus dihadapi yakni kesabaran. Orangtua dari anak dengan ADHD dilatih untuk bisa belajar mendampingi tanpa menghakimi.
Pengasuhan yang dilakukan pun bukan mengkritik, melainkan lebih reflektif. Ia belajar menerima sambil tetap mendampingi.
Pengasuhan yang dilakukan pun bukan mengkritik, melainkan lebih reflektif. Ia belajar menerima sambil tetap mendampingi. Tantangan semakin terasa karena saat itu tidak ada dukungan dari lingkungan. Sekolah pun tidak memberikan perhatian khusus. Keluarga terdekat juga tidak memahami kondisi anaknya.
Setelah banyak belajar secara mandiri dan menerima kondisi anaknya sebagai anak dengan kebutuhan khusus, Ines mulai menerima secara utuh. Itu pula yang menguatkannya sebagai orangtua.
”Bahwa apa yang mereka munculkan dari dirinya bukanlah akibat salah asuh, salah didik, kurang dilatih, bukan salah ortu, memang dirinya mewakili keragaman ciptaan Tuhan,” katanya.
Setelah memahami dengan baik, Ines sebagai orangtua bisa mendampingi anaknya untuk mengembangan potensi yang dimiliki dengan baik. Kemampuan berpikir, empati yang tinggi, dan keahlian di bidang yang disukainya terus dikembangkan.
Hingga kini, anak pertamanya itu menginjak usia 28 tahun dan bekerja sebagai 3D modellers. Pekerjaan ini dinilai sesuai dengan kemampuannya pada bidang visual spasial. Sementara anak keduanya sekarang berusia 22 tahun tengah melanjutkan studi di Kanada.
Perjalanan membimbing anak dengan ADHD tidak berhenti meskipun keduanya sudah berusia dewasa. Tantangan baru justru muncul saat tuntutan hidup di usia dewasa semakin kompleks. Dukungan pun masih diberikannya, terutama untuk memberikan navigasi pada hal-hal keseharian.
Ia tidak mengatur secara langsung, seperti ketika anaknya masih kecil. Saat ini, ia lebih banyak mengingatkan dengan cara berdialog. ”Besok kamu mau mengerjakan apa, prioritasnya apa? Saya ingatkan untuk fokus pada satu dua hal dulu,” katanya.
Selain itu, ia juga tetap mendampingi saat anaknya merasa kewalahan hingga burnout. Tidak jarang, gejala ADHD seperti barang yang sering tertinggal, terselip, dan lupa menyimpan barang terjadi. Jika hal itu terjadi, Ines memilih untuk tidak memarahi. Ia membantu mengingatkan dengan sabar.
Bagi dia, dukungan emosional sama pentingnya dengan bantuan praktis yang diberikan dalam mendampingi orang dengan ADHD. Ketika anaknya mengambil keputusan yang kurang tepat pun, ia berusaha untuk tidak bereaksi negatif yang dapat memperburuk kondisi anaknya. Orang dengan ADHD sudah kewalahan dengan dirinya sendiri sehingga sebisa mungkin tidak menambah beban yang dialami.
”Jadi konkretnya, kami sebagai orangtua perlu selalu ada untuk mendengar dan membantu support hal-hal kecil atau hal-hal yang membuat anak bingung. Masalah keuangan anak sudah mandiri, hanya perlu diingatkan untuk tidak impulsive spending,” tuturnya.
Ia juga berupaya menyikapi kondisi anaknya dengan baik. Jika rata-rata seusia anaknya sudah menikah dan mandiri secara penuh, Ines tidak mempermasalahkannya. ”Di sini bedanya, tetapi saya tidak membandingkan kondisi anak saya dengan anak mereka karena saya menerima anak saya punya kondisi khusus,” ujarnya.
Perjalanan mendampingi anak dengan ADHD juga dialami oleh Juliawati Harimu (44), warga Jayapura, Papua. Anaknya terdiagnosis ADHD saat berusia empat tahun. Sebelumnya, anaknya pun sempat didiagnosis epilepsi pada usia dua tahun.
Mengetahui kondisi tersebut, Juliawati mencoba berdamai dan menerima keadaan anaknya sepenuhnya. Saat itu, Juliawati menjabat sebagai kepala cabang bank milik badan usaha milik negara (BUMN) di Jakarta. Namun, demi fokus menjaga dan mengurus anaknya, ia berhenti dari pekerjaan tersebut. Hingga pada perjalanan berikutnya, Juliawati memutuskan pindah ke Jayapura.
Bagi Juliawati, kepedulian dan keterlibatan orangtua menjadi kunci agar anak bisa tumbuh lebih terarah hingga mencapai kemandirian. Ia meyakini, pendekatan yang tepat akan membuat kondisi anak semakin membaik.
”Karena saya percaya, rasa gembira dan bahagia adalah obat yang paling manjur. Itu yang selalu kami usahakan kepada Gio. Itu membuat kondisinya terus membaik,” ujarnya.
Ia pun percaya, di balik setiap keterbatasan selalu tersimpan kelebihan. Dari perjalanan bersama Gio, Juliawati melihat bagaimana dukungan keluarga dan lingkungan sekitar perlahan berubah menjadi apresiasi yang menguatkan.
Juliawati berharap, perjuangannya ini bisa dimaknai sebagai semangat bagi orangtua lain yang memiliki nasib serupa. Dia percaya, selalu ada hal-hal baik dari anak-anak spesial seperti Gio.
Hal ini, menurut Juliawati, akan tercapai melalui keterlibatan berbagai pihak. Itu mulai dari orangtua, lingkungan sekitar, pemerintah, hingga lembaga adat dan agama yang ikut mendukung perkembangan anak-anak spesial seperti Gio dan lainnya.
Itu pula yang diharapkan oleh Ines. Ia menilai sistem deteksi dini ADHD di Indonesia masih perlu diperkuat agar tidak ada lagi anak yang terlewat diagnosis seperti yang dialaminya. Selain itu, ia menekankan pentingnya kompetensi tenaga profesional dalam menegakkan diagnosis secara cermat dan bertanggung jawab.
Peran sekolah juga menjadi krusial. Pendidikan inklusif dinilai masih belum merata dan sering kali berbiaya mahal. Banyak anak yang akhirnya tidak mendapatkan dukungan yang layak.
”Banyak rekan orangtua yang anak-anak mereka tidak mendapatkan layanan dari sekolah, bahkan tidak dimengerti. Kecuali di beberapa sekolah swasta inklusi yang biayanya tinggi,” kata Ines.
Bagi Ines dan Juliawati, perjalanan mereka sebagai orangtua dengan anak ADHD merupakan kisah tentang belajar memahami. Selain itu, juga menerima dan terus berharap bahwa setiap anak, dengan segala keunikannya, berhak untuk didampingi dan diberi ruang untuk berkembang secara optimal.





