PT Singaraja Putra Tbk (SINI), emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Happy Hapsoro, berencana melakukan aksi korporasi besar melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau right issue. Dana hasil aksi ini akan digunakan untuk mengakuisisi perusahaan tambang batu bara, PT Kemilau Mulia Sakti (KMS), dari PT Petrosea Tbk (PTRO).
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis Kamis (16/4), SINI menargetkan mengakuisisi sebanyak 507.380.875 saham KMS atau setara 99,99 persen kepemilikan dengan nilai transaksi mencapai Rp 1,73 triliun.
Transaksi tersebut telah diikat melalui Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PPJB) tertanggal 15 April 2026. SINI bertindak sebagai pembeli dan PTRO sebagai penjual.
Right Issue untuk Biayai AkuisisiDalam aksi right issue ini, perseroan berencana menerbitkan maksimal 721,5 juta saham baru dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp 5.000 per saham, potensi dana yang dihimpun mencapai sekitar Rp 3,6 triliun.
Dana tersebut akan digunakan untuk tiga tujuan utama yaitu akuisisi KMS, pelunasan sebagian utang, dan modal kerja perseroan.
Manajemen menilai langkah ini akan memperkuat struktur permodalan, meningkatkan likuiditas, serta memperbaiki rasio keuangan perusahaan.
Nilai akuisisi KMS setara 110,27 persen dari total aset SINI, sehingga dikategorikan sebagai transaksi material. Selain itu, transaksi ini juga tergolong sebagai transaksi afiliasi karena adanya keterkaitan antara SINI dan PTRO.
Meski demikian, perseroan menegaskan tidak terdapat benturan kepentingan dalam transaksi tersebut. Aksi ini tetap mensyaratkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), khususnya dari pemegang saham independen.
Ekspansi ke Sektor Batu BaraLangkah akuisisi ini merupakan bagian dari strategi SINI untuk memperluas portofolio bisnis ke sektor pertambangan batu bara. Manajemen melihat prospek industri batu bara masih positif, didorong permintaan global yang stabil, terutama dari Asia, serta kebutuhan listrik domestik yang terus meningkat.
“Perseroan berencana untuk menambah dan meningkatkan investasi pada perusahaan yang bergerak pada bidang usaha pertambangan batu bara,” tulis manajemen.
Jika right issue terealisasi, total aset perseroan diproyeksikan melonjak menjadi sekitar Rp 4 triliun, dari sebelumnya Rp 1,56 triliun. Ekuitas juga diperkirakan berbalik dari negatif menjadi positif. Namun, perseroan mengingatkan adanya potensi dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi HMETD.
“Persentase kepemilikan saham akan terdilusi secara proporsional,” tulis manajemen.




