Perkebunan pisang menyimpan peluang di bidang tekstil. Selama ini, batang pisang lebih sering dianggap sebagai limbah. Namun beberapa jenis pohon pisang memiliki batang yang bisa menjadi bahan untuk serat tekstil yang dihargai tinggi.
Dalam beberapa tahun belakangan, pelaku industri kerajinan, tekstil, dan fesyen mulai melirik serat pisang sebagai komoditas atau bahan baku potensial. Berbagai laporan riset pasar mencatat India telah berkembang menjadi eksportir terbesar serat pisang.
Mengacu pada World Population Review, India memang merupakan produsen pisang terbesar dunia, disusul Cina dan Indonesia. Pada 2024, India menghasilkan 37,6 juta ton pisang, sedangkan Cina 11,8 juta ton, dan Indonesia 9,3 juta ton. Negara-negara Amerika Latin seperti Brasil dan Ekuador juga tercatat sebagai produsen besar pisang.
Perusahaan asal India yang tercatat sebagai pemain besar di bisnis serat pisang antara lain yaitu Ban Fab Textiles India Private Limited. Perusahaan ini bergerak di bidang munufaktur dan ekspor produk tekstil, dengan spesialisasi tekstil dari serat pisang.
Lembaga riset pasar memberikan estimasi nilai yang beragam terkait nilai perdagangan serat pisang. Situs riset pasar Stratistics MRC memperkirakan, pasar global serat pisang bernilai sekitar US$1,8 miliar pada 2025 dan berpeluang meningkat menjadi US$3,5 miliar pada 2032. Beberapa lembaga riset lainnya memberikan estimasi nilai lebih dari dua kali lipatnya.
Pyratex, startup di bidang tekstil berkelanjutan yang berkantor pusat di Madrid, Spanyol dilaporkan pernah/telah memasok material berbasis serat pisang, murni dan campuran, ke beberapa perusahaan fesyen, termasuk merek fesyen premium: ganni. Pasar produk berbasis serat pisang memang masih "segmented" antara lain karena harganya yang lebih mahal dari serat sintetis.




