Grid.ID - Selebgram Clara Shinta mengungkap kondisi mental yang sempat terguncang setelah mengetahui adanya perselingkuhan dalam rumah tangganya. Meski demikian, ia mengaku masih mampu mengendalikan diri dan berusaha menenangkan emosinya di tengah situasi yang tidak mudah.
Hal tersebut disampaikan Clara saat ditemui di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (16/4/2026). Ia menjelaskan bahwa pengetahuannya di bidang psikologi cukup membantunya dalam menghadapi tekanan emosional yang muncul.
"Kalau psikolog saya rasa karena saya memang ada pernah belajar tentang psikolog, saya itu bisa berupaya menenangkan diri saya sejauh ini," ujar Clara Shinta di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur pada Kamis (16/4/2026).
Meski terlihat tegar, Clara tidak menampik bahwa dirinya masih kerap mengalami momen sulit, terutama pada waktu-waktu tertentu. Ia mengungkapkan bahwa ingatan terhadap kejadian tersebut sering kali muncul kembali, khususnya saat malam hari.
"Tapi kayaknya kadang-kadang kalau udah malam gitu mulai ke-trigger gitu loh kayak aduh ingat lagi itu kayaknya saya hampir mau ke sana ini kayaknya nih gitu," ujarnya.
Kendati demikian, Clara menegaskan bahwa hingga saat ini ia masih mampu mengontrol emosinya dan belum sampai kehilangan kendali. Namun, ia mengakui bahwa secara mental dirinya tetap mengalami guncangan yang cukup besar.
"Tapi belum sih, so far masih bisa menenangkan diri sendiri tapi mental tuh guncang banget pastinya," ujarnya.
Lebih lanjut, Clara mengungkapkan bahwa perasaan pertama yang muncul saat mengetahui perselingkuhan tersebut bukanlah kemarahan atau kecemburuan yang besar, melainkan rasa kecewa dan penyesalan. Ia menyayangkan hubungan yang telah dibangun dengan penuh usaha harus mengalami keretakan.
"Iya, pertama tuh setelah mengetahui kejadian itu tuh yang saya rasakan itu cemburu tuh enggak terlalu besar, cuma menyayangkan waduh ini sudah banyak banget effort kan menuju ke rumah tangga itu sudah sangat banyak sekali effort," tuturnya.
Ia juga mengenang berbagai proses panjang yang telah dilalui bersama pasangannya, mulai dari perjalanan spiritual hingga momen pernikahan yang berlangsung dengan penuh kebahagiaan dan dihadiri kedua keluarga.
"Kayak beliau mualaf, beliau belajar tentang agama Islam, terus juga pernikahannya mewah, terus juga dihadiri dengan kedua keluarga yang pada saat pernikahan sebelumnya beliau dan saya itu tuh tidak sekomplet ini karena memang ya adalah problem internal keluarga," katanya.
Bagi Clara, seluruh proses tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan hidup yang seharusnya menjadi fondasi kuat dalam membangun rumah tangga. Oleh karena itu, ia merasa sangat disayangkan ketika hubungan tersebut harus mengalami keretakan akibat kehadiran pihak ketiga.
"Menyayangkan aja sih bisa apa ya jadi kayak retak hanya karena adanya perempuan lain gitu," ujarnya.(*)
Artikel Asli




