Sepatu tidak lagi sekadar alas kaki, tetapi menjelma menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup. Perubahan ini membuka pasar yang besar, tidak lagi berhenti pada jasa laundry, tetapi merambah pada kebutuhan reparasi dengan sentuhan selera kekinian.
Dari garasi rumahnya di Perumahan Unnes, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Wirawan Ari Suryadi (42) merintis usaha reparasi sepatu sejak 2017. Terinspirasi dari namanya dan istilah dalam dunia sepatu, ia memberi jenama Waskix. Sebuah identitas yang juga merefleksikan latar belakangnya sebagai anak band.
Kecintaannya pada sepatu menjadi titik awal. Ia mengoleksi berbagai jenis, hingga menyadari sebagian justru rusak karena jarang dipakai. ”Karena harganya lumayan mahal, saya coba reparasi sendiri,” ujarnya.
Dari proses coba-coba itu, Wirawan menekuni reparasi secara lebih serius. Mempelajari berbagai teknik, mulai dari mengenali bahan, pengeleman, hingga pewarnaan. Saat itu, tren perawatan sepatu masih didominasi jasa cuci, sementara layanan reparasi dan restorasi belum banyak digarap.
Di bengkelnya, aktivitas berlangsung nyaris tanpa jeda. Di antara tumpukan sepatu, Andi (23) tampak memperbaiki sepasang sepatu lari, Rabu (15/4/2026). Tangannya mengoperasikan gerinda kecil untuk merapikan sol sebelum proses pengeleman. Sesekali ia memicingkan mata, memastikan setiap detail tertangani dengan presisi.
Selama dua tahun menjadi teknisi, Andi menyebut tantangan terbesar ada pada penyesuaian ukuran. ”Kalau mengecilkan atau membesarkan, paling maksimal hanya satu sentimeter,” katanya.
Bagi Wirawan, sepatu tak lagi sekadar benda fungsional, tetapi juga koleksi yang bernilai. Karena itu, setiap proses perbaikan menuntut ketelitian tinggi. Ia menunjukkan sepasang sepatu Louis Vuitton yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah dan tengah dalam antrean reparasi.
Menariknya, pelanggan Waskix tak hanya dari dalam kota, pesanan bahkan datang dari luar negeri. Salah satunya dari Inggris. ”Ada tiga pasang dari Birmingham, minta ganti outsole. Mereka maunya yang profesional, tidak mau yang biasa,” katanya.
Tak sedikit pula sepatu langka yang masuk ke bengkelnya. Salah satunya Adidas rilisan 1979 yang kini jadi buruan kolektor.
Pasar Waskix bertumbuh dari jejaring pertemanan dan komunitas dan dalam beberapa tahun terakhir jangkauannya meluas. Tumpukan sepatu dari berbagai jenis, terutama sneakers yang lekat dengan gaya anak muda, menjadi penanda panjangnya antrean.
Media sosial turut menjadi pengungkit usaha ini. Melalui Instagram dan Tiktok, Waskix menjangkau konsumen lebih luas sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu rujukan reparasi sepatu skena di Semarang.
Tak hanya menjalankan usaha, Wirawan juga berbagi pengetahuan. Ia kerap diundang menjadi pemateri bagi anak muda yang ingin merintis bisnis perawatan sepatu. ”Semua jenis sepatu bisa kami perbaiki, kecuali sepatu kaca Cinderella,” ujarnya berseloroh.





