Harga Emas Tertekan di Tengah Optimisme Perdamaian di Timur Tengah

bisnis.com
17 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas berakhir melemah pada perdagangan Rabu (15/4/2026), meskipun ada optimisme yang kian menguat bahwa gejolak di Timur Tengah akan bermuara pada kesepakatan damai jangka panjang mulai mengembalikan stabilitas di pasar keuangan global.

Berdasarkan data Kitco, Kamis (16/4/2026), harga emas di pasar spot terpantau melemah 1,05% atau 50,28 poin ke level US$4.790,94 per troy ounce.

Senior Market Analyst Pepperstone Michael Brown mengatakan level US$4.800 per troy ounce menjadi ambang awal yang harus ditembus emas untuk membangun kembali kepercayaan bullish di kalangan investor. Meski pelaku pasar mulai mengantisipasi potensi kesepakatan damai, investor emas dinilai masih cenderung berhati-hati.

Menurutnya, pasar emas masih perlu mengurai tekanan spekulatif yang sebelumnya mendorong harga ke rekor tertinggi pada Januari. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang menahan laju kenaikan harga emas saat ini.

Tekanan terhadap emas terjadi di tengah indeks dolar AS yang masih bergerak di kisaran 98, mendekati level terendah sejak akhir Februari. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran dinamika pasar yang tidak sepenuhnya selaras dengan pola historis.

“Emas diperdagangkan lebih menyerupai aset berisiko dengan beta tinggi ketimbang sebagai safe haven. Selain itu, bullion menunjukkan korelasi yang sangat minim, bahkan hampir tidak ada, dengan pendorong tradisional seperti nilai dolar atau pergerakan imbal hasil riil,” ungkap Brown seperti dikutip Kitco, Kamis (16/4/2026).

Baca Juga

  • Harga Emas Perhiasan Hari Ini 16 April Naik Jadi Rp2,502 Juta per Gram, Buyback Rp2,52 Juta
  • Harga Emas Turun? Ini Penyebab dan Strategi Investasi untuk Pemula
  • Pergerakan Harga Emas Hari Ini, Rabu 14 April di Pasar Spot

Ia berpendapat bahwa prospek emas sangat bergantung pada konflik di Timur Tengah yang tetap berada pada jalur de-eskalasi seperti saat ini. Selama kondisi tersebut bertahan, maka emas diperkirakan tetap memiliki penopang, dengan arah pergerakan yang masih berpotensi menguat dalam jangka pendek.

Ke depan, Brown menilai emas berpeluang kembali menarik minat seiring pergeseran fokus pasar dari krisis saat ini ke dampak ekonomi yang ditimbulkan. Evaluasi terhadap besarnya kerusakan ekonomi global diperkirakan akan menjadi faktor kunci berikutnya.

Dia menambahkan, ekonomi AS saat ini berada dalam posisi yang relatif lebih kuat untuk menghadapi tekanan. Selain berstatus sebagai eksportir energi bersih, kondisi konsumen domestik juga dinilai cukup solid sebelum konflik pecah.

“Tidak hanya karena AS merupakan eksportir energi bersih, tetapi juga karena kondisi konsumen relatif sehat sebelum konflik terjadi. Di sisi lain, pemulihan di Wall Street berpotensi menjaga efek kekayaan (wealth effect), yang pada akhirnya menopang belanja konsumen, terutama pada kelompok berpendapatan tinggi,” lanjutnya.

Sebaliknya, Uni Eropa dan Inggris yang masih bergantung pada impor energi menghadapi risiko yang lebih besar. Brown melihat potensi meningkatnya risiko kesalahan kebijakan moneter oleh Bank of England maupun Bank Sentral Eropa dalam merespons tekanan inflasi.

“Hal ini memunculkan pertanyaan menarik, apakah pasar akan menyambut pengetatan kebijakan dengan mengerek nilai mata uang terkait karena imbal hasil yang lebih tinggi, atau justru bereaksi negatif karena kenaikan suku bunga akan menjadi hambatan tambahan bagi aktivitas ekonomi,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Indonesia Buka Peluang Ekspor Pupuk Urea ke Australia
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Bareskrim Geledah 5 Gudang di Jakarta, Sita Ribuan HP Impor Ilegal
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
5 Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Beli Jam Tangan Mewah
• 7 jam lalubeautynesia.id
thumb
Helikopter PK-CFX Jatuh di Sekadau Kalbar, Tim SAR Dikerahkan
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Basarnas Kerahkan Heli Super Puma Cari Korban Helikopter Jatuh di Sekadau Kalbar
• 4 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.