Lapak Buku Pondok Cina, Ruang Nostalgia Mahasiswa Depok dari Masa ke Masa

kompas.com
6 jam lalu
Cover Berita

DEPOK, KOMPAS.com - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Stasiun Pondok Cina, Depok, sebuah lapak buku lama berdiri sederhana di pinggir jalan.

Suara gemuruh kereta yang melintas, disusul sirine perlintasan, kerap memecah suasana di sekitar kios yang menjadi tempat mahasiswa berburu buku murah itu saat dikunjungi Kompas.com, Rabu (15/4/2026).

Dari luar, spanduk lusuh bertuliskan “TOKO BUKU MAIL POCIN” menggantung di atas lapak.

Meski hanya berukuran sekitar 4 x 2 meter, kios tersebut dipenuhi buku hingga nyaris tak menyisakan ruang.

Baca juga: Cerita Pedagang Emas Senen Jadi “Agen Lapangan”, Rugi Puluhan Juta akibat Emas Lapisan

Rak-rak kayu menempel rapat di dinding, sementara tumpukan buku membentuk lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu orang.

Aroma kertas tua dan debu samar menyambut pengunjung yang masuk.

Di balik tumpukan itu, Marita (46), pemilik lapak, duduk menjaga kios.

Ia sesekali menoleh ketika mahasiswa datang, lalu melontarkan pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sudah seperti mantra harian.

“Cari buku apa?” tanyanya.

Tak sedikit mahasiswa hanya bertanya karena buku yang dicari kosong. Ada pula yang sekadar melihat-lihat dan membolak-balik buku tanpa membeli.

Namun, arus pengunjung tetap datang silih berganti.

Lapak buku lama Pondok Cina masih menjadi ruang literasi kecil yang bertahan di tengah dominasi e-book dan budaya membaca serba digital.

Di kawasan yang kini dipenuhi apartemen, kafe, minimarket, hingga toko buku modern yang terang dan rapi, lapak Marita terasa seperti sisa wajah lama Pondok Cina.

Ia tidak menawarkan pendingin ruangan atau rak buku yang tertata rapi. Ia menawarkan pengalaman berburu, tumpukan buku acak, harga miring, serta kemungkinan menemukan judul yang tak terduga.

Di tempat ini, mahasiswa sering datang dengan catatan judul buku di ponsel, lalu jongkok berlama-lama di sela lorong sempit.

Sesekali terdengar suara halaman dibalik, bunyi plastik pembungkus, atau percakapan kecil antarteman yang sedang mencocokkan daftar bacaan mata kuliah.

Baca juga: Orangtua Korban Perundungan di Bekasi Ngaku Diminta Rp 200 Juta: Saya Tidak Sanggup

Pernah ditertibkan

Lapak buku yang kini dikenal sebagai Toko Buku Mail Pocin bukan usaha yang baru muncul belakangan.

Marita sudah berjualan sejak 2006, saat dirinya masih membuka lapak di kawasan Stasiun UI.

Kala itu, lapak-lapak buku lama tumbuh di pinggiran rel dan menjadi “pasar kecil” yang ramai didatangi mahasiswa Universitas Indonesia.

Mahasiswa datang dengan daftar bacaan semesteran, menawar harga, lalu pulang membawa buku-buku tebal yang menjadi bekal kuliah.

Namun, perubahan tata ruang mengubah semuanya. Penertiban dilakukan di kawasan pinggiran rel. Lapak-lapak yang dulu berdiri di seberang jalur kereta akhirnya dibubarkan.

“Kalau di sini dari 2011. Dulu saya jualan di Stasiun UI,” kata Marita saat ditemui Kompas.com, Rabu.

Lapaknya mulai ramai sekitar 2012. Saat itu, mahasiswa masih bergantung pada buku fisik.

Budaya membeli buku asli atau setidaknya memiliki buku pegangan masih kuat.

Marita juga mengingat dulu kawasan Pondok Cina tidak hanya memiliki satu kios buku. Ada beberapa pedagang lain yang berjualan dalam radius dekat stasiun. Namun, satu per satu menghilang.

“Pedagang lain ada yang malah balik lagi ke UI. Jadi gantian,” ujar Marita.

Kini, lapak Marita menjadi salah satu yang masih aktif buka setiap hari. Sementara lapak-lapak lain lebih sering tutup atau hanya buka sesekali.

Ukuran kios Marita tidak besar. Namun, isinya seolah tak terbatas. Tumpukan buku memenuhi hampir seluruh ruang.

Ada buku yang disusun tegak di rak kayu, ada pula yang ditumpuk horizontal hingga membentuk menara kecil.

Sebagian buku tampak menguning dan berdebu, sebagian lainnya masih rapi terbungkus plastik.

Marita memperkirakan jumlah koleksinya mencapai ribuan eksemplar. Buku tertua yang masih tersimpan berasal dari awal ia mulai berjualan.

“Ribuan. Yang paling lama itu dari awal saya buka, 2006,” kata dia.

Buku yang dijual beragam. Ada buku hukum, teknik, psikologi, komunikasi, ilmu sosial, hingga ekonomi.

Ada pula novel, kamus, buku pengembangan diri, bahkan terbitan lama yang sudah jarang muncul di toko buku modern.

Sistem jualannya campur, antara buku baru dan buku bekas.

“Ada yang baru, ada yang bekas,” ujar Marita.

Namun, kios kecil itu bukan satu-satunya tempat penyimpanan. Marita mengaku jumlah buku di rumahnya jauh lebih banyak karena kios tak lagi mampu menampung.

“Di rumah lebih banyak. Bisa tiga ruko kalau ditumpuk,” kata Marita.

Bagi Marita, buku-buku itu bukan sekadar barang dagangan. Ia merawatnya seperti menyimpan arsip, meski sebagian sudah rapuh dimakan usia.

Baca juga: Pembegal Motor Petugas Damkar di Gambir Beraksi demi Dapat Uang untuk Pesta

Buku kuliah tetap dicari

Jenis buku yang dijual Marita berubah mengikuti zaman. Jika dulu buku SMP dan SMA mendominasi, kini stok buku sekolah lebih jarang terlihat.

Penyebabnya adalah perubahan kurikulum yang terlalu cepat. Buku pelajaran menjadi cepat usang. Begitu kurikulum berganti, buku lama tak lagi dipakai dan sulit diputar kembali.

“Sekarang buku SMP-SMA udah enggak saya taruh di sini karena tempatnya enggak memadai. Saya simpan di rumah,” ujar Marita.

Namun bukan hanya soal tempat. Ia menilai buku sekolah kini tidak lagi menjanjikan karena cepat tidak relevan.

“Karena program pemerintah, kurikulum sering ganti. Jadi bukunya cepat enggak kepakai. Jadi saya stop,” kata dia.

Sebaliknya, buku kuliah masih memiliki pasar yang lebih stabil. Beberapa bidang seperti hukum, teknik, dan psikologi tidak banyak berubah sehingga buku edisi lama masih relevan dipakai lintas angkatan.

Yang lebih sering berganti edisi, menurutnya, adalah buku ekonomi dan akuntansi. Mahasiswa jurusan ini kerap mencari versi terbaru karena materi terus diperbarui.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Ekonomi sama akuntansi. Mereka sering ganti edisi,” kata dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PLN ULP Kota Bungo Optimalkan Inspeksi Drone, Deteksi Dini Gangguan Listrik Lebih Cepat dan Akurat
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
Penjualan Gucci Anjlok 8 Persen pada Kuartal I-2026, Pasar Timteng Tertekan Perang
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Drama 7 Gol di Allianz! Bayern Munich Tumbangkan Harapan Real Madrid dan Lolos ke Semifinal Liga Champions
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Petani Sawit Kaltim Kebanjiran Rezeki di Tengah Gejolak Geopolitik
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Tulis Surat, Trump Minta Presiden Tiongkok Tidak Kirim Senjata ke Iran
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.