JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti masih tingginya ketimpangan ekonomi di Ibu Kota, meski sejumlah indikator makro menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif baik. Hal itu tercermin dari angka Gini Ratio Jakarta yang masih berada di kisaran 0,41.
Menurut Pramono, tingginya ketimpangan tersebut antara lain dipengaruhi oleh konsentrasi kepemilikan aset dan dana besar yang tersimpan di Jakarta, meskipun pemiliknya tidak seluruhnya berdomisili di ibu kota.
“Hampir semua uang-uang besar itu dimiliki oleh orang-orang Jakarta walaupun mungkin tinggalnya ada yang di Surabaya, di Bali, dan sebagainya. Tetapi rata-rata mereka menaruh uangnya ataupun distribusinya itu ada di Jakarta,” ucap Pramono saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Balai Kota, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Pramono Sebut Naming Rights Halte Jadi Sumber Duit Baru Pemprov DKI
Pramono menjelaskan, secara umum kondisi ekonomi Jakarta menunjukkan tren positif. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,21 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Selain itu, tingkat pengangguran dan kemiskinan juga mengalami penurunan, sementara inflasi tetap terkendali.
Namun, ia menilai pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.
“Ini yang jadi masalah utama, ketimpangan masih tinggi,” ujarnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menitikberatkan kebijakan pada pemerataan ekonomi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mempertahankan program bantuan sosial dan pendidikan.
Pramono menegaskan, program Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) tidak akan mengalami perubahan.
Menurut dia, sektor pendidikan menjadi kunci utama untuk menekan ketimpangan ekonomi dan meningkatkan mobilitas sosial masyarakat.
“Kalau mau mengurangi ketimpangan, kuncinya ada di pendidikan,” jelasnya.
Ke depan, Pramono menekankan, Jakarta tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh warga.
Baca juga: Jarang Disorot, Kepulauan Seribu Disebut Pramono Jadi Masa Depan Jakarta
Ia pun meminta jajarannya untuk tidak hanya berfokus pada angka pertumbuhan, melainkan juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Pertumbuhan penting, tapi pemerataan juga harus jadi perhatian,” kata dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




