Israel dan Lebanon sepakat melanjutkan ke tahap negosiasi langsung usai pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat (AS) di Washington pada Selasa (15/4).
Pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam ini disebut sebagai langkah awal menuju dialog resmi di tengah konflik yang masih berlangsung, ketika Iran dan AS sepakat melangsungkan gencatan senjata dua pekan.
Diskusi Dimediasi ASDikutip dari AFP, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Tommy Pigott menyebut dialog yang dimediasi Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio itu menghasilkan kemajuan penting dalam hubungan kedua negara.
"Para peserta melakukan diskusi yang produktif mengenai langkah-langkah untuk memulai negosiasi langsung antara Israel dan Lebanon," ujarnya.
"Semua pihak sepakat untuk memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama," lanjutnya, meski tak merinci kapan dan di mana perundingan nanti akan dilangsungkan.
Lebanon Dorong Gencatan SenjataDari pihak Lebanon, Duta Besar Nada Hamadeh Moawad menekankan bahwa prioritas negaranya adalah penghentian konflik. Ia menyerukan langkah konkret untuk meredakan situasi di lapangan.
"Saya menyerukan gencatan senjata serta kembalinya para pengungsi ke rumah mereka," katanya.
Selain itu, Moawad menegaskan pentingnya kendali penuh negara atas wilayahnya.
“Kedaulatan penuh negara harus ditegakkan di seluruh wilayah Lebanon,” ungkapnya.
Israel Klaim di Pihak yang SamaSementara itu, Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter menilai pertemuan berjalan positif dan membuka kesamaan posisi antara kedua negara, khususnya terkait Hizbullah.
Ia juga mengklaim adanya kesamaan kepentingan antara Israel dan Lebanon. Menurutnya, kedua negara memiliki tujuan serupa terkait pengaruh Iran melalui milisi bersenjata Hizbullah di Lebanon.
"Kami menyadari hari ini bahwa kami berada di pihak yang sama. Kami bersatu untuk membebaskan Lebanon dari kekuatan pendudukan yang didominasi Iran yang disebut Hizbullah," ungkapnya.
Konflik ini bermula pada 2 Maret setelah kelompok Hizbullah menyerang Israel, yang kemudian dibalas dengan serangan besar-besaran. Sejak itu, lebih dari 2.000 orang tewas dan lebih dari satu juta warga mengungsi di Lebanon, sementara prospek kesepakatan damai dinilai masih rendah di tengah perbedaan tajam kedua pihak.





