Pendidikan Indonesia: Mengajarkan Hitung, tapi Lupa Mengajarkan Cara Berpikir

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pendidikan di Indonesia menunjukkan angka yang rendah jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan di negara lain. Hasil survei yang dikeluarkan oleh PISA (Programme for International Student Assesment) pada tahun 2019, menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke 47 dari 49 negara atau berada dalam posisi ke-6 terendah. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah dan belum mampu bersaing dengan partisipan global. Kondisi tersebut disebabkan oleh banyaknya hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan.

Kurikulum yang buruk dan membebani menjadi salah satu hambatan pelaksanaan pendidikan di Indonesia saat ini. Beban materi yang berlebihan membatasi kemampuan peserta didik untuk mengeksplorasi dan mengembangkan potensi mereka sesuai dengan minat dan kemampuan individu (Dzaky et al., 2025). Sekolah lebih sering menekankan kemampuan berhitung dan menghafal materi sehingga orientasi siswa hanyalah nilai ujian.

Ditambah lagi tekanan dari orang tua yang juga memprioritaskan hasil nilai ujian dan sistem perankingan. Kondisi ini menyebabkan siswa hanya fokus pada hasil angka nilai ujian, tidak memperhatikan sejauh mana materi yang ditangkap. Sekolah kurang melatih kemampuan berpikir kritis, analitis dan reflektif, sehingga hal ini tentunya juga berdampak pada budaya literasi para siswa di Indonesia.

Literasi sendiri mempunyai arti kemampuan memperoleh informasi dan menggunakannya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih suka berlaku menjadi “pembaca pasif” yang mendapatkan informasi dan mengunyah renyah persepsi yang dikemukakan dari televisi.

Sehingga persepsi yang ada dalam masyarakat, selalu berdasarkan persepsi di televisi. Pendidikan di sini seharusnya berperan sebagai sarana untuk membentuk cara berpikir kritis, bukan hanya untuk mentransfer pengetahuan.

Metode Pembelajaran yang Tidak Efektif

Sistem pendidikan nasional masih berpegang pada metode lama yang metode pembelajarannya cenderung satu arah (teacher centered). Ilmu diberikan atau diajarkan oleh orang yang lebih pandai atau guru kepada murid. Guru memberi materi, sementara siswa cenderung pasif dan lalu menerima dengan tidak ada kritik atau pendapat terhadap guru. Sehingga, terjadi pola siswa hanya harus menerima dan mengikuti apa yang diberikan guru tanpa berpikir ulang validitas dari pernyataan yang diberikan guru.

Selain itu, mayoritas sekolah juga berorientasi pada nilai ujian akademik. Bobot ilmu terletak pada hasil akhir atau final product, di mana seorang yang mendapat nilai bagus pasti akan selalu mendapat label murid rajin dan pintar.

Padahal, goals pendidikan adalah bagaimana siswa dapat bekerja keras, penuh tanggung jawab, jujur, dan disiplin dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran harusnya menitikberatkan pada meneliti, bukan menerima barang jadi.

Dampak terhadap Pola Pikir Siswa

Dampak dari sistem pendidikan yang ada yaitu siswa menjadi kurang terbiasa berpikir kritis dan memecahkan masalah yang ada. Siswa juga ketergantungan pada jawaban benar-salah tanpa berpikir melalui proses yang mendalam. Akibatnya, di era digital yang serba sosial media ini siswa dapat dengan mudah tergiring opini atau termakan hoax yang beredar di sosial media.

Pola yang dihasilkan oleh metode pembelajaran teacher centered juga akan secara tidak sadar terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Siswa akan mudah untuk menelan mentah informasi dan akan kesulitan menghadapi masalah nyata di masyarakat. Selain itu, kurangnya kreativitas dan kemampuan berinovasi juga menjadi dampak yang muncul karena kesalahan sistem ini.

Tujuan Ideal Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi siswa dalam mengembangkan nalar, kreativitas, dan karakter. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan tidak hanya untuk menghasilkan siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga harus mampu berpikir mandiri dan bertanggung jawab. Sistem pembelajaran yang ada harusnya mendorong siswa untuk berdiskusi, menganalisis, serta mengeksplorasi ide.

Hal ini penting untuk meningkatkan pemahaman yang mendalam, melatih kemampuan berpikir kritis, serta melatih kerja sama siswa. Metode ini mengubah kelas menjadi ruang eksplorasi aktif, bukan hanya untuk “menghafalkan” materi.

Upaya Mewujudkan Pendidikan Berkualitas

Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang berhasil mencetak generasi berpola pikir yang berkembang dan maju serta memiliki nilai akhlak mulia dengan menerapkan sendiri sebagai contoh serta menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan (Firnando, 2020). Sejalan dengan sebuah pendapat menyatakan bahwa pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang mampu memenuhi harapan dan mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan masyarakat, untuk mewujudkan harapan masyarakat, sekolah dan guru harus mempunyai harapan yang tinggi terhadap siswa (Aziz, 2015).

Untuk mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas, perlu ada perubahan mendasar pada metode pembelajaran yang ada. Beberapa solusi yang bisa ditawarkan adalah mengubah metode pembelajaran dari teacher centered menjadi student centered learning. Siswa tidak hanya pasif mendengarkan materi dari guru, namun juga turut aktif agar pembelajaran di kelas menjadi dua arah.

Selain itu, sistem evaluasi juga perlu diperbaiki sehingga tidak hanya fokus pada hasil ujian, tetapi juga menilai proses berpikir, serta pemecahan masalah pada pembelajaran siswa. Di sisi lain, sekolah juga harus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan menjadi ruang eksploratif yang terbuka bagi perbedaan pendapat, sehingga siswa terbiasa untuk menyampaikan gagasan yang logis dan bertanggung jawab.

Penutup: Pendidikan sebagai Proses Membentuk Cara Berpikir

Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan berhitung dan memahami materi, melainkan mampu untuk membentuk cara berpikir siswa secara kritis dan analitis. Sistem pendidikan juga perlu bertransformasi dari yang berorientasi pada hasil ujian menjadi berorientasi pada proses dan kerja keras siswa dalam memperoleh ilmu.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan harus mampu untuk mewadahi siswa dengan memberikan fasilitas yang memadai dan menciptakan ruang belajar yang mendorong siswa untuk mengeksplorasi, serta mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Dengan demikian, jika pendidikan mampu mengajarkan cara berpikir yang baik, maka akan menghasilkan siswa yang siap menghadapi tantangan masa depan dan mampu berkontribusi positif pada masyarakat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Revitalisasi Lahan Rusak Dipercepat, 1.000 Hektare Sawah di Sumatera Pulih
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Film Insidious: Out Of The Further Hadirkan Teror Dunia Supranutral “The Further”
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Heboh Pulau Umang Banten Dijual Rp65 Miliar, KKP Buka Suara
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Alcaraz mundur dari Barcelona Open 2026
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Bina Marga DKI Ganti Tiang Optik yang Roboh di Tamansari Jakbar
• 21 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.