REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak menguat mengikuti bursa kawasan Asia dan global, didorong oleh harapan pelaku pasar akan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
IHSG dibuka menguat 74,95 poin atau 0,98 persen ke posisi 7.750,90. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 7,90 poin atau 1,03 persen ke posisi 772,22.
- Sentimen Domestik Lemah, Rupiah Turun Tipis ke Level Rp 17.130, IHSG Menguat ke 7.598
- Balik Arah Positif, Begini Kinerja IHSG Sepekan Terakhir
- Bursa Global Hijau, IHSG Ikut Tancap Gas
“Jika IHSG mampu bertahan di atas level 7.700, maka IHSG diperkirakan berpeluang menguji di sekitar level 7.800. Namun, perlu mulai diwaspadai potensi profit taking dalam jangka pendek, mengingat kondisi IHSG yang sudah memasuki area overbought,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Dari perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, Presiden AS Donald Trump menyatakan AS telah dihubungi oleh para pejabat Iran yang ingin membuat kesepakatan, serta menambahkan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Sementara itu, Pakistan telah menawarkan untuk menjadi tuan rumah putaran kedua diskusi sebelum berakhirnya gencatan senjata. Selain itu, dilaporkan bahwa AS, Israel, dan Lebanon sepakat untuk memulai negosiasi langsung di AS.
Dampak perang terhadap proyeksi ekonomi terlihat pada data global. Menurut proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia terbaru dari IMF, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat menjadi 3,1 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027.
Setelah mampu mengatasi hambatan perdagangan yang lebih tinggi dan ketidakpastian yang meningkat tahun lalu, IMF menyatakan aktivitas global kini menghadapi ujian besar akibat pecahnya perang di Timur Tengah.
Selain itu, IMF menyatakan bahwa gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz telah memicu kenaikan harga minyak dan gas secara signifikan serta berdampak langsung terhadap beban biaya impor, terutama pada negara-negara berkembang.
Apabila konflik masih berlangsung berkepanjangan, IMF memperingatkan pertumbuhan ekonomi global berpeluang melemah hingga level 2 persen yang mengindikasikan kondisi resesi global. IMF juga memperingatkan risiko munculnya stagflasi.
Dari dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis dua roadmap strategis 2026–2030 untuk memperdalam pasar keuangan domestik, yaitu pengembangan pasar derivatif dan pasar modal berkelanjutan.
Pengembangan pasar derivatif berfokus pada pelindungan investor, harmonisasi pengawasan, dan peningkatan infrastruktur untuk menciptakan pasar yang likuid dan efisien.
Sementara itu, roadmap pasar modal berkelanjutan menargetkan penguatan instrumen berbasis ESG untuk mendukung net zero emission Indonesia, dengan pilar utama berupa kebijakan, diversifikasi produk, insentif, dan kolaborasi.
Pada perdagangan Selasa (14/4/2026), bursa saham Eropa kompak menguat, di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 1,32 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,25 persen, indeks DAX Jerman menguat 1,27 persen, serta indeks CAC 40 Prancis menguat 1,12 persen.
Bursa AS Wall Street juga kompak menguat pada Selasa (14/4/2026), di antaranya indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,66 persen ke 48.535,99, indeks S&P 500 menguat 1,18 persen ke 6.967,38, dan indeks Nasdaq Composite menguat 1,81 persen ke 25.842,00.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 492,11 poin atau 0,85 persen ke 58.369,50, indeks Shanghai menguat 15,65 poin atau 0,39 persen ke 4.042,28, indeks Hang Seng menguat 279,68 poin atau 1,08 persen ke 26.152,00, dan indeks Strait Times menguat 14,80 poin atau 0,30 persen ke 5.022,37.



