Mengapa Salah Pilih Terus Berulang?

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Fenomena banyaknya pejabat publik yang terjerat operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bukan sekadar kabar hukum yang datang dan pergi di layar gawai. Ia adalah alarm keras tentang hancurnya kualitas demokrasi kita. Kasus terbaru di Tulungagung yang menyeret Gatut Sunu Wibowo menambah daftar panjang ironi yang berulang.

Seorang pemimpin yang dipilih melalui suara mayoritas justru berakhir sebagai tersangka korupsi. Padahal, kemenangan dengan 50,7 persen suara semestinya menjadi simbol kepercayaan publik yang kuat. Namun, kepercayaan itu tampak begitu mudah runtuh ketika kekuasaan digunakan bukan untuk melayani, melainkan untuk memperkaya diri.

Fenomena ini bukan kasus tunggal, melainkan pola yang berulang dari waktu ke waktu. Setiap musim pemilu, harapan publik selalu diperbarui, tetapi sering kali berujung pada kekecewaan yang sama. Kita seperti terjebak dalam siklus: memilih, berharap, lalu kecewa. Dalam konteks ini, demokrasi tidak lagi terasa sebagai proses seleksi terbaik, melainkan seperti undian yang hasilnya sulit diprediksi. Yang lebih mengkhawatirkan, publik perlahan menjadi kebal terhadap kabar korupsi, seolah itu sudah menjadi bagian dari rutinitas politik.

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan lagi “siapa yang korup,” melainkan “mengapa kita terus memilih orang yang salah?” Apakah ini akibat rendahnya literasi politik? Apakah kemiskinan membuat suara rakyat mudah ditukar dengan uang? Atau justru ada yang keliru dalam sistem demokrasi kita sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan emosi atau stigma. Ia membutuhkan kejujuran intelektual dan keberanian untuk mengakui bahwa masalahnya bersifat struktural sekaligus kultural.

Demokrasi dan Ilusi Pilihan Rasional

Dalam teori demokrasi klasik, pemilih diasumsikan rasional. Mereka memilih berdasarkan rekam jejak, kapasitas, dan integritas kandidat. Namun dalam praktiknya, asumsi ini sering kali runtuh di lapangan. Pilihan politik kerap dipengaruhi oleh faktor nonrasional seperti popularitas, pencitraan, hingga tekanan sosial. Politik uang juga masih menjadi variabel kuat yang sulit diabaikan. Dalam situasi seperti ini, yang muncul bukan keputusan rasional, melainkan “ilusi kebenaran”—sebuah keyakinan bahwa pilihan sudah tepat, padahal dibangun di atas informasi yang rapuh.

Laporan dari Transparency International menunjukkan bahwa korupsi politik sering berakar dari proses elektoral yang mahal dan tidak transparan. Kandidat yang mengeluarkan biaya besar saat kampanye cenderung mencari cara untuk mengembalikan modal setelah berkuasa. Ini menjelaskan mengapa banyak pejabat baru yang belum lama menjabat sudah terseret kasus korupsi. Artinya, korupsi bukan sekadar penyimpangan individu, tetapi bagian dari rantai panjang yang dimulai sejak masa kampanye. Dalam kerangka ini, pemilu yang tidak bersih akan melahirkan pemerintahan yang juga tidak bersih.

Di sisi lain, rendahnya literasi sosial-politik memperparah keadaan. Banyak pemilih tidak memiliki akses memadai untuk mengecek rekam jejak kandidat secara kritis. Informasi yang beredar di media sosial sering kali tidak terverifikasi, bahkan sengaja dimanipulasi. Akibatnya, pilihan politik lebih banyak didasarkan pada persepsi daripada fakta. Demokrasi pun berubah menjadi sekadar ritual lima tahunan, bukan mekanisme seleksi kepemimpinan yang berkualitas. Ketika ini terjadi, hasil pemilu tidak lagi mencerminkan kualitas terbaik, melainkan sekadar hasil dari permainan persepsi.

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kasus korupsi melibatkan berbagai level kekuasaan, dari daerah hingga pusat. Gatut Sunu Wibowo menjadi contoh terbaru bagaimana legitimasi elektoral tidak menjamin integritas moral. Hal serupa terlihat pada Abdul Gani Kasuba yang terseret kasus suap proyek infrastruktur. Kasus ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan daerah bisa berubah menjadi arena transaksi politik. Sementara itu, Syahrul Yasin Limpo menunjukkan bahwa praktik korupsi juga menjalar hingga tingkat kementerian.

Fenomena ini tidak berhenti di situ. Rafael Alun Trisambodo membuka mata publik tentang gaya hidup pejabat yang tidak sejalan dengan penghasilan resmi. Ridwan Mukti menjadi contoh klasik kepala daerah yang terjebak dalam korupsi proyek infrastruktur. Kasus Budi Said menunjukkan adanya kolaborasi antara sektor bisnis dan kekuasaan. Sementara itu, Karen Agustiawan menegaskan bahwa BUMN pun tidak kebal dari praktik korupsi berskala besar.

Rangkaian kasus ini mengindikasikan satu hal penting: korupsi bukan anomali, melainkan gejala sistemik. Ia muncul karena ada celah dalam sistem politik, ekonomi, dan sosial yang memungkinkan praktik itu terjadi. Ketika biaya politik tinggi, pengawasan lemah, dan budaya permisif berkembang, maka korupsi menjadi konsekuensi yang hampir tak terhindarkan. Dalam konteks ini, memilih pemimpin tidak cukup hanya melihat figur, tetapi juga harus memahami sistem yang melingkupinya.

Menyalahkan rakyat sebagai “bodoh” jelas bukan solusi, bahkan berbahaya. Masalah ini jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan individu dalam memilih. Faktor ekonomi memainkan peran penting, terutama dalam praktik politik uang. Bagi sebagian masyarakat, uang yang diberikan saat pemilu bisa menjadi kebutuhan mendesak yang sulit ditolak. Di sisi lain, sistem politik yang mahal mendorong kandidat mencari sumber dana besar yang berpotensi membuka jalan korupsi.

Namun, bukan berarti pemilih bebas dari tanggung jawab. Demokrasi menuntut kedewasaan moral dan intelektual. Memilih pemimpin bukan sekadar hak, tetapi juga tanggung jawab etis terhadap masa depan bersama. Ketika pilihan didasarkan pada uang atau sentimen sempit, maka hasilnya adalah kepemimpinan yang rapuh. Dalam hal ini, kualitas pemimpin tidak bisa dilepaskan dari kualitas pilihan rakyatnya.

Menurut World Bank, kualitas institusi publik sangat dipengaruhi oleh kualitas partisipasi warga. Artinya, demokrasi yang sehat hanya mungkin jika masyarakat memiliki literasi politik yang memadai. Pendidikan politik menjadi kunci, baik melalui sekolah, media, maupun ruang publik lainnya. Transparansi informasi kandidat juga harus diperkuat agar publik dapat membuat keputusan yang lebih rasional.

Kita benar dalam memilih pemimpin ketika keputusan diambil secara sadar, kritis, dan berbasis integritas. Bukan karena popularitas, bukan karena janji, apalagi karena uang. Pemilu seharusnya dipahami sebagai proses menentukan arah masa depan, bukan sekadar rutinitas lima tahunan. Jika kita ingin pemimpin yang bersih, proses memilihnya juga harus bersih. Di titik itulah demokrasi menemukan maknanya, dan kita benar-benar bisa mengatakan: pilihan kita tidak lagi sekadar sah, tetapi juga benar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Respons Iran atas Kedatangan Komandan AD Pakistan yang Sampaikan Pesan AS
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Thomas Ramdhan Dikabarkan Bakal Hengkang, GIGI Pastikan Masih Solid
• 39 menit lalurealita.co
thumb
Seluruh Kades dan Camat di Jabar Mohon Bersiap, Dedi Mulyadi Siapkan Surat Edaran Gubernur: Tidak Bermaksud Batasi Hak
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Film Kupilih Jalur Langit Disorot, Dari Storytelling Kuat hingga Dukungan Pemerintah
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dubes Faisal Pastikan Kondisi Saudi Aman, Jadwal Haji 2026 Sesuai Rencana
• 2 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.