Netanyahu Masih Terus Serang Lebanon, Motivasi Politik jelang Pemilu Israel?

katadata.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu masih melanjutkan operasi di Lebanon meski Amerika Serikat dan Iran memberikan sinyal akan berdialog. Sorotan juga muncul atas dugaan motivasi Netanyahu untuk membombardir Lebanon selatan.

Analis  Timur Tengah, Ori Goldberg dalam opininya di Al Jazeera mengatakan pencegahan invasi Hizbullah dari utara Israel adalah satu-satunya janji politik yang kemungkinan bisa dipenuhi Netanyahu kepada para pemilih.

Menurut Golberg, menghantam Hizbullah adalah satu-satunya kesempatan Netanyahu untuk mengklaim kemenangan. Ini setelah Iran lepas dari bidikannya karena berurusan dengan Amerika Serikat.

"Netanyahu ingin menjadi pemimpin yang berperang dalam perang terpanjang dalam sejarah Israel dan muncul sebagai pemenang yang jelas dan mutlak," kata Ori Gooldberg dalam opininya di Al Jazeera, Kamis (16/4).

Menurut Goldberg, Netanyahu menyasar Lebanon karena memiliki militer yang relatif lebih lemah ketimbang Iran. Lebanon juga kerap disibukkan persaingan kekuatan antara umat Kristen, Muslim Sunni, serta Syiah.

"Alasan tersebut sebagian besar berputar di sekitar pertimbangan politik domestik Israel dan kebutuhan mendesak untuk meraih kemenangan di tengah kegagalan yang dramatis," katanya.

Asap membumbung pasca-serangan Israel di pinggiran kota Beirut, Lebanon pada Selasa (12/3) (Antara/Xinhua)

Menurut Goldberg, retorika Israel tentang perang di Lebanon sederhana karena telah berperang dengan Hizbullah sejak 1982. Operasi yang sedang berlangsung saat ini telah berlangsung selama 20 tahun.

Apalagi menurutnya, pemerintahan Netanyahu telah gagal menjamin keamanan bagi warganya, dalam arti mencapai kemenangan efektif apa pun melawan Hamas atau Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sedang bernegosiasi langsung dengan Iran. Trump kemungkinan besar tak akan menerima saran apa pun dari Israel karena gagal untuk meraih kemenangan cepat melawan Iran.

Dengan memilih total untuk menggempur Lebanon, maka Netanyahu dapat memastikan dirinya terpilih lagi dalam Pemilu Israel pada Oktober 2026 mendatang.

"Dan warga Israel dapat kembali ke pertikaian internal favorit mereka antara "liberal" dan "messianis"," kata Goldberg.

Sejak bulan lalu, pakar memperkirakan Netanyahu akan percaya diri secara politik jika dapat menang dengan cepat atas Iran. Meski demikian, skenario itu sulit terwujud karena Iran tidak juga tumbang dan perang semakin meluas.

Perang semakin mengacaukan ekonomi global. Sedangkan, masyarakat AS, terutama beberapa kelompok Republikan mulai menuduh Israel menyeret Negeri Abang Sam ke perang yang tidak perlu.

Tak hanya itu, jajak pendapat di Israel menunjukkan bahwa meski mayoritas warga Israel mendukung perang, koalisi Netanyahu kemungkinan tak akan mendapatkan keuntungan elektoral.

Dalam beberapa penjaringan opini, Partai Likud yang dipimpin Netanyahu masih berada di peringkat pertama. Meski demikian, partai besutan oposisi, Naftali Bennett yakni Bennett 2026 terus menempel Likud.

"Dia (Netanyahu) lebih memilih untuk mengulur waktu dan menggunakan seluruh masa jabatan yang tersedia baginya,” kata Presiden Institut Demokrasi Israel Yohanan Plesner pada 21 Maret 2026 lalu, dikutip dari Associated Press.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menlu Berangkat ke Turki Besok, Bakal Hadiri Antalya Diplomacy Forum
• 11 jam laludetik.com
thumb
Profil dan Riwayat Pendidikan Ketua Ombudsman Hery Susanto, Jebolan Doktor UNJ yang Ditangkap Kejagung
• 14 jam laludisway.id
thumb
Harga Emas Dunia Hari Ini Menguat Stabil, Peluang Menuju USD5.005 Terbuka
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Shenina Cinnamon Umumkan Kehamilan Pertama, Ungkap Perjuangan Berat Hadapi Hyperemesis Gravidarum
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Cara Daftar Manajer Koperasi Merah Putih, Simak Link dan Alurnya
• 10 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.