Kerja Sama Energi, Oleh-Oleh Prabowo Setelah Temui Macron dan Putin

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

Presiden Prabowo Subianto baru saja menyelesaikan lawatan kenegaraannya dari Rusia dan Perancis. Kerja sama strategis dalam bidang energi menjadi “oleh-oleh” yang dibawanya seusai menemui Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Perancis Emmanuel Macron. Penguatan kerja sama dinilai penting guna menghadapi situasi geopolitik global yang diliputi ketidakpastian. 

Tuntasnya lawatan kenegaraan itu ditandai dengan ketibaan Presiden Prabowo, di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (15/4/2026). Ia tiba sekitar pukul 14.30 dengan pesawat kepresidenan.

Sejumlah pejabat hadir menyambut kedatangannya, yakni Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dan Kepala Badan Intelijen Negara Mohammad Herindra. 

“Presiden Prabowo Subianto bertolak ke Tanah Air setelah melakukan lawatan singkat selama dua hari ke dua negara adidaya dunia, yaitu Rusia dan Perancis, pada 13-14 April 2026. Kedua negara tersebut merupakan dua dari lima negara pemegang veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta memiliki kekuatan besar di bidang ekonomi dan sumber daya energi,” terang Sekretearis Kabinet Teddy Indra Wijaya, dalam keterangan tertulisnya, Rabu sore. 

Sebelum kembali ke Indonesia, Presiden Prabowo lebih dahulu menemui Presiden Perancis Emmanuel Macron, di Istana Elysee, Paris, Selasa (14/4/2026). Kedua kepala negara itu berbincang empat mata selama lebih dari dua jam. Pertemuan disebut berlangsung cukup hangat.

Baca JugaPrabowo ke Perancis, Bergabungnya Indonesia di Dewan Perdamaian Bisa Jadi Bahasan

Teddy menjelaskan, Prabowo dan Macron membicarakan mengenai berbagai upaya penguatan kerja sama strategis antara Indonesia dan Perancis dalam berbagai sektor prioritas. Di antaranya kerja sama pada bidang energi, pendidikan, komunikasi digital, serta investasi ekonomi jangka panjang yang saling menguntungkan. 

“Pertemuan tersebut membahas peningkatan kerja sama di berbagai sektor, antara lain energi, pendidikan, komunikasi digital, serta investasi ekonomi jangka panjang,” jelas Seskab Teddy.

Menurut Teddy, kuatnya hubungan personal antara Prabowo dan Macron menjadi kunci untuk mempererat kemitraan strategis antara kedua negara. Terlebih lagi, keduanya lama saling mengenal satu sama lain. Bahkan, sejak Prabowo belum menjadi Presiden. 

“Hubungan kedua pemimpin telah terjalin erat sejak Presiden Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan hingga saat ini,” kata Teddy.

Di Rusia, agenda kenegaraan yang dijalani Prabowo tidak kalah penting. Di sana, ia menemui pemimpin Negara Beruang Merah, Vladimir Putin. Keduanya bertemu di Istana Kremlin, Moskwa, Rusia, Senin (13/4/2026) kemarin. Itu sekaligus menjadi kegiatan pertamanya saat melangsungkan kunjungan kenegaraan ke Eropa. 

Durasi pertemuan Prabowo dan Putin lebih lama dibandingkan pertemuan Prabowo dengan Macron. Total durasi pertemuan tercatat selama lima jam. Dua jam pertama digunakan untuk pertemuan bilateral antara delegasi RI dan Rusia. Adapun tiga jam selanjutnya dimanfaatkan untuk pertemuan empat mata antara Prabowo dan Putin. 

Pertemuan bilateral menghasilkan sederet kerja sama strategis. Salah satu poin krusialnya ialah peningkatan kerja sama sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) jangka panjang, termasuk ketahanan energi minyak dan gas, serta hilirisasi. Selain itu, ada juga kesepakatan kerja sama dalam bidang pendidikan, riset teknologi, pertanian, dan investiasi pada berbagai sektor pembangunan industri di Indonesia.

“Presiden Prabowo menugaskan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, untuk menemui utusan khusus Presiden Putin dan Menteri Energi Rusia untuk pembahasan lanjutan lebih detail hari ini (Rabu) di Moskow,” kata Teddy. 

Baca JugaPresiden Prabowo Kembali Berkunjung ke Rusia, Negosiasi Kerja Sama Pasokan Energi

Dalam ranah global, sebut Teddy, Rusia memiliki posisi strategis. Negara Beruang Merah itu termasuk salah satu pemegang hak veto PBB dan pendiri BRICS. Di tengah ancaman krisis energi, Rusia juga terbilang sebagai salah satu kekuatan besar yang memiliki sumber gas alam terbesar di dunia.

Kedekatan antara Prabowo dan Putin, lanjut Teddy, mendukung penguatan kerja sama antara RI dan Rusia. Kedua sosok tersebut, kata dia, terakhir kali bertemu baru Desember 2025 di Moskwa. Dalam setahun terakhir, keduanya juga sudah lima kali berjumpa dalam berbagai kesempatan.

Berujung pembelian minyak

Dihubungi terpisah, dosen Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, menilai, keberhasilan kunjungan Prabowo ke Rusia akan berujung pada pembelian minyak dari negara tersebut. Namun, langkah itu dikhawatirkan akan mengundang sanksi dari Amerika Serikat. Sebab, ke depan, ada kemungkinan Indonesia membeli minyak dalam jumlah besar ke Amerika Serikat.

Selain itu, menurut Rezasyah, besarnya kontrak alutsista dan energi terbarukan antara Indonesia dan Perancis akan memengaruhi relasi antara negara-negara Uni Eropa dan Rusia. Sebab, Indonesia juga memiliki kontrak jangka panjang dengan Rusia. Di sisi lain, negara-negara Uni Eropa juga membuat perjanjian energi secara terpisah dengan Rusia, yang secara tidak langsung mengendurkan sanksi kolektif mereka terhadap Rusia. 

“Diharapkan kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia dan Perancis berhasil memenuhi kebutuhan Indonesia atas energi pada jangka pendek, dan  memperkuat potensi diversifikasi energi untuk masa depan,” kata Rezasyah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Parah! 3 Komodo Diselundupkan dari NTT ke Surabaya Pakai Paralon
• 51 menit laludetik.com
thumb
Efek Domino Konflik Timur Tengah dan Tekanan Biaya Tambak Udang
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Aila Pelajar 13 Tahun Jadi Calon Haji Termuda di RI Gantikan Ibu yang Wafat
• 18 jam laludetik.com
thumb
Survei Median: 71,8 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo-Gibran
• 9 jam laluokezone.com
thumb
Anak Masuk Usia Remaja, Atalarik Syach Akui Khawatir soal Pergaulan Tapi Tetap Beri Kebebasan
• 14 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.