JAKARTA, KOMPAS.com- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan, banjir yang melanda Kota Solo dan Kabupaten Bandung dipicu oleh intensitas hujan tinggi sebagai dampak tidak langsung dari masih eksisnya Bibit Siklon Tropis 92S.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebutkan, meskipun posisi bibit siklon di barat daya Sumatera tersebut mulai menjauhi Indonesia, dampaknya masih memicu cuaca ekstrem di wilayah Sumatera bagian selatan hingga Jawa.
"Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan karena potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam dua-tiga hari ke depan," kata Abdul, Kamis (16/4/2026), dikutip dari Antara.
Baca juga: Banjir Solo-Sukoharjo Disebut Tak Biasa, Ini Analisis Terbaru BMKG
BNPB melaporkan, banjir melanda Solo mulai Selasa (14/4/2026) malam pukul 21.42 WIB setelah hujan deras mengguyur wilayah Solo Raya.
Hingga Rabu (15/4/2026) petang, 1.083 kepala keluarga (KK) terdampak yang tersebar di 12 kelurahan, termasuk Kelurahan Pajang, Kedung Lumbu, dan Tipes.
Selain genangan air, bencana tersebut mengakibatkan longsor di Kelurahan Pajang sehingga sejumlah warga dilaporkan sempat mengungsi ke masjid, sekolah, dan balai warga.
Sementara, banjir Kabupaten Bandung dipicu oleh hujan lebat dan jebolnya tanggul Sungai Cisunggalah pada periode yang sama.
Baca juga: 300 Meter Kubik Diangkut Saat Banjir Bandung, Farhan: Saya Curiga Sampah Sungai Bertambah
Bencana ini berdampak pada dua kecamatan, yakni Majalaya dan Bojongsoang, serta berdampak ke sekitar 250 orang.
BNPB menyebutkan, banjir wilayah Majalaya sudah surut total, tetapi banjir masih terjadi di Bojongsoang dengan ketinggian antara 10-150 centimeter.
Menurut Abdul, untuk penanganan di Kota Surakarta petugas gabungan BPBD kota setempat telah menyalurkan bantuan logistik berupa matras, sembako, serta mendirikan dapur umum.
Adapun di Kabupaten Bandung petugas gabungan bersama warga saat ini masih melakukan asesmen dan pembersihan material lumpur secara gotong royong.
Wilayah tersebut kini masih berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi sesuai keputusan pemerintah daerah setempat.
Merujuk laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BNPB mengingatkan wilayah Sumatera bagian tengah, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jakarta, hingga Jawa Tengah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi risiko bencana hidrometeorologi susulan dalam beberapa hari ke depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




