Lagu berjudul "Erika" tengah ramai diperbincangkan publik, bukan tanpa alasan lagu ang diciptakan dan disebarkan oleh mahasiswa Fakultas Teknik Pertambangan dan Periminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) dinilai vulgar bahkan mengandung unsur pelecehan seksual.
Tak sampai disitu fakta lainnya, lagu ini disebut-sebut telah diciptakan sejak tahun 1980-an oleh Orkes Semi Dangdut HMT-ITB (OSD) dan telah diunggah di platform YouTube, Apple Music, dan Spotify sejak tahun 2020.
Salah satu lirik dalam lagu tersebut, seperti “Erika buka celana, diam – diam main gila” mendapat kecaman keras dari warganet.
HMT-ITB Minta MaafHimpunan Mahasiswa Tambang, Institut Teknologi Bandung (HMT-ITB) buru-buru meminta maaf usai lagu "Erika" viral di media sosial.
"Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas beredarnya lagu yang menimbulkan keresahan publik. Kami sangat memahami dan menyadari sensitivitas isu ini dan menyampaikan keprihatinan serta empati kepada masyarakat, khususnya perempuan," tulis keterangan resmi yang diunggah di akun Instagram HMT-ITB @yudhabumi pada Rabu, 15 April 2026.
Dari unggahan tersebut Pihak HMT-ITB menyadari telah lalai karena lagu jadul “Erika” itu tetap ditampilkan meski tidak lagi relevan dengan norma sosial dan kesusilaan yang berkembang saat ini.
"Kami menyadari bahwa merupakan sebuah kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini," sebut pernyataan tersebut.
HMT-ITB juga mengakui mengakui bahwa konten dalam penampilan tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik dan organisasi kemahasiswaan, serta tidak membenarkan segala bentuk tindakan yang merendahkan martabat individu atau kelompok manapun.
ITB Perketat Etika Medsos MahasiswaInstitut Teknologi Bandung (ITB) menanggapi insiden ini sebagai momentum untuk memperkuat budaya etika di lingkungan kampus. Penguatan karakter mahasiswa menjadi salah satu prioritas utama bagi ITB.
Dengan menanamkan nilai-nilai positif kepada mahasiswa, diharapkan mereka dapat menjadi individu yang lebih bertanggung jawab dan peka terhadap isu sosial, terutama yang berhubungan dengan penghormatan terhadap martabat manusia.
"ITB memandang peristiwa ini sebagai momentum penting untuk memperkuat budaya kampus yang menjunjung etika, penghormatan terhadap martabat manusia, serta pencegahan segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual verbal," kata Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Dr. N Nurlaela Arief dalam keterangan di Bandung, Rabu, 16 April 2026. Mengutip ANTARA.
Menyikapi polemik tersebut, Nurlaela mengatakan HMT-ITB secara terbuka telah menyampaikan permohonan maaf dan mengakui bahwa konten yang beredar tidak mencerminkan nilai-nilai akademik.
Dengan upaya penguatan etika dan kesadaran sosial di kalangan mahasiswa, ITB berkomitmen untuk terus mendorong keberlanjutan lingkungan pendidikan yang sehat, professional, dan bermartabat.




