Bisnis.com, BALIKPAPAN — Angin segar menghembus di tengah petani kelapa sawit Kalimantan Timur, mengingat harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit mencatatkan kenaikan konsisten dalam beberapa pekan terakhir.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ahmad Muzakkir menyatakan tren kenaikan harga ini tidak muncul tanpa sebab.
Menurutnya, fenomena ini dipicu oleh penguatan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar internasional yang dibarengi dengan lonjakan permintaan global.
"Harga rata-rata tertimbang CPO saat ini berada pada level Rp14.705,52 per kilogram, sementara kernel mencapai Rp13.757,20 per kilogram," kata Ahmad Muzakkir dalam keterangan resmi, Kamis (16/4/2026).
Dia menambahkan, pihaknya menetapkan harga TBS periode 1 April-15 April 2026 yang bervariasi berdasarkan umur tanaman. Pohon sawit berusia 3 tahun, harga ditetapkan Rp3.036,58 per kilogram.
Lebih lanjut, Muzakkir merinci bahwa sawit berusia 4 tahun dihargai Rp3.235,43 per kilogram, 5 tahun mencapai Rp3.257,56 per kilogram, dan 6 tahun naik menjadi Rp3.293,28 per kilogram.
Baca Juga
- Daya Beli Petani Kaltim Tergerus 0,72% pada Maret 2026
- Ekspor Kaltim Naik, Impor Ambruk di Februari 2026
- Kalsel Diminta Lepas Ketergantungan Komoditas Mentah
"Selanjutnya, untuk umur 7 tahun Rp3.313,65 per kilogram, 8 tahun Rp3.338,17 per kilogram, 9 tahun seharga Rp3.410,56 per kilogram, dan 10 tahun mencapai Rp3.450,42 per kilogram," paparnya.
Kendati demikian, dia menyebutkan daftar harga tersebut merupakan standar bagi petani yang telah menjalin kemitraan dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit di Kaltim, khususnya kebun plasma.
Dengan kata lain, kolaborasi antara kelompok tani dan Pabrik Minyak Sawit (PMS) menjadi kunci untuk memastikan transparansi harga.
Adapun dia berharap skema kemitraan ini mampu memangkas rantai distribusi yang kerap merugikan petani, terutama praktik manipulasi harga oleh para tengkulak yang selama ini bagaikan lintah darat.
"Melalui pola kemitraan ini, kami optimistis kesejahteraan petani kelapa sawit dapat terwujud secara nyata dan berkelanjutan," pungkasnya.





