Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Minggu (12/4) lalu memberikan perintah kepada Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz di Iran. Washington menjalankan operasi militer tersebut dengan dalih menjaga stabilitas pasokan minyak dunia yang sebagian besar melintasi perairan sempit itu.
AS menilai langkah itu penting untuk mencegah gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker yang berpotensi memicu lonjakan harga energi global. Melansir siaran pers The White House pada Selasa (14/4), pemerintahan Trump memanfaatkan momentum blokade itu untuk memperkuat posisi Negeri Paman Sam sebagai pemasok energi alternatif bagi negara-negara yang terdampak krisis.
AS meningkatkan produksi dan ekspor minyak serta gas guna mengisi kekosongan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Langkah ini sekaligus menunjukkan strategi ganda Washington yang menggabungkan kekuatan militer dan dominasi energi dalam satu kebijakan terpadu. Melalui pendekatan tersebut, AS berupaya menekan lawan sekaligus memperluas pengaruhnya dalam peta energi global.
“Berkat agenda dominasi energi Amerika dari Presiden Trump, AS kini berdiri sebagai produsen dan pengekspor energi terbesar di dunia — siap memasok energi yang melimpah kepada negara-negara yang terputus dari pasokan minyak mentah Timur Tengah,” tulis rilis pers The White House, dikutip Rabu (15/4)
Gedung Putih menginformasikan, ada 167 kapal tanker minyak mentah mengalihkan tujuan pelayaran ke AS hingga awal pekan ini. Di saat yang sama, terdapat 103 kapal dalam kondisi kosong bergerak menuju pelabuhan-pelabuhan Amerika untuk memuat kargo baru.
Dari total tersebut, 54 di antaranya merupakan kapal tanker berukuran sangat besar alias very large crude carriers (VLCC) yang masing-masing mampu mengangkut sekitar dua juta barel minyak.
Sebagian besar kapal itu sebelumnya telah membongkar muatan di berbagai pelabuhan lain dan kini berlayar menuju kawasan Teluk Amerika, termasuk masing-masing 20 kapal tanker kosong berbendera Eropa dan Asia.
Lebih jauh, kebijakan energi Trump disebut mencetak berbagai rekor sekaligus mengukuhkan posisi AS sebagai pemimpin energi global saat ini. The White House mencatat produksi gas alam AS menembus rekor 118,5 miliar kaki kubik per hari, dengan proyeksi peningkatan yang kembali mencetak rekor pada 2026 dan 2027.
Pada saat yang sama, AS menjadi negara pertama dalam sejarah yang mampu mengekspor lebih dari 100 juta metrik ton gas alam cair (LNG) dalam satu tahun. Di sektor minyak, produksi domestik AS mencapai level tertinggi sepanjang masa sebesar 23,6 juta barel per hari. Hal ini diikuti produksi minyak lepas pantai yang juga mencatatkan rekor baru.
AS juga membuka wilayah baru untuk pengembangan minyak, gas, dan batu bara guna memperkuat kapasitas energi nasional. Pemerintah AS juga menyetujui hampir ribu izin pengeboran di lahan federal dan wilayah penduduk asli Amerika.
Capaian tersebut meningkat 55% dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah penguatan sektor energi juga dilakukan dengan mempercepat pembangunan sejumlah terminal ekspor LNG baru.
Trump Jajakan Minyak AS ke Berbagai NegaraTrump sebelumnya menawarkan negara-negara di dunia untuk beralih membeli minyak dari AS di tengah perang dengan Iran yang memicu ketidakstabilan pasokan energi global.
Ia menyebut negara-negara yang terdampak gangguan distribusi minyak karena pembatasan akses pelayaran di Selat Hormuz dapat mengandalkan pasokan energi dari Amerika. Trump menyampaikan hal tersebut saat memberikan pidato di Gedung Putih pada Rabu (1/4) waktu AS.
Politikus Partai Republik itu menilai langkah tersebut dapat menjadi solusi atas ketergantungan sejumlah negara terhadap jalur energi Timur Tengah yang kini rentan akibat eskalasi militer.
“Kepada negara-negara yang tidak dapat memeroleh bahan bakar, yang banyak di antaranya menolak untuk terlibat dalam penargetan Iran, saya punya saran. Pertama, beli minyak dari Amerika Serikat. Kami punya banyak (minyak). Kami punya begitu banyak,” kata Trump, sebagaimana dikutip dari kanal Youtube The White House, pada Rabu (1/4) waktu setempat.
Pada kesempatan tersebut, Trump menyatakan kapasitas produksi minyak dan gas di AS saat ini melebihi kemampuan gabungan produksi Arab Saudi dan Rusia. Ia mengklaim kapasitas tersebut diperkuat oleh kebijakan energi domestik yang agresif, termasuk peningkatan eksplorasi dan produksi dalam negeri.




