Musim hujan baru saja berlalu dan terik langsung datang menghujam Sabu, pulau mungil di tepian Samudera Hindia. Belum sampai pukul 10.00 Wita, suhu sudah menembus 30 derajat Celcius. Di bawah payung terik itu, anak-anak Pulau Sabu mengungkapkan keresahan mereka pada bumi yang kian mendidih.
"Hujan mulai jarang turun, tanah kering, suhu udara panas. Petani harus merawat tanaman agar tidak mati. Harus hemat menggunakan air. Harus sabar," tutur Mariam Djami Kore (12), siswi kelas 5 SD Negeri Tada, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, Rabu (15/4/2026).
Mariam membawakan cerita itu disaksikan ratusan orang yang memenuhi tenda di halaman kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Sabu Raijua. Audiens menyimaknya, termasuk para juri yang menilai penampilan Mariam dalam lomba bertutur alam dan budaya Sabu.
Kegiatan bertajuk "Bhineka Iklim dalam Tutur" itu diselenggarakan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara, lembaga nonpemerintah yang kini fokus pada isu perubahan iklim. Peserta di panggung final itu terdiri atas 11 siswa SD dan sembilan siswa SMP.
Cerita yang disampaikan Mariam berangkat dari pengalamannya sendiri. Setiap hari, ia berjalan kaki mengambil air di sungai. Ketika air sungai mengering, mereka mengambil air dari sumur. "Tapi air sumur cepat mengering. Warnanya juga keruh," ucapnya.
Rambu Reza Amelia Putri (9) dari SD Negeri 1 Seba tampil lebih ekspresif. Dengan gaya monolog, ia mengisahkan tentang alam Sabu yang keras. Kekeringan, badai, dan gelombang tinggi menerjang hampir sepanjang waktu. Kondisi itu membuat orang Sabu terlahir menjadi manusia tangguh.
Bagi Reza, musim kemarau mengajarkan tentang kesabaran menghadapi kehidupan yang keras. Di tengah alam tandus itu, pasti ada harapan seperti hujan yang selalu datang pada waktunya. Reza pun percaya bahwa alam tak pernah ingkar janji pada manusia.
Kendati demikian, perubahan iklim yang terjadi kian menjadi tantangan. Kondisinya tambah parah akibat perilaku manusia seperti menebang pohon. "Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita," ucap Reza memberi pesan di akhir cerita.
Pulau Sabu memiliki luas sekitar 379 kilometer persegi. Pulau mungil itu dikepung perairan luas. Di sisi utara ada Laut Sawu, sedangkan di selatan terdapat Samudera Hindia. Dari Kota Kupang, ibukota NTT, perjalanan ke Sabu dengan kapal laut paling cepat butuh waktu 11 jam pelayaran. Adapun jika memakai penerbangan perintis, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam.
Sebagian besar wilayah pulau tersebut terdiri dari batu karang. Permukaan tanah tak bisa menyimpan air. Kendati baru beberapa pekan memasuki musim kemarau, banyak tanaman sudah menguning karena kekurangan air. Kekeringan berlangsung hingga November dan Desember.
Saat musim kemarau, air sungai tak lagi mengalir. Debitnya berkurang. Air tertahan di celah-celah batu dan sebentar kemudian kering. Di sisi lain, air sumur mulai keruh. Ibu-ibu dan anak-anak pun harus memikul jeriken, lalu berjalan kaki setiap pagi dan sore untuk mencari sumber air di tempat yang jauh.
Manajer Senior Ketahanan Pesisir Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Mariski Nirwan, mengatakan, kondisi Pulau Sabu sangat rentan terhadap perubahan iklim yang dampaknya kini sudah terasa. Suhu kian panas, gagal panen, krisis air bersih, dan penyakit bermunculan.
Selain itu, kenaikan muka air laut menyebabkan wilayah pesisir terus-menerus digerus gelombang pasang Samudera Hindia dan Laut Sawu. Kehidupan nelayan dan petambak garam terusik. Sayangnya, banyak orang belum begitu sadar.
Sebagai juri perlombaan, Mariski menangkap keresahan yang dituturkan peserta. Mereka tampil satu per satu dengan berbagai variasi cerita. Hal ini menunjukkan, kesadaran soal perubahan iklim mulai tumbuh di kalangan anak-anak. Langkah selanjutnya adalah mendorong adaptasi terhadap perubahan iklim.
Mariski meyakini, upaya beradaptasi perubahan iklim sudah tumbuh dalam tatanan budaya masyarakat Sabu. Leluhur Sabu punya pengetahuan dan kearifan memahami alam, misalnya dalam hal membaca tanda-tanda musim, mengolah lahan tandus, hingga patuh pada larangan merusak hutan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sabu Raijua, Lady Heart, mengatakan, berbagai kearifan lokal yang diceritakan dalam lomba itu adalah praktik baik yang selama ini tidak banyak diketahui anak-anak. Oleh karena itu, lomba tersebut turut memperkaya literasi budaya anak-anak.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sabu Raijua, Yoel Riwu, menambahkan, keresahan pada perubahan iklim dan upaya adaptasi yang diungkapkan anak-anak Sabu diharapkan tak hanya berakhir di panggung. Hal itu harus terus didorong agar menjadi aksi nyata dalam praktik keseharian.
Kita jaga alam, maka alam akan menjaga kita





