Krisis Energi dan Efisiensi Berpotensi Tekan Jumlah Penumpang Pesawat Terbang

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

SIDOARJO, KOMPAS - Jumlah penumpang pesawat terbang berpotensi menurun tahun ini karena kombinasi faktor global dan nasional. Krisis energi akibat perang di Timur Tengah berpotensi menaikkan harga tiket pesawat. Di dalam negeri, pemerintah juga melakukan efisiensi anggaran, termasuk dengan mengurangi perjalanan dinas.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan, pengguna moda transportasi udara berpotensi mengalami penurunan tahun ini. Hal itu tidak lepas dari situasi di dalam negeri dan geopolitik global.

Di dalam negeri, pemerintah pusat dan daerah menerapkan kebijakan efisiensi anggaran. Salah satu implementasinya dengan memperketat perjalanan dinas, baik domestik maupun internasional. Pengurangan perjalanan dinas bisa mencapai 50-70 persen dari kondisi normal.

“Pengetatan perjalanan dinas pemerintah ini sangat berdampak terhadap penggunaan moda transportasi udara. Pemda-pemda mungkin akan mengalihkan perjalanan dinasnya ke trasportasi lain yang lebih murah seperti kereta api atau bus,” kata Djoko, Rabu (15/4/2026).

Di sisi lain, situasi geopolitik global akibat memanasnya perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah menyebabkan krisis energi dunia. Krisis ini berdampak signifikan terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), termasuk avtur yang menjadi bahan bakar pesawat.

Kenaikan bahan bakar pesawat berpotensi dibebankan kepada konsumen atau pengguna jasa sehingga memicu kenaikan harga tiket pesawat. Pihak maskapai akan kesulitan jika harus menanggung sendiri beban kenaikan harga BBM tersebut.

Baca JugaHarga Avtur Melejit hingga 80 Persen, Harga Tiket Pesawat Bakal Melambung

Menurut Djoko, industri penerbangan akan mengalami pukulan ganda, yakni penurunan jumlah penumpang yang dipicu oleh efisiensi anggaran pemerintah dan naiknya harga tiket pesawat. Apalagi, hingga saat ini, belum ada bahan bakar pengganti avtur.

Di sisi lain, pelaku industri penerbangan tetap harus menjaga kualitas pelayanan. Apalagi, moda transportasi udara memiliki prosedur standar yang tinggi yang mengedepankan keselamatan, keamanan dan kenyamanan.

Djoko menambahkan pemerintah pusat harus memikirkan secara serius nasib moda transportasi udara dengan menyusun kebijakan yang lebih berpihak. Dia mencontohkan, pemerintah bisa memberikan subsidi pada harga tiket pesawat agar harganya terjangkau, terutama untuk daerah yang moda transportasinya terbatas dan sulit dijangkau.

Selain itu, pemerintah pusat harus menyusun kebijakan yang lebih berpihak kepada pengembangan transportasi publik, baik di darat laut maupun udara, untuk menyikapi krisis energi dunia. Alasannya, krisis energi memerlukan langkah strategis yang tidak hanya bersifat reaktif untuk jangka pendek, tetapi juga yang bersifat transformatif untuk jangka panjang.

Baca JugaPemerintah Jaga Kenaikan Harga Tiket Pesawat Terbang di 9-13 Persen
Bandara Juanda

Sementara itu, jumlah penumpang di Bandara Internasional Juanda, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada triwulan pertama tahun 2026, meningkat dibandingkan tahun lalu. Namun, ke depan, jumlah pengguna moda transportasi udara di bandara ini juga berpotensi menurun karena dampak efisiensi dan krisis energi.

General Manager Bandara Internasional Juanda, Muhammad Tohir, mengatakan, selama Januari-Maret 2026, jumlah penumpang di bandara itu meningkat 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada periode ini, tercatat jumlah penumpang sebanyak 3.229.205 penumpang melakukan perjalanan melalui Bandara Internasional Juanda.

Sementara itu, pada periode yang sama tahun 2025, jumlah penumpang sebanyak 3.112.577 penumpang. Artinya, ada kenaikan jumlah penumpang sebesar 4 persen pada awal tahun ini.

“Kenaikan jumlah penumpang itu diikuti dengan peningkatan jumlah pesawat sebanyak 7 persen,” ujar Tohir.

Jumlah pergerakan pesawat di Bandara Internasional Juanda pada Januari-Maret 2026 sebanyak 22.706 pergerakan, sedangkan di periode yang sama tahun 2025 sebanyak 21.169 pergerakan.

Baca JugaHarga Tiket Pesawat Terbang Naik, Maskapai Dapat Insentif

Penerbangan domestik di bandara itu didominasi tujuan Jakarta, Bali, dan Makassar. Adapun penerbangan internasional didominasi tujuan Kuala Lumpur (Malaysia), Singapura, dan Jeddah (Arab Saudi).

Malaysia dan Singapura merupakan negara tujuan pekerja migran Indonesia asal Jatim. Kedua negara tetangga ini juga kerap dijadikan tempat tujuan wisata dan pendidikan bagi masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Adapun Jeddah menrupakan tujuan bagi warga yang ingin menunaikan umrah.

Tohir mengatakan, kenaikan jumlah penumpang di Bandara Internasional Juanda tidak lepas dari hasil sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kualitas layanan serta memastikan kelancaran operasional penerbangan.

Peningkatan penumpang ini juga menjadi indikator positif bagi bisnis penerbangan dan moda angkutan udara. Oleh karena itu, pengelola bandara akan terus berupaya untuk memberikan layanan yang optimal, memperkuat kolaborasi dengan maskapai dan pemangku kepentingan lain, serta memastikan perjalanan aman dan nyaman.

Pengetatan perjalanan dinas pemerintah ini sangat berdampak terhadap penggunaan moda transportasi udara. Pemda-pemda mungkin akan mengalihkan perjalanan dinasnya ke trasportasi lain yang lebih murah seperti kereta api atau bus


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Roblox Belum Patuhi PP Tunas, Komdigi Temukan Celah Chat dengan Orang Tak Dikenal
• 15 jam laludisway.id
thumb
Pertemuan Raja Charles III dengan Trump Jadi Misi Diplomasi di Tengah Konflik Iran
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Atletico Madrid Singkirkan Barcelona dan Lolos Semifinal Liga Champions, PSG Eliminasi Liverpool
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Ketum PBSI Ungkap Target: Tim Thomas ke Final, Skuad Uber Semifinal
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Jawab Kebutuhan Peserta, Direksi Baru BPJS Kesehatan Beberkan 8 Program Andalan
• 4 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.