Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan kebutuhan LPG nasional hingga kini masih bergantung pada impor sekitar 7 juta ton per tahun. Katanya, pemerintah mulai melakukan diversifikasi sumber pasokan dan menjajaki dukungan dari mitra baru.
“Kita tahu bahwa LPG kita kurang lebih sekitar 7 juta ton setiap tahun kita mengimpor, dan sekarang kita melakukan diversifikasi dan Insya Allah kita juga akan mendapat dukungan,” kata Bahlil kepada awak media di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (16/4).
Kendati demikian, ia menyatakan proses diversifikasi tersebut masih memerlukan beberapa tahap lanjutan. “Tetapi yang ini masih butuh perjuangan, masih butuh komunikasi dua atau tiga tahap, tapi kalau mentah-nya saya pikir sudah, sudah hampir final,” ucap Bahlil.
Di sisi lain, Bahlil menyampaikan dalam memenuhi kebutuhan minyak mentah, pemerintah akan menerapkan pendekatan yang fleksibel dengan membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara. Saat ini kebutuhan minyak mentah nasional menyentuh 300 juta barel per tahun.
“Jadi semuanya kita ambil, mana yang menguntungkan untuk negara kita harus kita lakukan,” sebut Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil memastikan Indonesia segera mengimpor komoditas energi dari Amerika Serikat (AS) senilai USD 15 miliar. Rencana ini bagian dari hasil negosiasi tarif impor resiprokal.
“Salah satu yang menjadi komitmen pembicaraan kita untuk trade dengan pihak Amerika itu adalah kita akan membeli BBM sebesar USD 15 miliar. Itu terdiri dari LPG, kemudian dari crude-nya, kemudian dari BBM-nya, minyak jadinya,” katanya kepada awak media, dikutip Kamis (16/4).



