Pantau - Amerika Serikat memuji pembicaraan langsung pertama antara Israel dan Lebanon dalam lebih dari 30 tahun sebagai pencapaian besar yang membuka peluang diplomasi lanjutan di tengah konflik kawasan.
AS Soroti Pentingnya Dialog LangsungDuta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyebut pertemuan tersebut sebagai langkah signifikan dalam upaya meredakan ketegangan.
“Apa yang saya pelajari sebagai seorang diplomat, terkadang hanya dengan mengadakan pertemuan… menghadirkan semua pihak ke dalam satu ruangan… itu sudah merupakan pencapaian besar pertama,” katanya dalam pidato di Georgetown University, Washington D.C.
Ia menambahkan, “Saya tidak bisa meremehkan betapa besarnya peristiwa yang terjadi hari ini, dan saya pikir kita memiliki peluang luar biasa di Lebanon.”
Meski demikian, Waltz tidak memastikan apakah gencatan senjata atau penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan akan segera terwujud.
Pertemuan Langka di Tengah Konflik BerkepanjanganPertemuan berlangsung di Departemen Luar Negeri AS dan mempertemukan Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh serta Duta Besar Israel Yechiel Leiter bersama sejumlah pejabat tinggi AS.
Pembicaraan ini menjadi momen langka karena melibatkan kedua pihak secara langsung, meski kelompok Hizbullah tidak ikut serta dalam forum tersebut.
Waltz menyebut “tanda-tandanya baik” terkait kelanjutan proses diplomasi, meski belum ada rincian resmi mengenai agenda berikutnya.
Pertemuan ini terjadi di tengah konflik yang masih berlangsung sejak serangan lintas perbatasan pada 2 Maret, dengan laporan korban tewas mencapai lebih dari 2.000 orang dan lebih dari satu juta warga mengungsi di Lebanon.




