Pemerintah Klaim Ekspor Rotan Cirebon Belum Terpukul Geopolitik Global

bisnis.com
19 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, CIREBON - Ekspor furnitur rotan dari Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dinilai tetap bertahan di tengah tekanan geopolitik global yang memengaruhi perdagangan internasional. 

Meski terdapat dampak dari kebijakan tarif dan dinamika global, pengaruhnya disebut belum signifikan terhadap kinerja ekspor Cirebon.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Cirebon Suhartono mengatakan sektor rotan masih menunjukkan ketahanan dibandingkan komoditas lainnya. 

"Kalau pengaruh pasti ada, terutama dari sisi tarif dan kebijakan perdagangan global. Tapi untuk rotan, sejauh evaluasi kami, masih bertahan dan belum terdampak signifikan," kata Suhartono, Rabu (15/4/2026).

Dia menjelaskan, produk furnitur rotan asal Cirebon selama ini telah memiliki pasar yang cukup luas di berbagai kawasan dunia. Selain ke Eropa, ekspor juga menjangkau Asia, Australia, hingga Amerika Utara dan Amerika Selatan.

Menurut Suhartono, ketahanan ini tidak lepas dari posisi rotan sebagai salah satu komoditas unggulan daerah yang telah lama dikenal di pasar internasional.

Baca Juga

  • Kronologi Terbongkarnya Kasus Penyalahgunaan LPG dan BBM Subsidi di Indramayu
  • Ekspor Rotan ke Bulgaria Menjanjikan, Industri Cirebon Masih Hadapi PR Besar
  • Tekan Potensi Rugi Rp16 triliun, Bendungan Cibeet & Cijurey Dibidik Rampung 2028

Namun demikian, ia mengakui nilai ekspor furnitur rotan mengalami penurunan dalam jangka panjang, terutama jika dibandingkan dengan periode awal 2000.

"Memang kalau dilihat dari rentang waktu 2004 sampai 2025 ada penurunan nilai ekspor, khususnya untuk rotan dan furnitur. Itu menjadi evaluasi kami," katanya.

Untuk itu, pemerintah daerah kini berupaya memperkuat kembali sektor furnitur sebagai tulang punggung ekspor. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menjajaki peluang pasar baru, termasuk melalui kunjungan dagang ke sejumlah negara mitra, seperti Bulgaria.

Suhartono menyebut kerja sama antara Cirebon dan Bulgaria sebenarnya telah terjalin sejak 2010. Namun, dalam beberapa tahun terakhir hubungan dagang tersebut belum berkembang optimal sehingga perlu dihidupkan kembali.

"Kunjungan sebelumnya untuk menjajaki kemungkinan produk apa saja yang bisa diekspor ke Bulgaria. Fokusnya tetap ke furnitur, khususnya berbahan rotan," ujarnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan adanya tren peningkatan pada komoditas lain, seperti alas kaki. Dalam periode 2024 hingga 2025, nilai ekspor produk tersebut justru mengalami kenaikan.

Selain alas kaki, komoditas alat musik juga mulai menunjukkan potensi di pasar ekspor. Bahkan, menurut dia, pihak Bulgaria baru mengetahui bahwa terdapat alat musik asal Cirebon yang telah masuk ke negaranya.

"Itu menarik, karena ternyata sudah ada produk alat musik dari Cirebon yang diekspor ke Bulgaria, meskipun mungkin lewat jalur distribusi tidak langsung," ujarnya.

Suhartono menambahkan, kondisi geopolitik global tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai, terutama terkait perubahan kebijakan tarif dan hambatan perdagangan. Namun, sejauh ini pelaku industri rotan di Cirebon dinilai masih mampu beradaptasi.

"Pengaruhnya ada, tapi tidak terlalu besar. Industri rotan kita masih eksis dan bisa bertahan di pasar internasional," katanya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cara Cek Visa Haji 2026 untuk Calon Jemaah sebelum Keberangkatan, Jangan sampai Salah!
• 13 jam laludisway.id
thumb
Juwono Sudarsono dan Pentingnya Civilian Strategists untuk Indonesia
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
KPK Tunjukkan Barang Faizal Assegaf dari Tersangka Korupsi Bea Cukai: Mac Mini hingga Kamera Lumix
• 23 jam laluliputan6.com
thumb
Raffi Ahmad Terngiang Amanah Terkahir Jupe Usai Diminta Bantuan oleh Sang Ibu
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Selidiki Dugaan Pungli Perizinan, Kejaksaan Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.