Harga Sawit Sumatra Utara Naik Terdampak Perang Iran vs Israel-AS

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MEDAN — Perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang menyebabkan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, berimbas pada kenaikan harga sejumlah komoditas, termasuk harga sawit di Sumatra Utara.

Kenaikan harga di Sumatra Utara (Sumut) tampak pada komoditas sawit dan turunannya yang merupakan komoditas ekspor unggulan wilayah ini. 

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunak) Sumut, per awal April 2026 harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) lokal maupun ekspor menyentuh Rp15.905 per liter dan terus merangkak naik hingga terpantau berada di level Rp16.049 per liter periode 8 April 2026.

Kenaikan harga CPO tersebut berimbas pada harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani yang ikut bergerak naik. 

Analis Pasar Disbunak Sumut Dewiana mengatakan pada periode tanggal 8—14 April 2026 harga TBS khusus petani mitra Pemerintah Provinsi Sumut ditetapkan menyentuh harga Rp4.110,77 per kilogram, naik dari minggu sebelumnya yang ditetapkan sekitar Rp4.059 per kilogram.

"Harga TBS petani mitra Pemprov Sumut ditetapkan terus naik dari periode-periode sebelumnya. Ini imbas dari perang antara Iran dengan Israel dan sekutunya," ujar Dewiana, Rabu (15/4/2026).

Baca Juga

  • Harga Sawit di Sumbar Semakin Tinggi pada Pekan Kedua April 2026
  • Sawit Mahal, Petani Riau Tertekan Lonjakan Harga Pupuk

Hal senada disampaikan Saleh, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sawit Harapan Maju Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Dia menyebut harga TBS sawit terus menunjukkan prospek cerah sepanjang awal tahun 2026 dengan harga melebihi Rp3.000 per kilogram.

Per Rabu (15/4/2026), rata-rata harga TBS di tingkat petani di Sergai berkisar Rp3.390 per kilogram. Sepanjang Maret 2026, petani bahkan makin semringah dengan harga TBS yang pernah mencapai Rp3.420 per kilogram.

"Petani sawit di tahun 2026 ini pokoknya senyum-senyum karena harga TBS lebih dari Rp3.000. Tahun lalu, tertinggi masih di Rp2.800-an. Mungkin ini ada dampak dari perang itu," ujar Saleh, Rabu (15/4/2026).

Dia pun menyebut tak ada kendala berarti dalam produksi TBS di tingkat petani yang menjadi anggota gapoktannya. Termasuk dari ketersediaan dan keterjangkauan harga pupuk untuk menunjang produktivitas kebun sawit.

Menurut Saleh, harga TBS saat ini tak membuat petani kesulitan untuk membeli pupuk. Begitupun dengan harga pupuk yang disebutnya masih stabil.

"Kondisi harga TBS saat ini bisa dikatakan aman bagi petani sawit. Juga harga pupuk, belum nampak gejolaknya. Kalaupun harga pupuk nanti naik di batas kewajaran, petani tidak terlalu goyah karena harga TBS masih bagus," ujarnya.

Sebelumnya, Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sumut menyebut bahwa kondisi geopolitik global akan berdampak pada kenaikan harga komoditas, termasuk komoditas dari Sumatra Utara seperti CPO, karet, kopi, serta energi dan pupuk.

"Ekspor terbesar dari Sumut itu adalah produk pertanian. Akibat terganggunya pelayaran di Selat Hormuz, waktu pengiriman produk dari Belawan ke negara tujuan bertambah dari sekitar 25 hari menjadi 36—40 hari. Ini akan membuat cost ekspor menjadi lebih mahal sehingga harga komoditas juga berpotensi naik," ujar Iman dikutip Rabu (15/4/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Disambut Gibran, Prabowo Tiba di Tanah Air Usai Bertemu Putin dan Macron
• 8 jam laludetik.com
thumb
Dalami Dugaan Suap Hakim PN Depok, KPK Periksa 2 Kasi Mutasi MA
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Prakiraan Cuaca Sulsel Hari Ini, 15 April 2026: Waspadai Hujan Ringan dan Suhu Ekstrem
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Tempat Cuci Motor di Pademangan Jakut Terbakar, Diduga akibat Korsleting
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Satu Kata Seribu Makna: Potret Kolaborasi Tenaga Kesehatan
• 16 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.