Aiptu Fery Hermawan berupaya meningkatkan perekonomian desa di Kecamatan Muara Uya, Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel) melalui pembinaan petani, peternak dan UMKM. Bhabinkamtibmas Polsek Muara Uya dikenal oleh masyarakat setempat sebagai sosok polisi yang solutif.
Atas aksinya itu, Aiptu Fery diusulkan sejumlah warga Muara Uya. Salah satu pengusul, Deka Ali Asad, menjelaskan beberapa program yang dikembangkan oleh Aiptu Fery, berikut testimoninya:
Bhabinkamtibmas dan Kades mendukung swasembada pangan dan perekonomian pada desa binaan, dengan inovasi pemanfaatan anggaran ketahanan pangan desa untuk bantuan ternak kambing guna dikembangbiakkan. Sehingga desa binaan menjadi percontohan dan penghasil lumbung ternak kambing.
Mendukung perekonomian UMKM desa binaan melakukan pendampingan UMKM dalam pengolahan pelepah kering pohon pisang menjadi kerajinan peci dan topi bernilai ekonomis.
Mencegah tindakan bullying dengan program Bedangsanak yang merangkul dan mengarahkan anak-anak dan remaja stop bullying.
detikcom kemudian menghubungi Deka Ali yang merupakan tokoh masyarakat setempat dan pengurus desa. Deka menyebut Aiptu Fery bersama pihak desa memanfaatkan anggaran desa untuk memodali peternakan kambing dan sapi.
"Kemarin kan itu peternakan kambing dan sapi di Desa Uwie, terus kerja sama dengan berbagai pihak, dalam hal ini Pak Fery turut andil bidang pengawasan pelaksanaan program tersebut," kata Deka kepada detikcom, Kamis (12/3/2026).
Dalam program peternakan ini, warga mulanya dimodali dengan idukan kambing. Kambing yang dibagikan berasal dari dana ketahanan pangan desa.
"Beberapa masyarakat dikasih beberapa indukan 1-2 ekor, kalau sudah beranak-pinak itu mengembalikan lagi untuk dipinjamkan lagi ke masyarakat yang lain, seterusnya seperti itu," jelas dia.
Deka menyebut program peternakan kambing dan sapi ini berhasil meningkatkan perekonomian warga. Warga yang awalnya pengangguran, kini bisa menghasilkan uang melalui peternakan kambing.
"Yang jelas kan meningkatkan perekonomian masyarakat, tadinya nggak ada penghasilan lain, kan mayoritas di sini bertani, berkebun, dengan adanya program ini menambah penghasilan dari masyarakat, dan itu berputar terus, berkelanjutan terus," ucap dia.
Selain itu, Aiptu Fery juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan pelepah pohon pisang untuk diolah menjadi peci dan topi. UMKM yang dibina Aiptu Fery ini disebut juga mampu meningkatkan perekonomian warga.
"Pak Hery antusias banget dengan kegiatan yang di masyarakat itu, pokoknya nggak berat gitu lho, ringan tangan Pak Fery itu. Termasuk kerajinan pelapah kering pohon pisang kemarin masuk ke kabupaten itu," ujar Deka.
Deka menambahkan bahwa Aiptu Fery juga membuat program Bedangsanak sebagai upaya untuk mencegah bullying pada anak. Program ini dikemas dalam bentuk sosialisasi dan penyuluhan ke sekolah dan masjid.
"Saya lihat beberapa kali Pak Fery melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah maupun TK yang ada di Desa Uwie. Boleh ditanyakan ke masyarakat, siapa sih yang nggak kenal sama Pak Fery," ucap dia.
Aiptu Fery dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Bhabin yang akrab dengan warga. Menurut Deka, Aiptu Fery juga berupaya menyelesaikan setiap permasalahan warga.
"Beliau sama seluruh ketua RT, beliau dekat, ada permasalahan di tingkat RT pun beliau dampingin dulu, kalau bisa diselesaikan di lingkungan diselesaikan dulu, sangat dekat dengan masyarakat," ungkap Deka.
Gandeng Desa Bikin Program Peternakan KambingAiptu Fery sebelumnya juga menjadi kandidat Hoegeng Corner 2025. Aiptu Fery menjadi Bhabin di tiga desa, yakni Desa Binjau, Desa Uwie, Desa Santuun.
Aiptu Fery mulanya menjadi Bhabin di Desa Uwie sekitar 4 tahun yang lalu. Pada awal bertugas jadi Bhabin di Desa Uwie itu, dia berdiskusi dengan kepala desa mengenai ketahanan pangan.
"Di desa kan ada anggaran ketahanan pangan, waktu itu kita koordinasi dengan kepala desa, ada memakai anggaran itu buat beternak kambing," ujar Aiptu Fery dalam program Hoegeng Corner 2025, Kamis (13/11/2025).
Setelah musyawarah dilakukan, desa sepakat untuk membeli 20 kambing untuk dibagikan kepada warga. Aiptu Fery juga menggandeng pihak Dinas Peternakan agar program ini berjalan maksimal.
Indukan kambing itu dibagikan kepada warga. Beberapa kelompok dibentuk untuk memudahkan pembagian kambing.
"Nanti kalau beranak, induknya dimiliki sama ketua kelompok atau yang pertama memelihara anaknya dikembalikan ke desa, kemudian dibagikan ke masyarakat lagi," ujar dia.
Program peternakan kambing ini sudah berjalan lebih dari 3 tahun. Aiptu Fery menyebut 80 persen warga Desa Uwie adalah peternak kambing.
"Jadi sekarang ada 300-400 an (kambing) yang sudah dilaksanakan masyarakat. Sekarang jadi percontohan tingkat kabupaten sama provinsi kemarin," ujar dia.
Setiap minggunya, sekitar 30-50 kambing akan dijual dari peternak di Desa Uwie. Bahkan kambing ini ada yang dipasok ke Kalimantan Timur.
"Alhamdulillah bisa nambah ekonomi masyarakat. Sudah sejak 3 tahun yang lalu. Sekarang ini dikembangkan lagi sama sapi," ujar dia.
UMKM Kerajinan Peci dari Pelepah Pohon PisangProgram lainnya yang dibina Aiptu Fery adalah pemanfaatan pelepah pohon pisang untuk kerajinan peci dan topi. Program ini sudah berjalan sejak 2 tahun yang lalu.
"Saya belajar sama perajin, sama guru-guru di tsanawiyah. Habis itu ajak masyarakat untuk tambahan ekonomi. Sekarang ada berapa perajin peci. Alhamdulillah satu peci bisa Rp 80-90 ribu harganya," ujar dia.
Sejauh ini ada empat warga yang membuat kerajinan ini. Bahan baku utama dari kerajinan ini adalah pelepah pohon pisang yang dikeringkan.
"Kita ambil pelepahnya yang sudah kering. Pohonnya tetap tumbuh, kita manfaatkan yang sudah kering. Kita jemur lagi, habis itu baru kita bentuk kalau sudah kering," jelasnya.
Satu perajin disebut bisa memproduksi 3-4 tas atau peci dalam sehari. Biasanya per bulan sebanyak 25-30 peci terjual dan dipesan.
Bikin Program 'Bedangsanak' Cegah Bullying Anak
Aiptu Fery mengatakan masalah bullying remaja menjadi salah hal yang rawan di Kecamatan Muara Uya. Dia membuat program 'Bedangsanak' sebagai upaya polisi mendekatkan diri dengan anak-anak guna mencegah perundungan.
"Bedangsanak, bersaudara, seperti kita dianggap bersaudara, seperti kita dianggap saudara atau sahabat biar anak-anak nggak takut sama kita. Kadang anak-anak melihat polisi sejak kecil udah ditakut-takuti, misalnya 'kalau nggak makan ditangkap polisi', kita ingin mengubah stigma itu," ujar dia.
Aiptu Fery biasanya datang ke sekolah-sekolah hingga ke TPA untuk memberikan sosialisasi. Dia berupaya memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahaya bullying dan cara menghindarinya.
Dalam program Bedangsanak ini, Aiptu Fery juga memberikan pendampingan hukum kepada warga. Salah satu contohnya ada mendampingi warga yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
"Kadang-kadang misalnya ada kasus KDRT kita mendampingi juga, kayak kemarin baru ada, mohon maaf, anak-anak dipukuli orang tuanya, kita dampingi, alhamdulillah sampai ke persidangan, itu sedang persidangan," tutur dia.
Di Desa Santuun, Aiptu Fery membina petani kopi. Fery menyebut potensi kopi di Desa Santuun cukup bagus sehingga harus digarap dengan baik.
"Kemarin kita ajak masyarakat untuk mengembangkan kopi, karena dulu kan pernah tapi gagal, karena penjualannya sama promosinya kurang. Habis itu kita ajak sama-sama bekerja sama Dinas Pertanian dan Perhutanan di tingkat kabupaten untuk membantu pemasaran dan promosinya. Dan alhamdulillah sampai di Jakarta dan di-sample termasuk yang terbaik," kata Fery.
Aiptu Fery mengatakan perekonomian desa meningkat setelah pertanian kopi ini. Warga biasanya menjual kopi dalam bentuk buah yang baru dipetik, biji yang sudah kering hingga produk kopi yang sudah jadi.
"Sekarung sekitar 6 juta, ada yang 50 kg, ada yang 60 kg, tergantung jenis kopi, kan kopi yang masih mentah sudah dipetik, atau sudah dimasak, itu lain-lain harganya," ujar dia.
(lir/knv)





