REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Dalam Negeri Bayangan Inggris sekaligus anggota parlemen dari Partai Konservatif, Chris Philp, menyerukan agar DJ dan produser asal Amerika Zubeyda Muzeyyen alias DJ Haram dilarang memasuki Inggris. Seruan ini muncul setelah DJ Haram menyampaikan pernyataan pro Palestina saat tampil di Australia.
Penampilan tersebut berlangsung bulan lalu dalam edisi ke-25 Sydney Biennale. Dalam aksinya di atas panggung, DJ Haram menyatakan dukungan terhadap masyarakat di Palestina, Iran, Lebanon, Sudan, dan Suriah. la juga meneriakkan slogan pro Palestina yaitu "From the river to the sea, Palestine will be free".
Baca Juga
Vokalis Massive Attack Ditangkap karena Ikut Aksi Bela Palestina
Skandal Chat Pelecehan Seksual FH UI, Pelaku Disebut Kehilangan Empati dan Kontrol Diri
Bayi 1,5 Tahun Hipotermia di Gunung Ungaran, Berapa Usia Ideal Anak Boleh Mendaki?
DJ asal New Jersey itu juga mengecam tingginya jumlah korban sipil akibat serangan di Palestina dan Lebanon, serta mendedikasikan penampilannya untuk sejumlah aktivis pro-Palestina. la juga menyatakan penolakannya terhadap apa yang ia sebut sebagai "artwashing genosida".
"Adalah tugas kita untuk melindungi planet ini, dan tugas kita untuk menentang kekuasaan Zionis-Australia-Epstein. Sampai Palestina merdeka, tidak satu pun dari kita yang benar-benar merdeka," kata DJ Haram dalam penampilannya di Australia, dilansir laman NME, Rabu (15/4/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pernyataan tersebut kemudian memicu penyelidikan oleh pihak kepolisian Australia. Komisaris Polisi New South Wales, Mal Lanyon, menegaskan bahwa kebebasan berbicara tetap menjadi nilai penting di negara tersebut. Hingga saat ini, belum ada hasil dari penyelidikan tersebut.
Sementara itu, Jewish News mengeklaim komentar DJ Haram berpotensi memengaruhi rencananya tampil di Inggris. Chris Philp dilaporkan telah meminta agar pemerintah melarangnya tampil, dengan alasan kekhawatiran terhadap dugaan antisemitisme dan promosi terorisme.