Kesadaran Ekologis Jadi Fondasi Transformasi Energi

tvrinews.com
12 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Hanifa Paramitha Siswanti

TVRINews, Bandung

Aisyiyah Boarding School (ABS) Bandung di Baleendah menunjukkan bagaimana perubahan perilaku dapat menjadi fondasi kuat bagi transisi energi dan gerakan lingkungan. Lingkungan sekolah yang bersih, rapi, dan hijau bukan sekadar citra, tetapi hasil pembiasaan ketat yang diterapkan setiap hari.

Tidak ada sampah berserakan di area sekolah. Tempat sampah terpilah tersedia di setiap sudut. Sekitar 10 kilogram sampah organik yang dihasilkan setiap hari langsung diolah dengan biodigester, sementara minyak jelantah dimanfaatkan kembali melalui kerja sama dengan pengepul. Sampah non-organik dikumpulkan bersama bank sampah.

ABS Bandung juga menerapkan aturan ketat: seluruh santriwati wajib membawa wadah makan dan tumbler pribadi. Kantin tidak akan melayani siswa yang tidak membawa piring sendiri.

Santriwati Kayyisa Deitra mengaku aturan tanpa plastik awalnya membuatnya terpaksa mengikuti. 

“Awalnya repot, tapi jadi terbiasa,” ujarnya. Ia menilai pembiasaan ini membentuk kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab pribadi.

Perubahan Perilaku Jadi Kunci

Kepala SMP ABS Bandung Fitma Fitria Iqlima menegaskan bahwa tantangan utama sekolah hijau bukan pada teknologi, melainkan pada disiplin warga sekolah.

“Yang sulit itu mengubah habit dulu sebelum teknologi masuk,” tegasnya.

Untuk menjaga kedisiplinan, ia membentuk Eco Ranger, kelompok siswa yang bertugas mengingatkan teman sebaya agar hemat air, tidak boros tisu, dan memahami dampak sampah.

Isu lingkungan juga disisipkan dalam berbagai mata pelajaran. Matematika digunakan untuk menghitung efisiensi energi, sementara IPA mengajak siswa membuat apotek hidup.

Desain Hemat Energi dan Tradisi Tanam Bibit

Desain bangunan ABS memaksimalkan cahaya matahari sehingga penggunaan listrik dapat ditekan.

“Ruangannya tidak banyak menggunakan lampu,” jelas Darojat dari tim sarpras.

Sekolah juga mewajibkan siswa baru membawa bibit tanaman untuk ditanam di area pesantren. Tanaman yang tumbuh besar kemudian dapat dihibahkan ke warga sekitar, membangun hubungan ekologis antara sekolah dan masyarakat.

Wakil Mudir Bidang Pendidikan Teguh Mulyadi menegaskan bahwa gerakan ini adalah bagian dari nilai ibadah.

“Menjaga alam adalah tanggung jawab moral dan spiritual. Kami ingin pesantren menjadi pionir solusi krisis iklim,” katanya.

ABS saat ini menyiapkan instalasi panel surya bersama Tim 1000 Cahaya dan Eco Bhinneka untuk mendukung irigasi otomatis di lahan pertanian sekolah.

Panduan Sekolah Hijau Mulai Mengakar

Rachminawati, penulis Islamic Green School dari PWA Jawa Barat, menyebut kurikulum lingkungan harus fleksibel dan mudah diterapkan.

“Yang penting adalah langkah awal yang konsisten,” ujarnya.

Amalia Nur Mila dari LLHPB PWA Jawa Barat menjelaskan bahwa delapan kebiasaan inti dalam buku panduan menjadi standar sekolah ramah lingkungan. Pelatihan guru menunjukkan peningkatan pemahaman signifikan, termasuk di Sukabumi dari 50% menjadi 76%.

ABS Bandung dan SD Aisyiyah Sukabumi kini menjadi sekolah percontohan. Monitoring dilakukan rutin, meliputi integrasi kurikulum, penggunaan panel surya, kerja sama bank sampah, hingga perubahan pola pikir warga sekolah.

Masjid Jadi Rumah Ibadah Ramah Lingkungan

Gerakan ini juga merambah masjid. Salim Rusli dari YPM Salman ITB menegaskan bahwa manusia sebagai khalifah wajib mengelola alam.

“Mengelola lingkungan adalah wujud kasih sayang kepada seluruh ciptaan,” ujarnya.

Masjid Salman ITB menerapkan daur ulang air wudu dan pemanenan air hujan. Teknologi ini dinilai penting menghadapi risiko krisis air bersih.

Dosen FTSL ITB Teddy Tedjakusuma menambahkan bahwa masjid dapat menjadi pusat riset dan penerapan teknologi ramah lingkungan.

Di Kabupaten Bandung, Masjid Peradaban Arjasari juga menerapkan panel surya, sistem daur ulang air, dan kolam tampungan air.

Dakwah Ekologis: Perubahan Dimulai dari Hal Kecil

Gerakan transisi energi di pesantren dan masjid membuktikan bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil membawa wadah makan, menanam bibit, hingga menghemat air.

Transformasi energi tidak hanya soal teknologi, tetapi perubahan pola pikir dan perilaku. Dengan disiplin dan pembiasaan, sekolah dan masjid di Jawa Barat menjadi pusat dakwah ekologis yang mendorong generasi muda menjaga bumi.

Gerakan ini menegaskan bahwa institusi pendidikan dan keagamaan dapat menjadi garda depan solusi krisis iklim, sekaligus membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Simulasi BCM di BRI BO Segitiga Senen Tingkatkan Kesiapan Hadapi Situasi Darurat
• 13 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Impor LPG Tembus 7 Juta Ton, Bahlil Akan Diversifikasi Sumber Pasokan
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
MUI Temui Dubes Saudi Bahas Konflik Timteng, Tegaskan RI Tolak Penjajahan
• 1 jam laludetik.com
thumb
3 Inovasi Kemenimipas di Haji 2026: Layanan Paspor Tiap Hari-Jemaah Minim Antre
• 21 jam laludetik.com
thumb
Cedera Ringan Sering Diabaikan? Ini Cara Tepat Menanganinya agar Cepat Pulih
• 1 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.