HARIAN FAJAR, SEMARANG – Keputusan mengejutkan Andri Ramawi untuk meninggalkan PSIS Semarang akhirnya terungkap. Bukan karena konflik internal maupun tekanan suporter, pelatih berusia 39 tahun itu meletakkan jabatannya demi komitmen. Andri menyebut “satu paket” dengan sang Direktur Teknik, Angel Alfredo Vera.
Mundurnya Andri di saat Laskar Mahesa Jenar hanya menyisakan tiga laga krusial ini sontak memicu kekosongan di kursi nakhoda. Kini, nasib dan seluruh harapan publik Semarang untuk bertahan di kasta kedua berada sepenuhnya di pundak Anang Dwita, sang asisten pelatih yang ditunjuk mendadak sebagai juru selamat dalam misi pelarian dari jurang degradasi.
Bukan Konflik Internal
Banyak yang menduga adanya perpecahan di ruang ganti, namun kenyataannya jauh lebih emosional. Saat dikonfirmasi, Andri Ramawi mengungkapkan bahwa pengunduran dirinya adalah bentuk loyalitas mutlak kepada Angel Alfredo Vera.
Ternyata, Andri dan Alfredo Vera datang dengan janji setia. Begitu sosok Alfredo Vera hengkang saat persiapan melawan Barito beberapa waktu lalu, Andri pun merasa waktunya untuk mengabdi di PSIS telah usai.
“Coach Alfredo sudah tidak di tim saat persiapan lawan Barito. Saya memang punya komitmen dengan beliau jika Coach Alfredo keluar dari tim, saya akan keluar juga,” ungkap Andri Ramawi secara jujur seperti dilansir detikjateng.
Ia menekankan bahwa hubungannya dengan manajemen tetap harmonis. Mundurnya ia dari kursi kepelatihan murni karena janji personal yang ia pegang teguh sebagai asisten yang dibawa oleh Alfredo.
“Tidak ada masalah apa pun saya atau pun Coach Alfredo dengan manajemen, semuanya baik. Ini murni tentang komitmen aja saya sama Coach Alfredo,” tegasnya.
Warisan Positif yang Ditinggalkan
Kehilangan Andri sebenarnya merupakan kerugian besar bagi PSIS. Meski hanya memimpin dalam enam pertandingan sejak didatangkan pada putaran ketiga Championship 2025/2026, eks pelatih Persiba Bantul ini mencatatkan statistik yang cukup impresif.
Dari enam laga, Andri berhasil mengemas dua kemenangan, tiga hasil imbang, dan hanya menelan satu kekalahan. Catatan ini sebenarnya menunjukkan bahwa PSIS mulai menemukan ritme permainan yang stabil untuk menjauh dari zona merah klasemen.
Sanggupkah Anang Dwita Jadi Juru Selamat?
Kini, tongkat estafet beralih ke tangan asisten pelatih, Anang Dwita, yang bertindak sebagai caretaker. Tugasnya sangat berat: menghadapi Persipura Jayapura pada Sabtu (18/4/2026) mendatang dalam laga pekan ke-25 yang menentukan nasib klub.
Sebagai asisten yang sudah mendampingi Andri, Anang tidak perlu melakukan adaptasi ulang. Ia sudah mengenal karakter pemain secara mendalam, yang sangat krusial dalam situasi “darurat” seperti ini.
Mengingat waktu yang hanya tersisa tiga laga, mengganti skema permainan secara total adalah bunuh diri. Anang kemungkinan besar akan mempertahankan fondasi taktik yang sudah dibangun Andri, namun dengan sentuhan motivasi yang lebih besar untuk membakar semangat pemain.
Duel melawan Persipura Jayapura akan menjadi ujian kecerdasan Anang dalam melakukan pergantian pemain (substitution) dan membaca tekanan lawan di menit-menit krusial.
Mampukah Anang Dwita membuktikan bahwa ia bukan sekadar pelengkap, melainkan penyelamat yang mampu menjaga muruah Tugumuda tetap tegak di kompetisi musim depan? Jutaan mata suporter kini tertuju pada instruksi yang akan ia berikan dari pinggir lapangan akhir pekan nanti. (*)





