CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Militer Iran mengancam akan memblokir total jalur perdagangan di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah jika Amerika Serikat tidak segera menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Ancaman tersebut disampaikan oleh Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya (KCHQ), Mayor Jenderal Ali Abdollahi, pada Rabu (15/4), merespons langkah agresif AS yang dianggap ilegal dan melanggar upaya gencatan senjata.
Iran menyatakan akan menghentikan seluruh aktivitas ekspor dan impor di perairan strategis jika kapal dagang dan tanker mereka terus diganggu.
Sementara Sejak Senin (13/4), Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeklaim telah "sepenuhnya menghentikan" perdagangan maritim dari dan menuju Iran. Eskalasi ini dipicu oleh buntunya negosiasi langsung antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan lalu.
Meski CENTCOM menyatakan blokade total, sebuah supertanker Iran yang membawa 2 juta barel minyak mentah dilaporkan berhasil menembus Selat Hormuz.
Kapal tersebut tetap mengaktifkan sistem pelacakan tanpa upaya penyamaran saat memasuki perairan internasional. Hingga berita ini diturunkan, pihak AS belum memberikan komentar resmi terkait lolosnya tanker tersebut.
Meskipun memblokade akses ke Iran, Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper menyatakan bahwa pasukan AS tetap menjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang menuju pelabuhan non-Iran di wilayah tersebut.
Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari perang yang pecah pada 28 Februari 2024, saat AS dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran, termasuk Teheran. Iran merespons dengan serangan balasan ke fasilitas militer AS dan wilayah Israel.
"Jika AS terus menciptakan ketidakamanan bagi kapal tanker Iran, kami tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun melintasi jalur perairan strategis," tegas Mayjen Abdollahi melalui kantor berita Fars.
Data otoritas Iran menyebutkan lebih dari 3.300 orang tewas akibat serangan udara gabungan AS-Israel sejak konflik dimulai.
Sumber: Anadolu/Antara



