Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono telah bertemu dengan Duta Besar Australia, Rod Brazier, untuk membahas peluang ekspor pupuk urea oleh Indonesia ke Australia. Hal ini terjadi akibat adanya gangguan rantai pasok pupuk dunia karena perang.
Sudaryono menjelaskan nantinya hubungan perdagangan pupuk antara Indonesia dan Australia bersifat timbal balik. Indonesia tak hanya mengekspor urea ke Australia, namun juga mengimpor bahan baku seperti fosfat, termasuk jenis DAP atau Diammonium Phosphate dari Australia.
“Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah bagaimana kita mengamankan kepentingan nasional sekaligus menjaga hubungan dagang yang sehat,” kata Sudaryono dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4).
Dia menuturkan bahwa kondisi perang sudah berdampak signifikan terhadap ketersediaan pupuk internasional. Dalam kondisi itu, Indonesia unggul karena mampu memproduksi pupuk urea secara mandiri.
“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, Sudaryono menjelaskan kebutuhan pupuk dalam negeri tetap menjadi prioritas utama meski ada peluang ekspor.
“Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor,” kata Sudaryono.
Adapun kapasitas produksi pupuk urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,36 juta ton hingga 9,4 juta ton per tahun.
Pada tahun 2026, produksi urea ditarget bisa mencapai 7,8 juta ton dengan kebutuhan subsidi 6,3 juta ton dan terdapat potensi ekspor 1,5 juta ton. Surplus tersebut membuka peluang ekspor ke berbagai negara termasuk Australia.
Sudaryono juga menjelaskan bahwa pemerintah ke depan berencana melakukan peremajaan pabrik-pabrik pupuk yang sudah tua untuk meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global.
Selain Australia, beberapa negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil juga minat terhadap pupuk urea Indonesia. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan pupuk nasional tetapi juga berpotensi menjadi pemasok pupuk di pasar internasional.





