EtIndonesia. Pada Selasa (14 April), blokade militer AS di Selat Hormuz memasuki hari kedua. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan dengan tegas bahwa pihaknya akan menanggapi “terorisme ekonomi” Iran dengan prinsip “timbal balik”. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengungkapkan bahwa kedua pihak kemungkinan akan melanjutkan perundingan di Pakistan, dengan tujuan utama melarang Iran secara permanen memiliki senjata nuklir.
Sementara itu, sejumlah sumber dari kalangan intelijen mengungkap bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba, diduga telah meninggal dunia setelah serangan, atau setidaknya kehilangan kemampuan bertindak, yang mana menyebabkan kegagalan pengambilan keputusan di Teheran serta meningkatnya konflik internal.
Lebih dari 10.000 Tentara AS Blokade Selat, Trump: Negosiasi Bisa Dimulai Lagi dalam Dua HariHari Selasa merupakan hari kedua blokade Selat Hormuz oleh militer AS. Komando Pusat AS menyatakan bahwa lebih dari 10.000 personel dari Angkatan Laut, Marinir, dan Angkatan Udara AS, bersama belasan kapal perang dan puluhan pesawat, sedang menjalankan misi memblokade kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran.
Dalam 24 jam pertama, tidak ada satu pun kapal yang berhasil menembus blokade AS. Enam kapal dagang telah mengikuti instruksi militer AS untuk berbalik arah dan kembali ke pelabuhan Iran di Teluk Oman.
“Iran pada dasarnya mengancam semua kapal yang melewati Selat Hormuz. Seperti yang disampaikan Presiden AS, permainan ini juga bisa kami lakukan. Jika Iran mencoba melakukan terorisme ekonomi, kami akan mengikuti prinsip sederhana: tidak ada kapal Iran yang boleh keluar,” kata JD Vance.
Vance menambahkan bahwa langkah ini merupakan kartu tekanan ekonomi penting bagi AS terhadap Iran, sementara arah negosiasi selanjutnya akan bergantung pada sikap Iran.
Presiden Trump pada Selasa mengatakan kepada New York Post bahwa AS dan Iran kemungkinan akan mengadakan putaran baru perundingan di Pakistan dalam dua hari ke depan. Ia menegaskan bahwa tujuannya adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir, bukan hanya dibatasi selama 20 tahun.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari yang sama juga merilis foto delegasi Iran saat menghadiri perundingan dengan AS pada akhir pekan lalu.
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (13 April), Vance juga mengungkap salah satu alasan kegagalan perundingan, yaitu tidak ada pihak dari Iran yang memiliki wewenang untuk mengambil keputusan akhir.
“Mereka harus kembali ke Teheran, untuk mendapatkan persetujuan dari Pemimpin Tertinggi atau pihak lain, sebelum bisa menerima syarat yang kami ajukan,” katanya.
Kabar Mengejutkan: Pemimpin Tertinggi Mojtaba Diduga Tewas, Iran Tutup InformasiSelain itu, beberapa sumber dari kalangan intelijen mengungkap bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba, diduga telah meninggal saat menjalani perawatan akibat luka berat, namun pihak berwenang menutup rapat informasi tersebut. Hingga kini, kebenaran kabar tersebut belum dapat dikonfirmasi.
Namun, surat kabar Inggris The Times pekan lalu mengutip memo diplomatik berdasarkan intelijen AS dan Israel yang menyebutkan bahwa Mojtaba mengalami luka parah akibat serangan udara AS dan Israel, berada dalam kondisi koma, kehilangan kemampuan bertindak, dan tidak dapat berpartisipasi dalam pengambilan keputusan pemerintahan.
Hal ini tampaknya sejalan dengan laporan sebelumnya dari media Iran dan Israel yang menggambarkan kondisi pemerintahan Iran mengalami disfungsi, konflik internal yang serius, serta campur tangan keras dari Komandan Garda Revolusi, Vahidi, dalam negosiasi dengan AS.
Dilaporkan oleh reporter NTD, Yi Jing.





