Tidak semua orang yang terlihat kuat benar-benar hidup dalam kemudahan. Sebagian dari mereka hanya tidak punya pilihan selain bertahan. Saya adalah salah satunya.
Kehilangan, tanggung jawab, dan keadaan yang tidak pernah benar-benar berpihak bukanlah hal asing dalam hidup saya. Sejak ayah pergi untuk selamanya, hidup perlahan berubah menjadi sesuatu yang harus dijalani dengan lebih banyak diam, lebih banyak menerima, dan lebih banyak bertahan. Tidak ada lagi tempat bersandar yang sama. Tidak ada lagi rasa aman yang dulu hadir tanpa diminta. Yang tersisa hanyalah satu pilihan, terus berjalan, atau berhenti dan tenggelam dalam keadaan. Saya memilih berjalan.
Seiring waktu, ibu mencoba bangkit dan menikah lagi. Sebagai seorang anak, saya berusaha menerima, meskipun tidak mudah. Banyak hal yang saya pendam sendiri, mencoba memahami keadaan tanpa benar-benar mengerti. Saya belajar menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, berjalan pelan sambil membawa perasaan yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Namun hidup kembali menguji. Ibu jatuh sakit. Stroke. Satu kata yang sederhana, tetapi dampaknya mengubah segalanya. Saya melihat bagaimana seseorang yang dulu kuat kini harus berjuang untuk hal-hal sederhana dalam kesehariannya. Dalam kondisi itu, saya pernah meminta agar ibu dirawat bersama saya. Saya ingin menjaganya, memastikan ia tidak menghadapi semua ini sendirian.
Namun permintaan itu ditolak. Suaminya bersikeras bahwa ia akan bertanggung jawab. Saya mencoba percaya. Saya menahan diri. Saya memberi waktu. Tetapi kenyataan tidak selalu sejalan dengan harapan. Waktu berlalu, dan pada akhirnya ia menyerah. Ibu diserahkan kepada saya. Di titik itu, saya tidak punya banyak waktu untuk tenggelam dalam emosi. Tidak ada ruang untuk menyalahkan keadaan. Yang ada hanya satu kesadaran, sekarang saya harus kuat dan terus hidup.
Sejak saat itu, hidup saya berubah sepenuhnya. Saya bukan lagi hanya seorang anak. Saya menjadi tempat pulang, tempat bergantung. Saya belajar merawat, belajar bersabar, dan belajar bertahan, bahkan ketika saya sendiri merasa lelah.
Di tengah semua itu, hadir sosok yang tidak hanya menguatkan, tetapi juga menjadi alasan mengapa saya tidak boleh menyerah. Paman saya. Ia adalah seorang sarjana. Seseorang yang seharusnya bisa mengejar mimpinya sendiri, membangun hidupnya dengan cara yang ia inginkan. Namun ia memilih jalan yang berbeda. Ia mengorbankan mimpinya demi keluarga. Selama hampir dua belas tahun, ia merantau ke Taiwan. Bekerja jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan, jauh dari kehidupan yang mungkin ia impikan. Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kami, keluarga.
Ketika saya menempuh pendidikan S1, ia selalu hadir sebagai penguat. Tapi saat saya melanjutkan ke S2, pengorbanannya menjadi jauh lebih nyata. Ia membantu membiayai pendidikan saya, sekaligus menanggung kebutuhan ibu dan adik kecil saya.
Di saat saya berjuang mengejar masa depan, ia memastikan keluarga saya tetap bertahan. Setiap lelah yang saya rasakan, selalu terasa kecil dibandingkan dengan pengorbanannya. Dari situlah saya belajar, bahwa ada orang-orang yang memilih untuk diam, tapi mencintai dengan cara yang sangat besar.
Perjalanan pendidikan saya tidaklah mudah. Saat menempuh S1, saya harus berjalan dengan beban pikiran, perasaan, dan tanggung jawab yang tidak ringan. Namun saya tetap melangkah, pelan tapi pasti, hingga akhirnya saya berhasil menyelesaikannya.
Saya tahu perjalanan belum selesai. Saya memilih melanjutkan ke S2 dengan tekad dan keyakinan yang kuat. Saya berangkat ke Tanah Jogja dengan segunung harapan
Di fase ini, hidup terasa seperti ujian yang berjalan bersamaan. Saya harus membagi fokus antara pendidikan dan realitas hidup yang tidak sederhana. Namun saya tidak ingin menyerah, karena saya tahu ada begitu banyak pengorbanan yang tidak boleh saya sia-siakan.
Saya mengisi hari-hari dengan belajar, menulis, dan terus mendorong diri melampaui batas. Saya tidak menunggu keadaan menjadi sempurna, tetapi memilih untuk bergerak di tengah kesulitan.
Hingga akhirnya, semua usaha itu membuahkan hasil. Saya menyelesaikan S2 dengan baik, dalam waktu yang relatif cepat, melalui proses panjang yang penuh perjuangan dan karya. Pencapaian ini bukan hanya milik saya, tetapi juga milik mereka yang tidak pernah berhenti mendukung, terutama paman saya yang telah memberikan lebih dari yang bisa saya balas.
Dari sana, pintu terbuka. Saya kembali ke tempat saya bermula, tempat saya dulu belajar sebagai mahasiswa. Namun kali ini, saya tidak datang sebagai mahasiswa, melainkan sebagai seorang dosen. Di titik itu, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar bangga karena sebuah profesi, melainkan bangga karena perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada tujuan, dan setiap air mata serta perjuangan tidak ada yang sia-sia.
Saya melihat kebahagiaan di wajah keluarga saya. Saya melihat kebanggaan dari orang-orang yang dulu menyaksikan perjuangan saya. Teman-teman, kerabat, bahkan orang-orang yang mengenal saya, mulai melihat saya bukan hanya sebagai seseorang yang bertahan, tetapi sebagai seseorang yang berhasil melewati semua itu. Dan di dalam hati, saya hanya berkata. Semua ini bukan karena saya hebat. Semua ini karena saya tidak berhenti dan tidak pasrah pada keadaan.
Hari ini, ketika saya melihat ibu di rumah dalam kondisi yang tidak lagi sama, saya tidak melihatnya sebagai beban, melainkan sebagai alasan untuk tetap kuat dan terus berjalan tanpa menyerah.
Dan ketika saya mengingat paman saya, saya semakin yakin. Saya tidak punya alasan untuk berhenti. Jika ada seseorang yang mampu mengorbankan mimpinya demi saya, maka saya harus mampu memperjuangkan mimpi itu sampai selesai.
Untuk kamu yang hari ini sedang ragu melangkah, ingatlah bahwa kamu tidak harus menunggu hidup menjadi sempurna untuk bergerak. Kamu tidak harus bebas dari masalah untuk bisa maju. Yang kamu butuhkan hanyalah keberanian untuk mengambil satu langkah kecil, lalu langkah berikutnya.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa mudah jalan yang kita lalui yang menentukan, tetapi seberapa kuat kita memilih untuk tetap berjalan. Dan jika kamu merasa ingin menyerah, ingatlah, mungkin ada seseorang di belakangmu yang sedang berjuang lebih keras agar kamu bisa sampai sejauh ini.
-Tidak semua orang kuat sejak awal, tapi semua bisa memilih untuk tidak menyerah-





