Musim kemarau di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diprediksi mulai terjadi pada akhir April 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi terdampak.
Kepala BPBD DIY, Agustinus Ruruh Haryata, mengatakan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan berlangsung selama 16–21 dasarian atau sekitar 5–7 bulan.
“Awal musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian III April 2026, sebagian wilayah pada dasarian I Mei 2026,” kata Ruruh dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4).
“Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung selama 16–21 dasarian,” tambahnya.
BPBD DIY menyiapkan distribusi tangki air di sejumlah wilayah. Gunungkidul disiapkan 1.500 tangki air mulai Juni 2026, Bantul 400 tangki, dan Kulon Progo 20 tangki untuk kesiapsiagaan awal.
“Menyiapkan 1.500 tangki air mulai bulan Juni 2026 untuk Gunungkidul. Bantul menyiapkan 400 tangki air. Kulon Progo untuk kesiapsiagaan awal disiapkan 20 tangki air,” kata Ruruh.
Sleman dan Kota Yogyakarta belum merencanakan pengadaan tangki air karena selama ini tidak mengalami kekeringan ekstrem. Distribusi air bersih di Sleman akan menggunakan skema Belanja Tidak Terduga (BTT) jika diperlukan, sementara Kota Yogyakarta mengantisipasi potensi penurunan debit air tanah melalui pembangunan sumur resapan.
“Untuk Sleman, distribusi air bersih relatif minimal pada tahun sebelumnya. Mekanisme distribusi akan menggunakan skema Belanja Tidak Terduga (BTT) apabila diperlukan,” kata Ruruh.
“Untuk Kota Yogyakarta belum pernah mengalami kekeringan ekstrem namun potensi penurunan debit air tanah tetap perlu diantisipasi. Pembangunan sumur resapan telah dilakukan di sepanjang Jalan Parangtritis sebagai upaya konservasi air tanah,” tambahnya.
Ruruh menyebut, meski musim kemarau diprediksi datang, potensi bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi pada masa pancaroba.





