REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV—Setelah beberapa pekan ketegangan meningkat antara Washington dan Teheran, konfrontasi ini memasuki fase gencatan senjata rapuh, yang meredakan intensitas serangan tanpa menyelesaikan arah konflik.
Namun, di balik ketenangan ini, muncul gambaran yang lebih rumit yakni hubungan tidak stabil antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Baca Juga
Berapa Kerugian Materi yang Ditanggung Israel Akibat Perangi Iran? Ini Perkiraannya
Eks Petinggi Militer Israel: Iran Siap Balas Dendam, Trump Kemungkinan Berkhianat Tinggalkan Kami
Bukan Zamzam, Inilah Air Paling Utama yang Pernah Ada di Muka Bumi Menurut Ulama
Hubungan yang mendorong terjadinya perang yang tampaknya tidak ada satupun dari mereka yang memiliki gambaran jelas tentang bagaimana mengakhirinya, menurut para analis.
Laporan-laporan di media Inggris menawarkan sudut pandang berbeda untuk memahami apa yang terjadi, dengan fokus pada bagaimana Netanyahu mendorong eskalasi, lalu Trump mengadopsi jalur tersebut sebelum akhirnya terjebak dalam konsekuensi politik dan strategisnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Arsitek eskalasi
Ian Perel dalam surat kabar The Independent, dikutip Aljazeera, Rabu (15/4/2026), berpendapat bahwa Netanyahu bukan sekadar mitra dalam eskalasi AS baru-baru ini, melainkan salah satu arsitek utamanya.
Penulis tersebut menyoroti peran Netanyahu dalam mempromosikan invasi Irak pada 2003, ketika dia menggambarkan perang sebagai jalan untuk melemahkan Iran.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)