PT Pertamina (Persero) mendorong pemanfaatan minyak jelantah atau Used Cooking Oil (UCO) sebagai bahan baku energi masa depan, khususnya untuk aviasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam mempercepat transisi energi, sekaligus mendukung target penurunan emisi karbon.
Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita menjelaskan pengembangan bahan bakar ramah lingkungan lewat Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi salah satu fokus ke depan. Bahan baku SAF tersebut salah satunya berasal dari minyak jelantah yang selama ini banyak dihasilkan rumah tangga.
“Cara kita bisa bergeser ke growth strategy yang lebih future oriented, yang lebih ramah lingkungan. Kita bikin Sustainable Aviation Fuel. Itu yang kita mix,” ujar Arya dalam acara Sustainability Champions, Kamis (16/4).
Arya mengatakan pemanfaatan minyak jelantah bukan hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di masyarakat. Minyak bekas pakai yang sebelumnya dianggap limbah kini memiliki nilai jual dan dapat dikumpulkan melalui berbagai titik pengumpulan.
“Seperti apa sih kita ke depan itu mengelola energi masa depan menggunakan minyak UCO. Jadi, ini para pencinta gorengan, Anda telah berjasa untuk keberlanjutan energi pesawat terbang. Ya, karena itu,” kata Arya.
Arya menuturkan tren global menunjukkan bahwa minyak jelantah kini menjadi komoditas yang diperebutkan karena potensinya sebagai bahan baku energi bersih. Di dalam negeri, Pertamina juga mulai menyediakan fasilitas pengumpulan UCO, termasuk di sejumlah SPBU.
“Dan ini menarik, karena teman-teman ternyata used cooking oil itu diperebutkan di luar sana. Jadi, ibu-ibu yang suka ngumpulin minyak jelantah, itu bisa dimiliki uang loh. Di Pom Bensin tuh ada corner yang untuk collecting UCO. Collecting unitnya itu ada, nah itu bisa jadi uang. Ada nilai ekonominya,” jelas Arya.
Lebih lanjut, Arya menekankan pengembangan energi baru dan terbarukan, termasuk SAF berbasis UCO, menjadi krusial untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika global. Gejolak geopolitik yang mempengaruhi pasokan dan harga energi fosil dinilai menjadi pengingat pentingnya diversifikasi energi.





