Kuliah Umum Unhas Bahas Pendekatan Kreatif dan Partisipatif dalam Riset

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR – Dunia akademik saat ini menghadapi tantangan dalam menjembatani kesenjangan antara peneliti dan realitas sosial yang diteliti. Kompleksitas isu sosial menuntut pendekatan riset yang tidak hanya kuat secara metodologis, tetapi juga sensitif terhadap konteks serta pengalaman manusia.

Hal tersebut disampaikan Farah Akbar, B.Ed., MA., Ph.D., dalam kuliah umum bertajuk “Creative and Participatory Research Methods” yang digelar oleh Kantor Urusan Internasional (KUI) Universitas Hasanuddin di Aula Arsjad Rasyid, Kampus Tamalanrea, Rabu (15/04).

Dalam pemaparannya, Farah Akbar menjelaskan pentingnya pergeseran paradigma riset, dari sekadar proses ekstraksi data menjadi praktik kolaboratif yang inklusif dan transformatif. Ia menilai, pendekatan riset konvensional kerap menempatkan partisipan sebagai objek, sehingga berpotensi mengabaikan dimensi kemanusiaan dan kompleksitas pengalaman hidup, terutama dari kelompok marginal.

“Riset tradisional sering kali berbicara tentang orang lain, bukan bersama mereka. Relasi kuasa dalam penelitian dapat menciptakan jarak antara peneliti dan realitas sosial yang dikaji,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan kreatif dihadirkan untuk menangkap makna yang lebih dalam di balik data. Metode ini membuka ruang bagi partisipan untuk mengekspresikan pengalaman melalui berbagai medium yang lebih fleksibel.

Beberapa instrumen yang digunakan antara lain pendekatan visual seperti gambar dan fotografi, pendekatan performatif seperti drama dan bermain peran, serta pendekatan digital melalui blog dan media sosial. Ragam metode tersebut dinilai mampu menggali emosi, memori, dan budaya secara lebih komprehensif.

“Tidak semua pengalaman dapat diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang, visual dan ekspresi tubuh justru lebih jujur,” tambahnya.

Selain aspek kreativitas, prinsip partisipatif menjadi fondasi utama dalam pendekatan ini. Partisipan tidak lagi diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai rekan peneliti (co-researchers) yang terlibat aktif dalam seluruh tahapan penelitian.

Konsep lived experience as expertise juga ditekankan sebagai bentuk pengakuan bahwa pengalaman hidup merupakan pengetahuan yang sah dan bernilai.

“Pengalaman hidup adalah keahlian yang tidak bisa digantikan oleh observasi semata,” tegas Farah.

Meski menawarkan pendekatan yang lebih inklusif dan humanis, metode ini juga memiliki tantangan, seperti kebutuhan waktu yang lebih intensif serta ketergantungan pada konteks. Oleh karena itu, pemilihan metode harus mempertimbangkan aspek etika, relevansi, dan tujuan penelitian agar menghasilkan pengetahuan yang bermakna dan berkeadilan.

Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Urusan Internasional Unhas, Andi Masyitha Irwan, S.Kep., Ns., Ph.D. Dalam sambutannya, ia berharap forum akademik semacam ini dapat memperkuat budaya akademik yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Kuliah umum tersebut dihadiri mahasiswa dari berbagai jenjang, mulai sarjana hingga doktoral, serta para dosen. Kegiatan berlangsung interaktif, ditandai dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang memberi ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman terhadap materi yang disampaikan. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ikuti Jejak Alfredo Vera, Pelatih PSIS Resmi Mengundurkan Diri: Jadi Pelatih Keempat yang Angkat Kaki
• 10 jam lalubola.com
thumb
Tok! Pramono Anung Tunjuk Syafrin Liputo Jadi Wali Kota Jakarta Selatan, Dilantik Hari Ini
• 7 jam laludisway.id
thumb
Wamendagri Bima Arya Puji Kampung Bahagia Jambi, Sebut RT Ujung Tombak Pemerintah
• 1 jam laluliputan6.com
thumb
Wamendagri Tinjau Kampung Bahagia di Jambi, Ingatkan Pentingnya Peran Ketua RT
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Kemendukbangga Tegaskan Candaan Seksual Tak Boleh Dinormalisasi di Ruang Digital
• 14 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.