Jakarta, VIVA – Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, banyak orang mulai mempertanyakan kembali strategi keuangan mereka. Krisis, baik akibat resesi, gejolak pasar, maupun kondisi global, sering kali membuat pemasukan tidak stabil dan risiko finansial meningkat.
Di tengah kondisi ini, muncul pertanyaan penting yang kerap membingungkan, yakni lebih baik fokus ke dana darurat atau tetap berinvestasi.
Sebagian orang tergoda untuk tetap berinvestasi demi mengejar peluang keuntungan saat harga aset turun. Namun di sisi lain, ada juga yang memilih mengamankan kondisi keuangan dengan memperbesar dana darurat.
Lalu, sebenarnya mana yang seharusnya didahulukan saat krisis? Berdasarkan berbagai pandangan ahli keuangan, jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu, tetapi ada prioritas yang perlu Anda pahami.
Dana darurat vs investasi saat krisis, mana yang jadi prioritas?Berikut penjelasannya sebagaimana dirangkum dari BudgetHub, Rabu, 15 April 2026.
1. Dana darurat adalah fondasi utama keuangan
Saat krisis, risiko kehilangan penghasilan atau munculnya kebutuhan mendadak meningkat. Dana darurat berfungsi sebagai perlindungan pertama agar Anda tidak perlu berutang atau menjual aset saat kondisi pasar sedang turun. Tanpa dana ini, stabilitas keuangan Anda bisa terganggu dalam waktu singkat.
2. Likuiditas lebih penting dibanding potensi keuntungan
Investasi memang menawarkan imbal hasil, tetapi tidak selalu mudah dicairkan dengan cepat tanpa risiko kerugian. Dana darurat justru harus disimpan dalam instrumen yang mudah diakses, seperti tabungan atau deposito, sehingga bisa digunakan kapan saja saat dibutuhkan.
3. Menghindari kerugian akibat panic selling
Saat krisis, pasar cenderung volatil. Jika Anda tidak memiliki cadangan dana, Anda mungkin terpaksa menjual investasi saat harga sedang turun. Ini justru bisa menyebabkan kerugian yang sebenarnya bisa dihindari jika Anda memiliki dana darurat yang cukup.
4. Standar ideal dana darurat menurut ahli
Banyak perencana keuangan internasional menyarankan dana darurat sebesar 3 hingga 6 bulan biaya hidup. Jumlah ini dinilai cukup untuk menjaga kestabilan finansial dalam kondisi darurat tanpa harus mengganggu investasi Anda.
5. Investasi tetap penting, tapi bukan prioritas awal
Meski dana darurat menjadi prioritas, bukan berarti Anda harus menghentikan investasi sepenuhnya. Setelah dana darurat mulai terbentuk, Anda bisa tetap berinvestasi secara bertahap. Strategi ini memungkinkan Anda tetap mendapatkan peluang pertumbuhan aset tanpa mengorbankan keamanan finansial.





