FAJAR, JAKARTA — Menjelang seri Moto3 Spanyol, satu nama mulai kembali mencuri perhatian publik Indonesia: Veda Ega Pratama. Di tengah kerasnya persaingan Moto3 World Championship 2026, balapan di Circuito de Jerez bukan sekadar agenda kalender. Bagi Veda, ini adalah panggung emosional—tempat kenangan, pembuktian, sekaligus peluang menulis ulang kisahnya.
Narasi yang mengiringi perjalanan Veda kali ini bahkan tak lepas dari bayang-bayang legenda, Valentino Rossi. Bukan karena jumlah gelar, melainkan gaya balap—keberanian melakukan manuver, menyalip dari belakang, dan membalikkan situasi yang tampak mustahil.
Sesuatu yang dulu menjadi ciri khas Rossi, dan kini mulai terlihat dalam karakter balap Veda.
Perjalanan menuju Jerez musim ini tidak sepenuhnya mulus.
Pada seri sebelumnya di Circuit of the Americas, Veda mengalami crash saat sedang berada dalam performa menjanjikan.
Ia bahkan sempat mencatatkan fastest lap dan bersaing di barisan depan—indikasi jelas bahwa kecepatannya bukan lagi sekadar potensi, tetapi sudah menjadi realitas.
Namun dunia balap selalu memberi ruang untuk penebusan. Dan Jerez adalah tempat yang tepat untuk itu.
Untuk memahami kedekatan Veda dengan sirkuit ini, kita perlu menoleh ke musim 2025, saat ia tampil di Red Bull Rookies Cup.
Di lintasan yang sama, ia memulai balapan dari posisi ke-15—posisi yang biasanya hanya menjadi titik awal tanpa harapan besar.Namun hanya dalam satu lap, segalanya berubah.
Dengan start eksplosif, Veda melesat melewati para rivalnya. Manuver demi manuver dilakukan dengan presisi dan keberanian tinggi. Dalam waktu singkat, ia sudah menembus posisi tiga.
Bagi banyak pembalap muda, itu mungkin momen sekali seumur hidup. Namun bagi Veda, itu adalah refleksi insting balap yang matang—kemampuan membaca celah, mengambil risiko, dan mengeksekusi dengan percaya diri.
Aksi itu mengingatkan pada gaya klasik Valentino Rossi di masa jayanya: tidak menunggu kesempatan, tetapi menciptakannya.
Balapan tersebut kemudian berkembang menjadi duel sengit di barisan depan. Veda harus bersaing dengan dua nama kuat: Hakim Danish dan Brian Uriarte. Ketiganya saling menekan hingga lap terakhir, menciptakan salah satu balapan paling intens di musim itu.
Meski akhirnya finis di posisi ketiga, podium tersebut menjadi titik balik penting. Itu bukan sekadar hasil, tetapi fondasi kepercayaan diri yang kemudian membawanya finis sebagai runner-up musim dan membuka jalan ke level dunia—Moto3.
Kini, satu tahun berselang, Veda kembali ke Jerez dengan status berbeda: bukan lagi pembalap junior, tetapi rookie di panggung global.
Perubahan status ini membawa konsekuensi besar. Persaingan di Moto3 jauh lebih ketat, margin kesalahan lebih kecil, dan tekanan lebih tinggi.
Namun di balik semua itu, ada satu keuntungan yang tidak dimiliki semua pembalap: familiarity terhadap lintasan.Setiap tikungan di Jerez bukan hal baru bagi Veda.
Ia tahu di mana harus mengerem, kapan membuka gas, dan bagaimana menjaga ritme. Dalam balapan sekompetitif Moto3, detail kecil seperti ini bisa menjadi pembeda besar.
Menariknya, potensi duel lama juga terbuka kembali. Hakim Danish dan Brian Uriarte dipastikan tampil di seri ini. Artinya, rivalitas yang dulu tercipta di Rookies Cup bisa terulang—kali ini dengan intensitas yang lebih tinggi dan panggung yang lebih besar.
Pertanyaannya kemudian: apakah keajaiban dari posisi ke-15 ke podium bisa terulang?Jawabannya mungkin tidak sesederhana itu. Moto3 bukan Rookies Cup.
Level kompetisinya lebih brutal, lebih tak terduga. Namun jika ada satu hal yang bisa dipelajari dari kisah Veda di Jerez, itu adalah kemampuannya melampaui ekspektasi.
Ia tidak selalu menang dengan cara konvensional. Justru dalam situasi sulit, ia sering menemukan jalannya sendiri.
Dan di situlah benang merah dengan Valentino Rossi terasa relevan—bukan dalam angka, tetapi dalam mentalitas.
Jerez bagi Veda bukan hanya lintasan. Ia adalah ruang memori, tempat kepercayaan diri pernah tumbuh, dan kini diuji kembali.
Setelah crash di Amerika, ini adalah kesempatan untuk bangkit—bukan hanya mengumpulkan poin, tetapi juga memulihkan momentum.Karena dalam dunia balap, satu balapan bisa mengubah segalanya.
Kini, semua mata tertuju pada akhir April. Apakah Veda akan kembali menghadirkan manuver-manuver berani yang mengingatkan pada legenda? Atau justru menulis cerita baru yang sepenuhnya miliknya?
Yang pasti, Jerez selalu punya cara untuk melahirkan kisah besar. Dan Veda Ega Pratama, sekali lagi, berada tepat di tengahnya.





