DetectMe: Inovasi Deteksi Dini Kesehatan Ibu Hamil dan Janin

katadata.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Jakarta – Angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi luka lama yang belum sembuh. Dengan 140 kematian per 100.000 kelahiran hidup, Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara.

Di balik angka itu, ada wajah-wajah ibu hamil di desa-desa terpencil yang tak punya akses cukup ke tenaga kesehatan, menunggu giliran di Puskesmas yang kewalahan, atau berjalan jauh hanya untuk diperiksa sebentar.

Kini, sebuah inovasi dari kolaborasi Indonesia-Australia mencoba mengubah narasi itu.

Apa Itu DetectMe?

DetectMe adalah perangkat pemantauan janin mandiri — sebuah alat yang bisa digunakan ibu hamil sendiri di rumah, tanpa harus menunggu jadwal kunjungan bidan. Data yang direkam alat ini langsung tersinkronisasi ke aplikasi mobile, lalu diteruskan ke platform web yang bisa dipantau secara real-time oleh tenaga kesehatan di Puskesmas maupun bidan desa.

Jika terdeteksi anomali, intervensi medis dapat segera dilakukan, memperkecil risiko keterlambatan yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu dan bayi.

DetectMe lahir dari proyek riset bernama ULTRALIGHT. Proyek ini melibatkan tujuh institusi dari Indonesia dan Australia, mulai dari Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Poltekkes Kemenkes Kupang, Rumah Sakit Hasan Sadikin, hingga University of Newcastle Australia.

Lokasi penelitiannya pun sengaja dipilih di titik-titik paling rentan: Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan komunitas imigran pengungsi di Australia.

Restuning Widiasih, Associate Professor di Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran dan peneliti utama proyek ini, berbicara jujur soal tantangan yang dihadapi dalam penggunaan DetectMe.

"Ada culture ibu hamil yang terbiasa dilayani, tinggal tidur saja menunggu nakes datang. Sekarang mereka diminta memakai alat sendiri di rumah. Itu saja sudah bikin sebagian dari mereka takut," ungkapnya saat menjadi pembicara di event Inovasi, Data, Ekonomi (IDE) Katadata Future Forum 2026, yang digelar di Djakarta Theatre, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Restuning mengatakan, selama ini sistem kesehatan menempatkan ibu hamil sebagai penerima layanan pasif; mengubah posisi itu butuh pendekatan yang jauh lebih dari sekadar membagikan alat.

Di sisi lain, ada temuan menarik: ketika alat DetectMe dititipkan ke keluarga, para suami — yang biasanya kurang terlibat dalam urusan kehamilan — tiba-tiba ikut aktif. Mereka membantu istri mengoperasikan alat, memperhatikan data, bahkan mulai bertanya-tanya soal kondisi janin. Sebuah efek samping yang menyenangkan dari sebuah inovasi teknologi.

Momentum yang Berbeda

Randy Teguh, Ketua Umum Himpunan Pengembangan Ekosistem Alat Kesehatan Indonesia (HIPELKI), melihat DetectMe dengan kacamata yang realistis namun optimistis.

"Inovasi seperti ini menarik untuk masuk ke pasar pemerintah karena efisien. Tapi ada paradoks bisnis: harga murah belum tentu laku," katanya. Ia mengingatkan bahwa pada 2014, alat serupa pernah dikembangkan di Indonesia — namun hak kekayaan intelektualnya malah dibeli perusahaan asing untuk dikembangkan di Afrika.

Namun Randy menegaskan, "Momentumnya sekarang berbeda." Dalam konteks kebijakan kesehatan nasional yang semakin serius menargetkan penurunan angka kematian ibu, DetectMe hadir di waktu yang tepat.

Yang membedakan DetectMe dari inovasi kesehatan lainnya adalah kesadaran para pengembangnya bahwa alat saja tidak cukup. "DetectMe tidak ada dampaknya kalau tidak ada kolaborasi," tegas Restuning.

Visi ke depannya, sistem ini bisa berjalan otomatis, tidak bergantung penuh pada pemantauan manual tenaga kesehatan. Integrasi dengan ekosistem kesehatan pemerintah, dari puskesmas hingga sistem pelaporan nasional, menjadi kunci agar inovasi ini benar-benar berskala.

Dalam peta jalan pengembangan berikutnya, tim ULTRALIGHT ingin membuat perangkat yang lebih ringkas, bahkan dalam bentuk chip, agar benar-benar sesuai namanya: ultralight. Ringan di tubuh, ringan di pikiran, tapi berat dampaknya.

Masa Depan yang Sedang Dirancang Hari Ini

Penting untuk diingat bahwa teknologi bukanlah solusi tunggal. Inovasi seperti ULTRALIGHT hanya akan efektif jika didukung oleh ekosistem yang memadai, seperti kesiapan infrastruktur digital, pelatihan tenaga kesehatan, hingga penerimaan masyarakat. Tanpa itu, teknologi berisiko menjadi sekadar proyek percontohan yang sulit direplikasi secara luas.

Namun setidaknya, ULTRALIGHT menawarkan satu hal yang selama ini kerap hilang dalam diskursus kesehatan ibu: optimisme berbasis solusi. Dengan memindahkan titik awal deteksi ke level rumah tangga, inovasi ini berpotensi mengubah paradigma layanan kesehatan dari yang semula menunggu menjadi lebih antisipatif.

Jika dikembangkan secara konsisten dan diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan nasional, bukan tidak mungkin jarak antara rumah di pelosok desa dan fasilitas kesehatan akan semakin tereduksi.

Di sebuah desa di Maluku, seorang ibu hamil mungkin belum tahu nama proyeknya. Ia hanya tahu ada alat kecil yang bisa memberitahunya kondisi bayinya, dan ada bidan yang memantau dari jauh. Itu sudah cukup untuk membuatnya merasa tidak sendirian.

Dan mungkin, itulah ukuran keberhasilan yang paling jujur dari sebuah inovasi teknologi kesehatan: bukan berapa banyak data yang dikumpulkan, tapi berapa banyak nyawa yang tidak perlu melayang karena terlambat ditolong.

Digelar sejak 2019, IDE Katadata Future Forum 2026 menghadirkan para pembicara berbobot. Mulai dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie PhD., mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian, hingga Vice President of Civility and Partnership at Roblox Tami Bhaumik.

Event ini juga didukung oleh, BYTEPLUS, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, KONEKSI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), WhaTap Labs, PT PLN (Persero), dan PT Pupuk Indonesia (Persero).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemensos Gandeng BNN Kota Banda Aceh Pastikan Bantuan Eks Napza Tepat Sasaran
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
BTN Komodo Imbau Wisatawan Jelajahi Destinasi Lain di Labuan Bajo
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Tak Lagi Milik Malaysia, 127,3 Hektare Wilayah Pulau Sebatik Kini Punya Indonesia
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
China Kecam AS Blokade Selat Hormuz: Berbahaya dan Tidak Bertanggung Jawab!
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Viral! Narapidana Korupsi Nikel Keluyuran di Kedai Kopi, Ini Penjelasan Karutan Kendari
• 12 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.