Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie mengkritik terkait wacana pembangunan pusat data atau data center di Bali. Menurutnya, rencana ini tidak didasari oleh perhitungan data yang akurat dan justru memicu masalah baru bagi masyarakat.
“Saya sering mendengar ‘ayo kita bangun data center di Bali’. Ini menurut saya berdasarkan data yang tidak masuk akal,” kata Stella dalam acara Innovation Data Economy (IDE) Katadata Future Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).
Ia menyampaikan, pusat data membutuhkan listrik yang sangat banyak. Oleh karena itu, data center semestinya tidak dibangun di wilayah kota besar atau dekat dengan perumahan.
“Jadi sebaiknya membangun data center itu di tempat yang tidak yang jauh dari kota besar. Kenapa mungkin di Indonesia kita tidak berpikiran seperti itu? Sebab, kita berpikiran kalau jauh dari kota besar itu nggak ada listrik. Nah ini dia dilema yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, data center membutuhkan listrik yang stabil, murah, dan idealnya merupakan energi terbarukan. Namun Indonesia belum memiliki modal itu.
“Jadi kalau kita bilang bahwa kita ingin membangun data center untuk membangun perekonomian, kita harus membangun listrik dulu, sumber energinya,” kata Stella.
Ia menambahkan, pada dasarnya pusat data juga berpotensi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Ia mencontohkan Malaysia rela mengeluarkan investasi US$ 15 miliar atau Rp 257,02 triliun (kurs Rp 17.135 per dolar AS).
Sementara itu, Stella mengatakan pertumbuhan produk domestik bruto atau PDB di Amerika Serikat pada 2025 juga didorong oleh pembangunan pusat data.




