Krisis Bahan Baku, Perusahaan Jepang yang Bergantung pada Nafta Pangkas Produksi

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Perusahaan-perusahaan Jepang yang bergantung pada nafta atau produk berbasis nafta menghentikan pesanan atau memangkas produksi, menyoroti kesenjangan antara jaminan resmi tentang pasokan yang cukup dan realita di lapangan.

Dikutip dari Reuters, Rabu (15/4), lebih dari belasan perusahaan termasuk Toto dan Asahi Kasei selama seminggu terakhir telah melaporkan gangguan pengiriman atau peningkatan harga. Kekhawatiran atas pengadaan bahan-bahan baku seperti perekat yang terbuat dari nafta -- turunan minyak yang terutama digunakan sebagai pelarut atau pengencer jadi alasannya.

Produsen produk yang menggunakan pengencer seperti Kansai Paint, yang menurut hukum hanya dapat menyimpan stok bahan berbahaya itu dalam jumlah terbatas, telah menyesuaikan pengaturan pengiriman dan menaikkan harga, sehingga mengaburkan prospek hilirisasi untuk barang dan jasa yang beragam seperti mainan plastik dan konstruksi perumahan.

Berdasarkan survei yang dilakukan Japan Painting Contractors Association pada pekan lalu, hanya 2,7 persen perusahaann yang mampu memperoleh pengencer seperti biasa.

Situasi ini menimbulkan masalah bagi pemerintah, yang telah berusaha mencegah ganggaun dengan mengulangi pesan bahwa Jepang memiliki pasokan nafta yang cukup untuk 4 bulan ke depan.

Pemerintah mengatakan sedang berupaya mengamankan pasokan dari luar Timur Tengah -- Jepang memperoleh 40 persen pasokan naftanya dari sana sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari. Pemerintah juga telah membentuk layanan konsultasi untuk membantu bisnis dalam pengadaan sebelum mereka memilih melakukan perubahan operasi.

Meski begitu, Toto pada pekan ini menangguhkan penerimaan pesanan untuk unit kamar mandi modular yang membutuhkan perekat yang bergantung pada pelarut yang mengandung nafta. Perusahaan pesaingnya seperti Lixil, Panasonic, dan Cleanup juga telah mengisyaratkan dampak pengiriman.

Jepang Khawatir Masyarakat Panik

Negara-negara seperti Korea Selatan, Thailand, dan Bangladesh telah merespons gangguan pasokan produk minyak Timur Tengah dengan menyerukan kepada masyarakat untuk mengambil langkah-langkah penghematan, seperti mengurangi berkendara atau bahkan mandi lebih singkat.

Saat ditanya kenapa Jepang tidak mengadopsi pendekatan serupa, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan tidak mau memperlambat aktivitas ekonomi. Dia telah menugaskan Menteri Industri Ryosei Akazawa untuk memastikan pasokan produk terkait minyak yang stabil.

Pada Selasa (14/4), Akazawa mengatakan hambatan tersebut berada di tengah rantai pasokan. Para pedagang grosir, misalnya, mengurangi separuh pasokan kepada pelanggan pada April setelah diberi tahu bahwa pengiriman akan tidak pasti pada Mei.

"Bagi Perdana Menteri Takaichi, ekonomi adalah yang utama. Dia tidak mengatakan apa pun yang akan menyulitkan warga," kata pejabat pemerintah yang terlibat dalam kebijakan ekonomi kepada Reuters.

"Ini adalah kebijakan pemerintah," lanjutnya.

Sumber pemerintah lainnya mengatakan pemerintah dan Kementerian Industri takut akan kepanikan konsumen yang mengingatkan pada penimbunan tisu toilet dan barang-barang lainnya selama krisis minyak pada 1970-an.

"Kita seharusnya benar-benar menyerukan kepada masyarakat untuk menghemat energi sekarang, tapi kantor perdana menteri telah menghentikannya," kata sumber yang lain.

"Kami telah menyatakan bahwa kami memiliki pasokan yang cukup, sehingga jika kami meminta langkah-langkah konservasi, kami mungkin akan mendapat kritik dan itulah kekhawatiran kami," kata sumber itu.

Saham perusahaan yang bergantung pada nafta termasuk Toto, Kansai Paint, dan Mitsubishi Chemical mencatat kinerja yang lebih rendah daripada indeks harga saham acuan Tokyo Nikkei, yang kini telah memulihkan sebagian besar kerugian sejak dimulainya perang di Timur Tengah yang memicu sentimen penghindaran risiko secara umum.

"Bahkan jika produsen dapat meningkatkan produksi tanpa mempertimbangkan biaya, merema berisiko terjebak dengan persediaan berharga tinggi jika harga akhirnya turun," kata analis pasar di Matsui Securities, Tomoichiro Kubota.

"Pemerintahan Takaichi memprioritaskan sentimen ekonomi. Meski telah mengumumkan dukungan untuk item yang spesifik, pendekatan seperti itu seperti permainan pukul tikus," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BKI Perkuat Perspektif Analis BSI dalam Hal Pembiayaan Industri Galangan Kapal
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Trump Sebut Perundingan AS-Iran Bisa Dilanjutkan di Pakistan pada Pekan Ini
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Menhaj: Persiapan Haji Hampir 100%, Visa Sudah Keluar, Kartu Nusuk Sudah di RI
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Kenapa Vasektomi Disarankan di Atas Usia 35 Tahun? Ini Penjelasan Dokter
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Barcelona Gagal Balikkan Keadaan, Atletico Lolos Dramatis ke SemifinalLiga Champions
• 16 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.