Rupiah Terperosok ke Level Terendah

eranasional.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, ERANASIONAL.COM –  Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah mencatat posisi terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa, 14 April 2026. Mata uang Indonesia tersebut ditutup di level Rp17.127 per dolar Amerika Serikat di pasar spot, sementara kurs referensi JISDOR berada di Rp17.135 per dolar AS. Pencapaian ini menandai titik terlemah rupiah sejak pertama kali diperdagangkan secara modern, sekaligus memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Tekanan terhadap rupiah tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari berbagai faktor global dan domestik. Penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, ditambah dengan arus keluar modal dari pasar negara berkembang, menjadi pemicu utama yang menekan nilai tukar. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang menantang, terutama dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan daya tarik investasi.

Menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia bergerak cepat dengan memperkuat kebijakan stabilisasi. Salah satu langkah yang kini dioptimalkan adalah penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Instrumen ini dinilai mampu menjadi alternatif efektif dalam menjaga likuiditas sekaligus menarik minat investor, khususnya dari luar negeri, untuk tetap menempatkan dananya di pasar domestik.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa langkah stabilisasi dilakukan secara terukur dan berkesinambungan. Ia menyampaikan bahwa kepercayaan pasar menjadi faktor utama yang harus dijaga di tengah gejolak nilai tukar. Menurutnya, respons kebijakan yang tepat waktu sangat penting untuk mencegah volatilitas yang berlebihan dan menjaga stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan.

Seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia juga menyesuaikan strategi operasionalnya. Frekuensi lelang SRBI yang sebelumnya dilakukan satu kali dalam sepekan kini ditingkatkan menjadi dua kali, yakni setiap Rabu dan Jumat. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak Februari 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat respons terhadap dinamika pasar yang semakin cepat berubah.

Pada fase awal implementasi kebijakan tersebut, respons pasar tergolong cukup positif. Nilai lelang SRBI sempat mencapai rata-rata di atas Rp16 triliun per sesi pada Februari. Namun, memasuki Maret, minat investor mengalami penurunan cukup signifikan dengan rata-rata lelang hanya sekitar Rp4,37 triliun. Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian investor di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Memasuki April, kondisi mulai menunjukkan perbaikan. Permintaan terhadap SRBI kembali meningkat, didorong oleh kenaikan imbal hasil yang ditawarkan. Dalam lelang pada 10 April 2026, yield SRBI tenor enam bulan tercatat mencapai 5,49 persen, yang merupakan level tertinggi sejak Agustus 2025. Kenaikan imbal hasil ini dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan daya tarik instrumen rupiah di tengah persaingan global yang ketat.

Penguatan peran SRBI juga menjadi bagian dari upaya Bank Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada intervensi langsung di pasar valuta asing. Pasalnya, penggunaan cadangan devisa secara terus-menerus berpotensi menggerus posisi eksternal Indonesia. Data menunjukkan bahwa hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa Indonesia mengalami penurunan sebesar 8,3 miliar dolar AS dibandingkan posisi akhir tahun sebelumnya yang mencapai 156,5 miliar dolar AS.

Kondisi tersebut membuat ruang intervensi menggunakan cadangan devisa menjadi semakin terbatas, terutama jika tekanan global terus berlanjut. Oleh karena itu, pendekatan berbasis instrumen pasar seperti SRBI dinilai lebih berkelanjutan dalam jangka menengah.

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo, menilai bahwa kombinasi antara peningkatan frekuensi lelang dan kenaikan yield merupakan sinyal kuat dari otoritas moneter dalam menjaga daya tarik aset domestik. Ia menyebutkan bahwa jika kebijakan ini mampu menahan volatilitas dan mengurangi arus keluar modal, maka premi risiko Indonesia berpotensi menurun.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa stabilitas nilai tukar juga sangat bergantung pada kondisi eksternal. Jika ketidakpastian global mulai mereda, maka peluang masuknya kembali aliran modal asing akan semakin besar. Hal ini pada akhirnya dapat membantu memperkuat posisi rupiah dan menjaga kestabilan cadangan devisa.

Namun demikian, kebijakan ini tidak lepas dari konsekuensi biaya. Untuk menarik minat investor, Bank Indonesia harus menawarkan imbal hasil yang relatif tinggi pada instrumen SRBI. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memperkirakan bahwa biaya yang harus ditanggung oleh Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah melalui instrumen ini berkisar antara Rp6,2 triliun hingga Rp8,4 triliun per tahun.

Meski angka tersebut cukup besar, banyak pihak menilai bahwa biaya tersebut masih sebanding dengan risiko yang dapat timbul jika rupiah terus mengalami pelemahan. Depresiasi yang lebih dalam berpotensi memicu berbagai dampak lanjutan, mulai dari meningkatnya inflasi impor, bertambahnya beban subsidi energi, hingga kenaikan imbal hasil surat utang negara. Bahkan, dalam skenario yang lebih ekstrem, pelemahan rupiah juga dapat memperlebar defisit anggaran pendapatan dan belanja negara.

Situasi ini menunjukkan bahwa menjaga stabilitas nilai tukar bukan hanya soal intervensi jangka pendek, melainkan juga tentang membangun kepercayaan pasar dalam jangka menengah dan panjang. Investor global kini semakin selektif dalam menempatkan dananya, sehingga daya tarik fundamental ekonomi menjadi faktor penentu utama.

Dengan posisi rupiah yang kini berada di titik terlemah sepanjang sejarah, tantangan yang dihadapi ke depan tidaklah ringan. Bank Indonesia dituntut untuk terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan efisiensi kebijakan, sementara pemerintah juga perlu memastikan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat.

Pada akhirnya, pergerakan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan domestik, tetapi juga oleh dinamika global yang terus berkembang. Dalam konteks ini, sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan yang masih berlangsung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lurah Kalisari Dibebastugaskan Buntut Insiden Foto AI di JAKI, Pramono: Saya Tidak Mau Menghilangkan Karier Orang
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Dubes UAE Bahas Pengembangan Energi dengan Pimpinan MPR
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Jenis Plastik yang Harganya Melonjak Jadi Berita Terpopuler Ekonomi Kemarin
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kejati Sumsel Geledah 3 Lokasi Terkait Dugaan Korupsi Pelayaran Sungai Lalan Muba
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Ingat! Jadwal Bigmatch PSM vs Borneo FC di Parepare
• 17 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.